Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi VI DPR Republik Indonesia, Mufti Anam, mengaku kecewa dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atas tragedi tabrakan maut Kereta Argo Bromo Anggrek dengan Commuterline di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026).
Dia mendesak agar dilakukan audit menyeluruh dan independen dan prosesnya harus dibuka transparan ke publik di mana titik kegagalannya, apakah sistem sinyal, SOP, atau human error.
Mufti meminta Bobby Rasyidin mundur dari jabatannya sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Kereta Api Indonesia (Persero) bila tragedi tabrakan maut itu disebabkan oleh human error.
"Jika terbukti human error, kami minta Dirut dan pemimpin level tertinggi lainnya untuk bertanggungjawab serta mundur. Tidak cukup dengan minta maaf dan evaluasi," kata Mufti kepada wartawan, Rabu (29/4/2026).
