Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

UNRWA Pecat 70 Staf, Diduga Terafiliasi dengan Hamas

UNRWA Pecat 70 Staf, Diduga Terafiliasi dengan Hamas
potret kantor pusat UNRWA di Gaza (commons.wikimedia.org/United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East)
Intinya Sih
  • UNRWA memecat 70 pegawainya setelah laporan Israel dan UN Watch menyebut adanya keterkaitan dengan Hamas serta dugaan keterlibatan dalam serangan di Gaza dan Tepi Barat.
  • Serikat pekerja UNRWA menolak keputusan pemecatan, menilai langkah itu tidak adil karena hanya berdasar tuduhan tanpa bukti konkret dari Israel maupun UN Watch.
  • UN Watch mendukung pemecatan tersebut dan menilai UNRWA sudah tidak netral, bahkan menyerukan agar lembaga itu dibubarkan karena dianggap dikuasai oleh pihak yang terafiliasi dengan Hamas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dilaporkan telah memecat 70 pegawainya pada pekan ini. Keputusan itu diambil karena 70 pegawai mereka diduga berafiliasi dengan Hamas Palestina. 

Dilansir Jerusalem Post, Minggu (14/6/2026), pemecatan ini bermula saat Israel dan UN Watch melaporkan ke UNRWA bahwa ada beberapa pegawainya yang berafiliasi dengan Hamas. Israel dan UN Watch menduga pegawai UNRWA terlibat dalam melakukan serangan teror di Gaza dan Tepi Barat, Palestina.

1. UN Watch sudah menyelidiki pegawai UNRWA soal afiliasi dengan Hamas

Penyelidikan
ilustrasi penyelidikan (unsplash.com/Mediamodifier)

Direktur Eksekutif UN Watch, Hillel Neuer, menjelaskan, tuduhan tadi tidak serta merta diberikan ke pegawai UNRWA. Sebab, menurut Neuer, UN Watch telah melakukan investigasi mendalam terhadap karyawan-karyawan UNRWA. Penyelidikan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan organisasi itu terafiliasi dengan Hamas.

“Selama bertahun-tahun, UN Watch telah mengungkap bagaimana guru, kepala sekolah, dan karyawan UNRWA lainnya terkait erat dengan Hamas, termasuk para pemimpin teror yang memimpin serikat pekerja. Aksi hari ini, meskipun disambut baik, hanyalah permulaan kecil,” kata Neuer. 

2. Serikat pekerja UNRWA menolak dipecat

Pemecatan
ilustrasi pemecatan (unsplash.com/Igor Omilaev)

Pemecatan pegawai yang dilakukan oleh UNRWA ini menuai kecaman dan penolakan dari para pegawainya. Dalam pernyataannya, serikat pekerja UNRWA menyebut pemecatan yang dilakukan terhadap mereka tidak berdasar. Sebab, pemecatan hanya dilakukan berdasarkan tuduhan Israel dan UN Watch yang belum terbukti benar. UNRWA sendiri sudah meminta Israel untuk memberikan bukti soal tuduhan yang mereka berikan. Namun, belum ada respons.

"UNRWA mengambil keputusan seperti itu tanpa penyelidikan yang adil dan transparan. Ini merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip keadilan," bunyi pernyataan serikat pekerja UNRWA. Dalam pernyataannya, mereka juga mendesak URNWA untuk membatalkan pemecatan tersebut.

3. Protes dari pegawai UNRWA tidak digubris

Warga sedang berdemo.
ilustrasi protes (pexels.com/Connor Scott McManus)

Sayangnya, protes yang dilontarkan para pegawai UNRWA itu tidak digubris. Bahkan, Neuer sebagai perwakilan dari UN Watch menyebut pemecatan itu sudah seharusnya dilakukan. Sebab, semua entitas yang berafiliasi dengan Hamas harus disingkirkan dari badan atau organisasi yang berada di bawah naungan PBB, termasuk UNRWA. 

“Ketika serikat pekerja yang mewakili karyawan UNRWA dikendalikan oleh agen Hamas, tidak mengherankan jika mereka keberatan untuk memecat rekan-rekan mereka. Ini bukanlah perilaku lembaga kemanusiaan yang netral, melainkan organisasi yang dikuasai oleh kelompok teroris,” kata Neuer. 

Oleh karena itu, Neuer meminta UNRWA dibubarkan. Sebab, menurutnya, organisasi tersebut sudah tidak bisa direformasi karena sebagian besar orang-orang di dalamnya terafiliasi dengan Hamas. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella

Related Articles

See More