Mengenal InaEEWS, Sistem Peringatan Dini Gempa BMKG

BMKG mengembangkan InaEEWS untuk memberi peringatan dini sebelum guncangan terasa, sehingga masyarakat di wilayah berisiko punya waktu melakukan tindakan penyelamatan diri.
Sistem memakai sensor untuk mendeteksi gelombang P, menganalisis potensi dampak, lalu mengirim notifikasi melalui kanal seperti aplikasi jika estimasi guncangan mencapai MMI IV.
InaEEWS masih terbatas di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta; notifikasi dapat tidak muncul akibat guncangan di bawah MMI IV, blind zone, atau masalah ponsel dan jaringan.
Take a Deeper Reads

Jakarta, IDN Times – Gempa bumi sering kali terjadi tanpa bisa diprediksi secara pasti. Saat ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengembangkan sistem Indonesia Earthquake Early Warning System (InaEEWS), agar masyarakat bisa mendapatkan peringatan dini beberapa saat sebelum guncangan gempa terasa.
InaEEWS merupakan layanan peringatan dini gempa bumi yang dirancang agar masyarakat di wilayah berisiko dapat melakukan tindakan penyelamatan diri sebelum guncangan gempa dirasakan.
Lantas, bagaimana sistem ini bekerja? Berikut penjelasannya.
1. Sensor mendeteksi gelombang awal dan mengirim peringatan

ilustrasi peringatan dini bencana di Jepang (unsplash.com/Emmanuel Ikwuegbu) InaEEWS bekerja dengan memanfaatkan sensor gempa yang tersebar di sejumlah wilayah. Sesaat setelah gempa terjadi, sensor terdekat akan mendeteksi gelombang awal gempa (P-wave).
Setelah menerima data dari sensor, sistem akan segera menganalisis sejumlah parameter gempa untuk mengestimasi kekuatan dan dampak gempa yang berpotensi dirasakan masyarakat.
Jika estimasi dampak gempa memenuhi ambang batas guncangan yang ditentukan yaitu MMI IV, sistem akan mengirimkan peringatan dini kepada penerima yang disampaikan melalui berbagai saluran, seperti InaEEWS Mobile App
Penerima yang berada di wilayah yang berpotensi terdampak dapat memperoleh peringatan sebelum guncangan gempa dirasakan. Dengan begitu, masyarakat memiliki waktu untuk melakukan tindakan penyelamatan diri.
2. Layanan InaEEWS masih dikembangkan secara bertahap

ilustrasi sistem informasi geografis (unsplash.com/Tobias) Saat ini, pengembangan InaEEWS masih beroperasi secara terbatas, yakni di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta. Wilayah tersebut dipilih karena memiliki kepadatan sensor dan jaringan komunikasi yang dinilai sudah memadai.
BMKG menyatakan akan melakukan evaluasi dan pengembangan secara bertahap agar layanan InaEEWS dapat diperluas hingga beroperasi di seluruh wilayah Indonesia.
3. BMKG jelaskan jika InaEEWS tidak memberikan sinyal peringatan

Ilustrasi menyalakan fitur mode pesawat saat di area susah sinyal atau saat traveling (Pexels.com/Vlada Karpovich) BMKG menjelaskan alasan InaEEWS tidak memberikan notifikasi peringatan dini kepada penerima.
Pertama, gempa bumi yang terjadi tidak memenuhi syarat minimal guncangan yaitu kurang dari MMI IV. Kemudian pada saat guncangan terjadi, penerima berada di wilayah blind zone (zona buta) sehingga peringatan dini terlambat diterima. Terakhir, tidak masuknya notifikasi karena terdapat permasalahan pengaturan atau jaringan di ponsel penerima.
BMKG juga imbau masyarakat agar segera melakukan aksi penyelamatan jika terasa guncangan, meskipun belum menerima peringatan dari InaEEWS.

















