Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hujan Deras Bukan Pertanda El Nino Berakhir, Waspada Cuaca Ekstrem!

3 min read
Hujan Deras Bukan Pertanda El Nino Berakhir, Waspada Cuaca Ekstrem!
Ilustrasi Hujan (IDN Times/Sunariyah)
  • Daryono menegaskan hujan deras menjelang November tidak menandakan El Niño berakhir, karena fenomena iklim musiman ini dapat terjadi bersamaan dengan hujan lokal dan regional.

  • Wilayah yang masih kering tetap perlu mengantisipasi kekeringan serta karhutla, sementara daerah yang mulai diguyur hujan perlu siaga banjir, longsor, dan cuaca ekstrem.

  • Hujan lebat dan angin kencang berkaitan dengan awan Cumulonimbus; arus udara turun dapat berkembang menjadi downburst yang berpotensi menumbangkan pohon dan merusak bangunan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menekankan hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah Indonesia menjelang November bukan berarti fenomena El Nino telah berakhir. Sebaliknya, El Nino yang masih berlangsung juga tidak menjamin suatu wilayah terbebas dari banjir dan tanah longsor.

Menurut dia, El Nino bekerja pada skala iklim musiman, sedangkan hujan harian turut dipengaruhi dinamika atmosfer regional dan lokal, sehingga keduanya dapat terjadi di waktu dan wilayah yang sama.

“El Nino kuat dan hujan lebat dapat terjadi pada periode yang sama, bahkan di wilayah yang sama,” kata Daryono, dikutip Selasa (27/10/2026).

Selain itu, hujan deras juga dapat disertai angin kencang yang berpotensi menimbulkan kerusakan.

  1. 1. Tetap wspada terhadap risiko kekeringan dan karhutla

    Ilustrasi Kemarau.
    Ilustrasi Kemarau. (IDN Times/Anjani Asra)

    Daryono mengatakan, meskipun hujan mulai turun di sejumlah wilayah, kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap diperlukan di daerah yang masih kering.

    Di sisi lain, wilayah yang mulai menerima hujan perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.

    “Kewaspadaan terhadap kekeringan dan karhutla tetap diperlukan di wilayah yang masih kering, sementara daerah yang mulai menerima hujan perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap banjir, longsor, dan cuaca ekstrem,” ujarnya.

    Langkah antisipasi tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Hujan di suatu daerah tidak otomatis menghilangkan risiko kekeringan di daerah lain.

  2. 2. Pertumbuhan awan Cumulonimbus dan angin kencang

    Ilustrasi Awan (IDN Times/Sunariyah)
    Ilustrasi Awan (IDN Times/Sunariyah)

    Daryono juga menjelaskan, hujan deras yang disertai angin kencang umumnya berkaitan dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb).

    Awan ini terbentuk ketika udara hangat dan lembap naik, kemudian berkembang menjadi awan hujan yang menjulang tinggi. Di dalam awan, sebagian udara mengalami pendinginan dan bergerak turun dengan cepat. Proses ini disebut downdraft.

    “Ketika arus udara turun mencapai permukaan tanah, udara menyebar secara horizontal sehingga menimbulkan embusan angin kencang secara tiba-tiba,” katanya.

  3. 3. Waspada downburst dan cuaca ekstrem meski musim hujan belum sepenuhnya berlangsung

    Istimewa
    Puluhan pohon tumbang diterjang puting Belitung tutup jalan nasional Ngawi-Magetan. IDN Times/Istimewa.

    Dalam kondisi ekstrem, arus udara turun dari awan hujan dapat berkembang menjadi fenomena downburst. Menurut Badan Klimatologi, Meteorologi dan Geofisika (BMKG), downburst adalah sistem angin kencang secara vertikal ke bawah yang terjadi dalam waktu singkat.

    Fenomena ini timbul dari awan jenis Cumulonimbus dan menyebar ketika sampai di permukaan tanah yang berpotensi menimbulkan kerusakan, termasuk menyebabkan pohon tumbang dan merusak bangunan.

    “Fenomena ini dapat terjadi pada musim hujan maupun masa peralihan musim, terutama ketika atmosfer tidak stabil dan pertumbuhan awan konvektif sangat kuat,” ujar Daryono.

    Karena itu, masyarakat tetap perlu mewaspadai cuaca ekstrem meskipun musim hujan belum sepenuhnya berlangsung.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More