Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Novel Baswedan: Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS Andrie Yunus Terorganisir
Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Dimas Bagus Arya (Youtube/Yayasan LBH Indonesia)
  • Novel Baswedan menilai serangan air keras terhadap aktivis Andrie Yunus dilakukan secara terorganisir dan direncanakan, terlihat dari pola pergerakan pelaku yang terekam CCTV.
  • Novel menegaskan penyelidikan harus mengungkap aktor intelektual di balik serangan serta menyoroti niat serius pelaku untuk melukai korban melalui metode penyiraman air keras di wajah.
  • KontraS mendesak negara bertanggung jawab penuh atas penegakan hukum, pengungkapan pelaku, serta pembiayaan pemulihan Andrie Yunus sebagai bentuk perlindungan bagi pembela hak asasi manusia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan, menilai serangan penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, bukan tindakan kekerasan biasa. Ia menduga serangan tersebut dilakukan secara terorganisir dan telah direncanakan sebelumnya.

Menurut Novel, indikasi tersebut terlihat dari pola pergerakan pelaku yang terekam kamera pengawas. Dia menilai ada koordinasi di lapangan yang menunjukkan bahwa pelaku tidak bergerak secara spontan.

“Dari CCTV yang saya perhatikan, saya yakin pelakunya terorganisir. Pelakunya enggak satu motor yang berdua gitu, enggak. Ada simbol-simbol yang dilakukan di lapangan sehingga ketika menyerang itu begitu terorganisir. Ini suatu yang direncanakan,” kata Novel dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jumat (13/3/2026).

1. Nantinya penyelidikan harus diarahkan untuk ungkap aktor intelektual

Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus yang jadi korban penyiraman air keras (di tengah). (IDN Times/Santi Dewi)

Menurutnya, aparat penegak hukum tidak boleh hanya berhenti pada penangkapan pelaku lapangan. Penyelidikan harus diarahkan untuk mengungkap aktor intelektual yang diduga berada di balik peristiwa tersebut.

“Ini suatu yang direncanakan. Aktor intelektualnya harus disentuh, harus dijangkau dan diberikan pertanggungjawaban yang berat,” ujar Novel.

2. Tindakan pelaku menunjukkan adanya niat serius untuk melukai

CCTV yang merekam Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus saat disiram air keras oleh OTK di Salemba (Dok. Istimewa)

Novel juga menilai metode serangan yang digunakan menunjukkan adanya niat serius untuk melukai korban. Dia mengatakan, penyiraman air keras ke area wajah mengindikasikan tujuan pelaku untuk menimbulkan dampak yang sangat berat bagi korban.

“Andrie Yunus orang baik. Dia orang yang berintegritas, kritis, dan berani. Apa yang dialami, serangannya itu saya yakin maksudnya membunuh. Kenapa? Pelakunya ini menyiram air keras di area muka. Paling tidak pelaku ini menghendaki cacat permanen. Begitu jahatnya pelaku ini,” kata dia.

Meski demikian, Novel menegaskan bahwa aksi teror semacam ini tidak akan membuat para aktivis masyarakat sipil mundur atau merasa takut.

“Tujuan pelaku membuat takut kami, salah besar. Kami enggak takut,” ujarnya.

3. Minta akuntabilitas penegakan hukum kepada negara

Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), Dimas Bagus Arya. (IDN Times/Santi Dewi)

Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya mengatakan, teror air keras yang menimpa rekan sejawatnya Andrie Yunus, bukan lagi alarm bagi kebebasan demokrasi di Indonesia, tapi peristiwa ini sebagai jurang demokrasi.

"Jadi saya mau menyampaikan bahwa situasi ini sudah bukan alarm lagi. Teman-teman di sini semua berkumpul, ini bukan menyampaikan bahwa kita ada di alarm bahaya demokrasi. Inilah jurang demokrasi. Inilah titik nadir demokrasi," ujarnya.

Dimas mengatakan, kasus ini adalah tindakan yang sangat-sangat brutal. KontraS, kata dia, meminta akuntabilitas penegakan hukum kepada negara.

"Kami meminta keseriusan negara untuk serius terhadap perlindungan hak asasi manusia. Kami juga meminta supaya rezim hari ini, yang mau dan juga sudah membuat Kementerian Hak Asasi Manusia, itu mau berdiri bersama para pembela hak asasi manusia," katanya.

4. Negara wajib ungkap pelaku teror dan tanggung biaya pengobatan

Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur (Youtube/YLBHI)

Ketua Umum yLBHI Muhammad Isnur, mendesak negara mengusut secara menyeluruh pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan bentuk teror terhadap pembela hak asasi manusia sehingga penanganannya harus dilakukan secara serius dan transparan. Negara dinilai memiliki kewajiban memastikan pelaku segera diidentifikasi, ditangkap, dan diproses secara hukum.

Selain itu, pemerintah juga diminta bertanggung jawab terhadap pemulihan korban, termasuk menjamin seluruh biaya pengobatan akibat serangan tersebut. Isnur menegaskan, kasus ini tidak boleh dibiarkan tanpa kejelasan karena menyangkut perlindungan bagi pejuang HAM di Indonesia.

"Kita juga mendorong negara bertanggung jawab. Andaikan Andri membutuhkan pengobatan yang maksimal ya sampai ke manapun kami minta negara memfasilitasi," ujarnya.

Editorial Team