Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Musim Hujan 2026/2027 Tiba, BNPB Wanti-wanti 253 Daerah Rawan Banjir
Ilustrasi musim hujan (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
  • BNPB memperkirakan puncak musim hujan 2026/2027 berbeda antarwilayah dan memperingatkan 253 kabupaten/kota rawan banjir serta 202 kabupaten/kota berpotensi longsor.

  • BNPB meminta pemerintah daerah memperbarui rencana kontinjensi, jalur evakuasi, peringatan dini, dan logistik, serta mengaktifkan posko, perahu karet, tim reaksi cepat, dan pemantauan sungai.

  • Sembilan daerah masih mengalami kekeringan; pemerintah menangani kebutuhan air melalui tandon, sumur bor, sumber alternatif, embung, dan penampungan air hujan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan pada akhir 2026 ini hujan sudah mulai turun di sejumlah daerah. Puncak musim hujan di Pulau Jawa diperkirakan terjadi pada Januari 2026 hingga Februari 2027.

Sedangkan, di Pulau Kalimantan, puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Januari 2027 hingga Maret 2027. Pulau Sumatra akan diguyur hujan deras pada periode Desember 2026 hingga Januari 2027.

Kini yang menjadi kekhawatiran terjadi banjir pada puncak musim hujan. BNPB memperkirakan ada 253 daerah yang rawan terhadap banjir. Sedangkan, 202 kabupaten atau kota rawan diterjang longsor di puncak musim hujan.

"Di Jawa ada 50 kabupaten atau kota yang rawan banjir, di Kalimantan ada 26 kabupaten yang berpotensi banjir, di Sulawesi ada 41 kabupaten atau kota yang rawan banjir hingga 17 kabupaten di Papua yang rawan banjir. Sehingga, secara jumlah dapat kami sampaikan pada akhir tahun ini hingga awal tahun depan, ada 253 kabupaten atau kota yang berpotensi terjadi banjir," ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan seperti dikutip dari YouTube BNPB pada Rabu (28/10/2026).

"Secara historis, jumlah kabupaten atau kota yang berpotensi longsor, dapat terjadi di 202 kabupaten atau kota," imbuhnya.

Ia pun mengimbau warga untuk waspada ketika hujan mulai turun dan terjadi dalam waktu lama. Warga diminta melakukan langkah-langkah siap siaga, salah satunya dengan meninggalkan daerah yang berpotensi terjadi longsor.

"Atau bila terjadi banjir, bisa pergi ke lokasi yang lebih tinggi," tutur dia.

1. BNPB dorong pemda mulai aktifkan rencana aksi musim hujan pada November

Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) mewanti-wanti 253 daerah rawan banjir. (Tangkapan layar YouTube BNPB)

Lebih lanjut, kata Berton, pihaknya mendorong pemda untuk menyiapkan diri lebih awal dalam menghadapi musim hujan. Khusus di Pulau Sumatra dan Kalimantan, puncak musim hujan jatuh di bulan Desember dan Januari 2027.

"Sehingga, mulai sekarang pastikan kesiapsiagaan di wilayah-wilayah yang rawan banjir. Rencana kontijensi dan skenario perlu diperbarui. Peran instansi perlu dirapatkan, jalur evakuasi perlu dilihat apakah masih memungkinkan untuk diperbarui," ungkap Berton.

Selain itu, peringatan dini hingga di desa, dinilai Berton menjadi penting. Logistik pun juga perlu dihitung ulang. Apakah saat ini stok di gudang daerah dianggap masih cukup.

"Membandingkan stok yang ada dengan kebutuhan pengungsi selama satu musim penuh lalu segera lengkapi kekurangannya," tutur dia.

2. BNPB imbau lereng bekas terbakar di Jatim dan Jateng perlu dipantau

Kondisi karhutla di Gunung Arjuno. (Dok. BPBD Kabupaten Malang)

Poin lain yang disampaikan oleh BNPB dalam persiapan memasuki puncak musim hujan yakni imbauan agar lereng gunung yang sempat terbakar di Jawa Tengah dan Jawa Timur dipantau secara ketat. Sebab, lereng yang sempat mengalami kebakaran itu mudah memicu terjadinya banjir bandang.

"Apakah sudah ada retakan atau tidak di bekas area yang terbakar. Jumlah vegetasi menjadi alternatif menjadi car kita memantau sedini mungkin kejadian longsor atau banjir bandang di daerah tersebut," kata Berton.

Selain itu, semua pihak mulai harus melakukan siaga lapangan antara lain dengan mengaktifkan posko, perahu karet, tim reaksi cepat, pemantauan tinggi muka air di sungai-sungai hingga pengecekan ketersediaan dapur sebelum memasuki musim hujan.

3. BNPB mengungkap 9 daerah mengalami bencana kekeringan

Warga serbu bantuan air bersih di musim kemarau panjang di Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)

Sebelum memasuki puncak musim hujan pada penghujung tahun 2026, BNPB masih menerima laporan adanya 9 daerah yang mengalami bencana kekeringan. Daerah-daerah tersebut yakni di Kabupaten Bogor, Boyolali, Pekalongan, Sragen, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Jombang dan Kabupaten Bone.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemda dan pemerintah pusat terus melakukan sejumlah upaya penanganan baik dari sisi pemenuhan kebutuhan dasar seperti penyediaan tandon atau bak penampung, pemanfaatan sumur bor dan sumber air alternatif, pembangunan embung serta penampungan air hujan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article