Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kejaksaan Bolivia Perintahkan Penangkapan Eks Presiden Evo Morales

Kejaksaan Bolivia Perintahkan Penangkapan Eks Presiden Evo Morales
Mantan Presiden Bolivia, Evo Morales. (EneasMx, CC BY-SA 4.0 , via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Kejaksaan Santa Cruz memerintahkan penangkapan mantan Presiden Bolivia Evo Morales atas dugaan keterlibatan dalam demonstrasi dan blokade jalan di La Paz serta El Alto pada Mei-Juni 2026.
  • Morales dan sejumlah pihak diinvestigasi karena diduga memicu instabilitas serta berupaya melengserkan Presiden Rodrigo Paz; Morales membantahnya sebagai persekusi politik dan berada di Chapare.
  • Paz menyatakan blokade 50 hari telah dikalahkan melalui keadaan darurat, setelah penutupan jalan memicu kelangkaan kebutuhan vital dan sedikitnya 16 kematian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kantor Kejaksaan Santa Cruz menginstruksikan perintah penangkapan kepada eks Presiden Bolivia, Evo Morales. Politikus sayap kiri itu diduga terlibat dalam demonstrasi dan pemblokiran jalan di La Paz dan El Alto pada Mei hingga Juni 2026. 

Pada akhir Juni, Presiden Bolivia, Rodrigo Paz sudah mendeklarasikan keadaan darurat di negaranya. Langkah ini untuk membuka blokade jalan yang berlangsung selama hampir 2 bulan lamanya. 

1. Tuding Morales ikut mendorong instabilitas di Bolivia

ilustrasi bendera Bolivia
ilustrasi bendera Bolivia (Pexels/Mac Camacho)

Jaksa Santa Cruz, Brayan Melgar menyampaikan bahwa Morales dan sejumlah orang tengah diinvestigasi atas dugaan memicu instabilitas. Mereka juga diduga terlibat dalam upaya untuk melengserkan Presiden Paz. 

Dilansir EFE, dakwaan kepada Morales sudah diajukan oleh pemimpin organisasi sipil di Santa Cruz pada awal Juli. Kemudian didukung oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Bolivia, Marco Antonio Oviedo. 

2. Morales tolak tuduhan dari Kejaksaan Santa Cruz

Eks Preiden Bolivia, Evo Morales.
Eks Preiden Bolivia, Evo Morales. (Cancillería Ecuador from Ecuador, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

Di sisi lain, Morales menolak tuduhan tersebut dan menggambarkannya sebagai persekusi politik. Menurutnya, tindakan ini hanya berfungsi untuk mengalihkan isu dari krisis ekonomi di negara Amerika Selatan tersebut. 

“Kami akan terus berdiri membela kepada rakyat yang menderita dari penghematan, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), dan naiknya biaya hidup, krisis keamanan, dan maraknya penyelundupan narkoba,” tuturnya, dikutip dari Mercopress, Kamis (30/7/2026).

Mantan Presiden Bolivia itu mengaku tidak takut dengan perintah penangkapan tersebut. Morales diketahui berada di Chapare, Cochabamba dan mendapat perlindungan dari organisasi petani koka. 

3. Paz sebut blokade di Bolivia sudah dikalahkan

Presiden Bolivia, Rodrigo Paz.
Presiden Bolivia, Rodrigo Paz. (Estado de Chile, CC BY 3.0 CL, via Wikimedia Commons)

Menyusul penetapan keadaan darurat, Presiden Paz menyatakan bahwa blokade jalan di Bolivia sudah dikalahkan. Ia menekankan bahwa keadaan darurat terpaksa diterapkan untuk mengembalikan ketertiban di Bolivia. 

“Bolivia harus tetap terorganisir karena apa yang terjadi dalam 50 hari terakhir tidak bisa diulang kembali. Maka keadaan darurat ini adalah instrumen hukum yang memperbolehkan kami untuk tetap mengatur kembali negara ini,” terangnya. 

Blokade telah mengakibatkan kelangkaan makanan, BBM, dan oksigen medis di beberapa kota. Alhasil, setidaknya 16 orang dan 13 di antaranya disebabkan oleh keterlambatan perawatan medis imbas penutupan jalan. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More