Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Usai Diserang AS, Iran: Gencatan Senjata Sudah Tak Berarti Lagi

Usai Diserang AS, Iran: Gencatan Senjata Sudah Tak Berarti Lagi
ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)
Intinya Sih
  • Serangan udara AS ke Iran memicu pernyataan Teheran bahwa gencatan senjata tak lagi berarti, memperburuk konflik yang sempat mereda sejak April 2026.
  • Kedua pihak saling melancarkan serangan lintas negara hingga menimbulkan korban dan kerusakan di Iran, Yordania, Bahrain, serta Kuwait, sementara upaya diplomasi masih buntu.
  • Eskalasi di sekitar Selat Hormuz mengguncang pasokan energi global, mendorong lonjakan harga minyak dunia dan kekhawatiran atas keamanan jalur perdagangan internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara baru ke wilayah Iran pada Kamis (11/6/2026). Aksi tersebut membuat Kementerian Luar Negeri Iran menyebut kesepakatan gencatan senjata yang berlaku saat ini pada dasarnya sudah tak memiliki arti lagi.

Konflik yang berlangsung selama tiga bulan itu bermula dari serangan udara gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Gencatan senjata sempat tercapai pada April dan menghentikan pertempuran besar, tetapi negosiasi damai permanen terus menemui hambatan. Sejumlah bentrokan kecil di lapangan juga terus menguji kesepakatan tersebut hingga kembali pecah pada hari ini.

1. Aksi saling serang memicu kerusakan kawasan

ilustrasi perang
ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim

Menurut laporan media Iran dan media internasional, serangan kedua pihak sudah berlangsung selama dua hari berturut-turut. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut pasukannya menyasar fasilitas pertahanan udara, sistem pengawasan, dan jalur komunikasi milik Iran. Serangan itu memicu ledakan di selatan Iran, termasuk Bandar Abbas, Qeshm, dan Minab.

Media Iran juga melaporkan adanya serangan proyektil di Kargan dan Sirik. Selain itu, sedikitnya tiga orang dilaporkan terluka di Provinsi Tehran.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan operasi yang menyasar pangkalan militer AS di Yordania. Media pemerintah Iran juga melaporkan serangan terhadap pangkalan di Bahrain dan Kuwait menggunakan pesawat tanpa awak atau drone untuk merusak radar serta antena komunikasi Armada Kelima Angkatan Laut AS.

Dampak bentrokan tersebut meluas ke sejumlah negara Teluk. Otoritas Yordania mengaku berhasil mencegat 20 rudal Iran, sementara militer Kuwait aktif menghadapi target udara asing yang memasuki wilayah mereka. Di Bahrain, seorang anak perempuan berusia 11 tahun mengalami luka ringan dan sejumlah rumah serta kendaraan warga dilaporkan rusak.

2. Sikap keras Washington menghambat jalur diplomasi

ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dilansir Euro News, Presiden AS Donald Trump menilai Iran tak menunjukkan keseriusan dalam proses perundingan dengan Washington. Trump juga menyebut Teheran selama ini mempermainkan AS dan kini harus membayar konsekuensi atas sikap tersebut.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga mengisyaratkan bahwa negaranya siap memakai kekuatan militer untuk menekan Iran. Sementara itu, Pakistan dan Qatar masih berupaya membuka jalur diplomasi di belakang layar.

Delegasi Qatar dilaporkan berada di Teheran untuk melakukan pembicaraan yang dikoordinasikan dengan pihak AS. Arab Saudi juga meminta agar proses mediasi tetap berjalan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan Tahir Andrabi menyampaikan bahwa eskalasi terbaru membuat prospek perdamaian terlihat suram.

3. Ancaman Selat Hormuz mengguncang pasokan energi

Penampakan Selat Hormuz dari satelit
Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Konflik terbaru ini turut memengaruhi sektor ekonomi global karena berlangsung di dekat Selat Hormuz, jalur yang menyalurkan seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Komandan Pasukan Kedirgantaraan IRGC Majid Mousavi kemudian menyampaikan peringatan terkait keamanan wilayah tersebut.

“Apakah kalian membuat Selat Hormuz yang suci tak aman?! Kita akan menjadikan wilayah ini neraka bagi kalian,” ujarnya, dikutip France 24.

Angkatan Laut Iran mengklaim telah menembak dua kapal komersial yang mencoba melintas dan menyatakan Selat Hormuz ditutup total bagi seluruh pelayaran. Namun, CENTCOM membantah klaim tersebut dengan menyebut kapal-kapal komersial masih dapat keluar masuk kawasan itu.

Ketidakpastian di jalur perdagangan internasional mendorong harga minyak mentah dunia menembus lebih dari 93 dolar AS per barel atau sekitar Rp1,69 juta per barel. Pemerintah China sebagai importir minyak terbesar dari Iran meminta seluruh pihak menghentikan operasi militer dan menghormati upaya mediasi untuk mencapai gencatan senjata yang menyeluruh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella

Related Articles

See More