Selanjutnya, masih pada tanggal yang sama saat NS belum meninggal, AS mengirimkan pesan lanjutan yang seolah-olah sudah memprediksi kematian anaknya.
"Ada lagi WhatsApp selanjutnya. 'Minta maaf ya kalau misalnya anak ini tidak panjang umur. Minta maaf dan mungkin akan dimakamkan di makam keluarga ini namanya, dekat makam bapaknya atau kakek dia'," ujar Mira.
Padahal, kata dia, saat pesan itu dikirim, NS masih berada di rumah dalam kondisi kritis. Mira menyebut, pihaknya memiliki bukti video yang menunjukkan kondisi NS yang sudah parah namun tetap dibiarkan di rumah.
"Sehingga, kami menganalisa bahwa ini adalah pembiaran atau penelantaran sengaja untuk tidak dibawa ke rumah sakit gitu," ungkapnya.
NS baru dikabarkan meninggal pada 18 Februari dengan alasan sakit paru-paru. Tragisnya, Lisnawati yang datang dari Cianjur ke Sukabumi tidak sempat melihat wajah putranya untuk terakhir kali karena jenazah sudah dikafani. Selain itu, Mira juga menyoroti kejanggalan lain, yakni ketidakhadiran ayah kandung korban di pemakaman.
Dalam kesempatan yang sama, Mira juga menyinggung video viral detik-detik terakhir Nizam saat dirawat. Dalam kondisi kesadaran menurun, korban sempat menunjuk ke arah ibu tirinya.
"Terus (mengaku) dikasih minum air mendidih," ujar Mira.