Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Potret Nyata Sulitnya Ekonomi saat Ini dari Kacamata Ojek Online
Ilustrasi demonstrasi driver ojek online (ojol). (banyumaskab.go.id)
  • Pendapatan pengemudi ojol disebut merosot tajam: Fiky membandingkan penghasilan harian hingga Rp700.000 pada 2017 dengan sulitnya mencapai Rp200.000 saat ini.

  • Eko, Abay, dan Fiky menggambarkan tekanan ekonomi melalui sepinya pesanan, sulitnya mencari kerja, serta harapan agar pemerintah mengevaluasi kebijakan ekonomi dan lapangan pekerjaan.

  • Kenaikan biaya bensin, perbaikan motor, dan kebutuhan harian membuat pengemudi menyaring pesanan dekat; mereka juga menilai penyaluran bansos belum merata.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2017

Fiky mengatakan pengemudi ojek online masih dapat memperoleh hingga Rp700.000 per hari. Tarif perjalanan 0–3 kilometer saat itu sekitar Rp15.000.

Tepat di hari ini

Demo berlangsung di Bundaran HI saat pemerintahan Prabowo-Gibran memasuki dua tahun. Isu krisis ekonomi disebut menghantam bursa saham dan berbagai sektor.

kini

Eko bekerja sebagai pengemudi ojek online di Jakarta setelah kecelakaan kerja mengakhiri kariernya sebagai kontraktor. Para pengemudi menghadapi pendapatan yang menurun, biaya bensin tinggi, dan sulitnya mencari pekerjaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Tiga pengemudi ojek online menggambarkan penurunan pendapatan, mahalnya biaya operasional, sulitnya memperoleh pesanan, dan tekanan ekonomi yang mereka hadapi sehari-hari.
  • Who?
    Eko, 58 tahun; Abay, 30 tahun lulusan bidang teknologi informasi; dan Fiky, 39 tahun, merupakan pengemudi ojek online yang menyampaikan pengalaman mereka.
  • Where?
    Perbincangan berlangsung di sebuah warung kopi sederhana di Jakarta. Ketiganya biasa mangkal dan mencari pesanan di kawasan Kalibata serta sekitarnya.
  • When?
    Kondisi itu disampaikan saat mereka menunggu pesanan melalui aplikasi, bertepatan dengan situasi ekonomi yang mereka nilai sedang sulit. Tanggal pasti perbincangan belum ada kepastian.
  • Why?
    Pendapatan dinilai menurun karena tarif perjalanan lebih rendah, pesanan tidak selalu masuk, biaya BBM meningkat, serta pengeluaran untuk perbaikan motor dan kebutuhan harian.
  • How?
    Abay menyaring pesanan dengan memilih rute dekat untuk menghemat bensin. Ketiganya menunggu notifikasi di area mangkal, sementara pendapatan harian bergantung pada kondisi akun aplikasi masing-masing.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pak Eko, Bang Abay, dan Kak Fiky bekerja jadi ojek online di Jakarta. Dulu Fiky bisa dapat banyak uang, tapi sekarang cari uang lebih susah. Bensin mahal dan motor kadang rusak. Abay memilih pesanan yang dekat. Mereka menunggu pesanan sambil memikirkan kebutuhan hidup. Mereka bilang pekerjaan juga susah dicari.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah pendapatan yang menurun dan biaya operasional yang meningkat, Eko, Abay, dan Fiky tetap menunjukkan daya tahan melalui pilihan-pilihan praktis sehari-hari. Mereka saling berbagi pandangan, menimbang pesanan berdasarkan biaya bensin, serta bertahan di area yang lebih memungkinkan. Percakapan sederhana di warung kopi itu memperlihatkan adanya keteguhan dan kebersamaan dalam menghadapi tekanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Di tengah teriknya matahari yang membakar kulit, dan di samping trotoar jalan yang berdebu, sebuah warung kopi sederhana berdiri menjadi saksi bisu berbagai potret kehidupan.

Di sana, di atas bangku kayu, duduklah tiga pria mengenakan jaket hijau ojek online yakni Pak Eko, Bang Abay, dan Kak Fiky.

Ketiganya duduk bersandar seraya menatap layar gawai mereka, menunggu sebuah notifikasi pesanan masuk.

1. Kejayaan ojol masa lalu hingga realita anjloknya pendapatan hari ini

ilustrasi driver ojek online (unsplash.com/Afif Ramdhasuma)

Sembari ditemani kopi hitam dan kepulan asap rokok yang beradu dengan bau knalpot kendaraan, ketiga pria ini bercengkrama. Di hadapan mereka, gelas-gelas kopi hitam yang pekat mengepulkan uap tipis—pahitnya kopi itu tak sebanding dengan kepahitan hidup yang mereka telan saban hari.

Fiky, pria berusia 39 tahun berambut gondrong lengkap dengan kacamata kotaknya, menghembuskan nafasnya disertai keluh kesah ketika bercerita ke tim IDN Times mengenai kondisi perekonomiannya sebagai ojek online saat ini.

