Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Nusron Sesalkan Dialog di GIK UGM Dibubarkan, Padahal Siap Dikritik
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono menemui mahasiswa di luar Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Sleman, Senin (15/6/2026) malam. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Dialog antara tiga pejabat kabinet dan publik di GIK UGM dibubarkan setelah berlangsung sekitar 40 menit akibat aksi mahasiswa yang memprotes isi pembicaraan.
  • Nusron Wahid menyayangkan pembubaran tersebut dan menilai kelompok mahasiswa yang membubarkan dialog bersikap ademokratis serta mengedepankan pemaksaan kehendak.
  • Mahasiswa UGM tersulut emosi karena merasa pemerintah tidak konsisten terhadap nilai Pancasila dan menantang kritik publik, sementara kritik langsung sering berujung kriminalisasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Tadi malam ada acara ngobrol di kampus UGM sama Pak Nusron, Pak Sudaryono, dan Pak Budiman. Tapi mahasiswa datang ramai-ramai dan marah, jadi acaranya berhenti. Katanya mereka tidak suka dengan omongan pejabat soal kritik dan Pancasila. Para pejabat lalu dibawa keluar dari kampus. Sekarang semua orang masih membicarakan kejadian itu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR), Nusron Wahid menyayangkan dialog kopi darat bersama tiga pejabat di kabinet Merah Putih di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM) tidak berlangsung sesuai dengan rencana awal. Dialog yang baru berjalan sekitar 40 menit pada Senin malam, 15 Juni 2026 tiba-tiba digeruduk oleh mahasiswa UGM.

Sempat terdengar salawatan untuk meredam emosi mahasiswa, namun itu berlangsung sejenak. Dialog pun sempat terjadi, tetapi kemudian berakhir buntu. Nusron dan dua pejabat lainnya yakni Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) RI, Budiman Sudjatmiko kemudian dievakuasi keluar dari area UGM.

"Saya senang sekali di malam tahun baru Hijriah, saya bisa datang dan bersilaturahmi ke kampus UGM. Ketika kami datang, direspons baik oleh panitia, ada surat izin lengkap dari rektorat dan kami siap datang untuk berdialog dengan siapa saja dengan topik apapun," ujar Nusron seperti dikutip dari akun media sosialnya pada Selasa (16/6/2026).

Ia mengeklaim selain siap berdialog, pihaknya juga terbuka untuk dikritik, dibully bahkan dicaci maki di hadapan siapapun. Sebab, itu konsekuensi menduduki jabatan publik. Di dalam klarifikasinya, Nusron menyebut dialog kopi darat itu dibubarkan oleh sekelompok orang yang disebut ademokratis.

1. Dialog dibubarkan saat Budiman menyinggung Ketua BEM UGM 2025

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono menemui mahasiswa di luar Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Sleman, Senin (15/6/2026) malam. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Lebih lanjut, Kopi Darat merupakan program dialog yang diinisiasi oleh media Total Politik. Di materi promosi yang diedarkan lewat media sosial, semula ada empat pejabat di Kabinet Merah Putih yang hendak dihadirkan. Namun, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi batal hadir.

Dilihat dari unggahan kronologi yang ditayangkan akun media sosial Total Politik, mahasiswa terlihat mulai menggeruduk ketika Budiman mengeklaim rekannya pernah ditelepon oleh Presiden Prabowo Subianto. Di dalam pembicaraan telepon, Prabowo menitipkan pesan agar tidak melakukan tindakan apapun terhadap Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada tahun 2025, Tiyo Ardiyanto. Tiyo sedang menjadi target persekusi sejak lantang menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Kata teman saya ini, saya pernah ditelepon Pak Prabowo. Pak Presiden telepon saya, Mas Budiman. Apa yang disampaikan Pak Prabowo? 'Kamu jangan terpancing personal terhadap kritik-kritiknya. Jangan ada yang menyentuh Tiyo. Jangan ada yang menyentuh Tiyo! Setersinggung apapun, jangan pernah punya pikiran untuk melakukan manuver yang mencelakainya!'" kata Budiman menirukan kalimat rekan yang mengaku ditelepon Prabowo itu.

Mahasiswa tiba-tiba merangsek naik ke atas panggung. Ada pula yang membawa poster bertuliskan nada protes terhadap Istana.

2. Kelompok yang membubarkan dialog disebut mengedepankan kekerasan

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono menemui mahasiswa di luar Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Sleman, Senin (15/6/2026) malam. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Sementara, Nusron melabeli mahasiswa yang membubarkan dialog sebagai kelompok a demokratis dan tidak terbuka untuk diajak dialog. Bahkan, kelompok itu disebut Nusron mengedepankan pemaksaan kehendak dan tindak kekerasan.

"Karena itu kami sangat sayangkan, forum yang seharusnya sebagaimana di kampus-kampus yang lain, tidak ada motivasi untuk mengebiri tapi kami justru siap dikritik. Kalau memang ada yang salah, kami siap mengoreksi. Kalau ada masukan, kami akan tindak lanjuti. Tapi ternyata digagalkan oleh sekelompok orang itu," kata menteri yang juga Politisi Partai Golkar tersebut.

Sikap sekelompok orang itu juga mengecewakan ratusan hadirin yang sejak awal ingin mendengarkan dialog tersebut. "Saya kira mari kita tegakan demokrasi dengan cara yang berkeadaban dan civilized. Karena ruang diskusi atau debat di berbagai forum apapun tak boleh ditutup," tutur dia.

3. Mahasiswa tersulut emosi karena tiga pejabat di kabinet menantang publik untuk sampaikan kritik langsung

Tiga pejabat di Kabinet Merah Putih ketika hadir di acara Kopdar di GIK Universitas Gadjah Mada (UGM). (Dokumentasi Istimewa)

Sementara, di dalam keterangan tertulisnya, Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa UGM menjelaskan alasan mahasiswa terpantik emosi dalam dialog pada Senin malam kemarin ketika tiga pejabat di Kabinet Merah Putih itu menantang publik untuk menyampaikan kritik tidak hanya di media sosial. Kritik sebaiknya disampaikan secara langsung. Di sisi lain, ketika kritik disampaikan di ruang publik justru berujung kriminalisasi.

"Kami terpantik ketika mereka bertiga di podium menantang publik untuk mengkritik secara langsung, bukan di media sosial," demikian kata BPPM Balairung UGM yang dikutip pada hari ini.

Mereka juga geram ketika tema dialog semalam membahas mengenai nilai-nilai Pancasila. Sedangkan, dalam pandangan mahasiswa, di era kepemimpinan Prabowo-Gibran, tidak ada satu pun sila di dalam Pancasila yang telah diamalkan. Negara dianggap berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang pajak untuk program dan kunjungan luar negeri yang tidak bermanfaat.

"Padahal, uang negara itu bisa mereka gunakan untuk pendidikan gratis, memperbaiki sekolah-sekolah, menambal defisit BPJS, dan mensubsidi BBM," katanya.

"Maka, omong kosong bicara Pancasila ketika pemerintah sendiri yang mengingkari nilai-nilai Pancasila itu sendiri," imbuhnya.

Mahasiswa UGM juga mempertanyakan mengapa pemerintah tak pernah menyentuh akar permasalahan untuk memperbaiki kondisi ekonomi dengan menyetop program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Desa Merah Putih. Padahal, program itu menyedot anggaran di APBN dalam jumlah besar.

"Siapa yang sebenarnya rezim layani? Cita-cita Pancasila atau cita-cita untuk berkuasa?" tanya mereka.

Editorial Team

Related Article