Jakarta, IDN Times - Kepergian Nuryati (62) akibat tabrakan kereta di Bekasi, Senin (27/4/2026) meninggalkan luka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tetapi juga warga sekitar kediamannya di Kemayoran, Jakarta Pusat. Sosoknya dikenal sebagai pribadi aktif dan penuh kepedulian.
“Kalau pesan sih gak ada. Kalau pesan secara spesifik tuh gak ada. Cuma kan Mama itu memang orang yang aktif di wilayah. Di jumantik beliau aktif, di PKK juga beliau aktif, di posyandu, pengajian warga juga beliau aktif. Di Muslimat NU juga beliau aktif. Jadi dari dulu memang sudah aktif di organisasi atau di kegiatan warga wilayah," kata sang anak, Halimah, di rumah duka, Selasa (28/4/2026).
Sebelum berangkat, Halimah sempat berbincang dengan ibunya.
“Iya, jam sampai 18.30 itu masih di sini di rumah saya. Sama lagi ngomongin masalah PKK, bahas masalah PKK kan mau ada kegiatan. Mama juga aktif di PKK, saya juga di PKK. Jadi ngebahas itu di PKK," ujar dia.
Nuryati dikenal sebagai sosok penyayang dan sederhana. Sosok yang sayang pada anak-anaknya dan tidak pernah banyak bicara. Putri pertamanya itu juga mengaku sang ibu punya banyak teman.
“Baik, baik banget. Sayang juga sama anak-anaknya, perhatian sama anak-anaknya. Sama warga juga aktif di wilayah dari dulu. Kayak tadi juga teman-teman Mama juga kaget. Maksudnya, Mama tuh orang baik, diem, gak pernah banyak ngomong. Banyak temannya. Makanya tadi masyaallah banget, ya, tamunya Mama banyak banget. Kami juga sampai kaget. Mama punya amalan apa gitu sampai tamunya tuh banyak banget yang kita gak tahu, ya, setelah Mama gak ada," ujar dia.
Kepergiannya terasa semakin pilu karena tujuannya adalah menjenguk anaknya yang sakit.
“Mau ke Cikarang, ke tempat adik saya, mau nengokin adik saya yang sakit, di rumah sakit, kan dirawat," kata dia.
Jenazah Nurhayati rencananya dimakamkan di Karet Tengsin, Jakarta Pusat. Kediamannya juga tampak dipenuhi para pelayat yang datang melantunkan doa.
Diberitakan, tabrakan kereta terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam. Insiden bermula saat KRL Cikarang arah Jakarta menabrak taksi yang melintas di perlintasan tanpa palang pintu. Akibat kejadian itu, perjalanan KRL lainnya arah Jakarta-Cikarang yang ada di Stasiun Bekasi Timur terhambat sehingga rangkaian KRL tersebut belum melaju. Nahas, rangkaian KRL itu ditabrak oleh Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Pasar Turi sehingga kecelakaan pun tak dapat dihindari.
Akibat kejadian tersebut, hingga Selasa (28/4/2026), pukul 08.45 WIB tercatat 14 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka.
