Jakarta, IDN Times - Mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan, menilai serangan penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, bukan tindakan kekerasan biasa. Ia menduga serangan tersebut dilakukan secara terorganisir dan telah direncanakan sebelumnya.
Menurut Novel, indikasi tersebut terlihat dari pola pergerakan pelaku yang terekam kamera pengawas. Dia menilai ada koordinasi di lapangan yang menunjukkan bahwa pelaku tidak bergerak secara spontan.
“Dari CCTV yang saya perhatikan, saya yakin pelakunya terorganisir. Pelakunya enggak satu motor yang berdua gitu, enggak. Ada simbol-simbol yang dilakukan di lapangan sehingga ketika menyerang itu begitu terorganisir. Ini suatu yang direncanakan,” kata Novel dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jumat (13/3/2026).