"Beda jauh, Kak. Dulu 2017, sehari aja bisa dapat Rp700 ribu kok. Sekarang nyari Rp200 ribuaja empot-empotan, ditambah lagi COVID, hancur-hancuran," terangnya, saat ditemui pada 20 Oktober 2026.

Di hadapannya, Eko, lelaki paruh baya berusia 58 tahun dengan guratan lelah di wajahnya, adalah sisa-sisa reruntuhan masa lalu. Dulu, tangannya memegang proyek-proyek pembangunan jalan di Sekadau, Kalimantan Barat.

Kini, takdir membantingnya ke atas jok sepeda motor di ibu kota setelah sebuah kecelakaan kerja meremukkan jalan karirnya sebagai kontraktor. Ia memutuskan untuk menetap di Jakarta bersama anak dan istrinya di usia senjanya.

2. Hilangnya harapan pada pemerintah dan tekanan ekonomi

ilustrasi driver ojek online (unsplash.com/Afif Ramdhasuma)

Tepat di hari ini, 2 tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran memimpin Indonesia, demo bergolak di jalanan Bundaran HI. Isu krisis ekonomi menghantam bursa saham dan berbagai sektor lainnya.

Hal tersebut disoroti oleh sosok driver yang duduk di samping Fiky, yaitu Abay. Pengemudi ojek online lulusan Strata 1 yang menekuni bidang informasi dan teknologi. Kini usianya menginjak 30 tahun.

"Ini kan lagi ekonomi lagi krisis nih, ya kan? Kita kalau cek IHSG juga buruk," kata Abay.

Dengan kondisi yang seperti ini, mereka tak memiliki waktu untuk berfilsafat tentang kebijakan negara atau menilik angka-angka statistik CSIS yang menyebut puluhan persen rakyatnya dilanda stres. Stres bagi mereka bukan istilah psikologis yang rumit, stres adalah ketika petang menjelang namun aplikasi di gawainya bungkam seribu bahasa, sementara kehidupan terus berjalan dan kebutuhan menyambung hidup terus bertambah.

Hal ini memunculkan rasa keputusasaan mereka untuk berharap dari pemerintah.

"Jujur aja ya biasa aja. Sama aja. Karena siapa pun pemerintahnya, nggak bikin lo kaya. Yang bikin lo kaya diri lo sendiri.Jadi nggak ada perubahan signifikan buat ekonomi kita, balik lagi ke diri kita," ujar Abay.

"Kalau saya sih nggak pernah mau apa ya, mau belain si A, mau belain si B. Sekarang kita pikir diri kita sendiri aja, buat diri kita sendiri aja udah mumet, belum lagi mikirin yang lain," Fiky turut menimpali.

Di tengah tengah hawa panas Jakarta yang pengap dan memeras keringat, ketiganya kembali menyulut rokok. Mereka menghirupnya dalam-dalam, menghembuskannya ke udara lepas, lalu kembali bertukar pikiran.

Abay menilai, pemerintah perlu mengevaluasi kinerja dan memperbaiki kebijakan khususnya dalam sektor ekonomi.

"Ekonomi masyarakat, lapangan pekerjaan sektor itu. Sekarang nyari lapangan pekerjaan susah," ujar Abay.

Fiky membandingkan kondisi pendapatan ojol saat ini dengan masa lalu.

"Kalau sekarang harganya kacau. Makanya di jaman 2017 deh ya, terakhir itu jarak 0 sampai 3 kilometer itu Rp15.000. Lumayan, kalau sekarang Rp10.200 bersihnya segitu. Dulu argonya masih tinggi, beda sama sekarang," ungkap Fiky.

Meski demikian, ia menerangkan, pendapatan harian sangat bergantung pada kondisi akun masing-masing aplikasi pengemudi.

"Kalau akunnya lagi enak ya enak aja, kalau akunnya lagi ga baik-baik saja ya sulit," ucapnya seraya menyeka keringat.

3. Tingginya biaya BBM dan operasional harian

ilustrasi driver transportasi online (unsplash.com/Fasyah Halim)

Ketika perbincangan berlangsung, gawai milik Abay berbunyi dan memunculkan notifikasi pesanan baru. Namun, siapa sangka ia membiarkannya dan menyertakan alasan tak menggulir tombol untuk mengambil kesempatan rezeki itu.

"Ini jauh orderannya, makanya saya filter pesanannya, karena sekarang bensin lagi mahal, nyarinya yang deket-deket aja," jelas Abay.

Pernyataan ini didukung oleh Fiky mengenai biaya operasional harian sebagai pengemudi, seperti uang bensin, sepeda motornya yang bermasalah dan harus diperbaiki ke bengkel, makan atau minum di jalan sembari menunggu pesanan datang.

"Hari ini, saya ada trouble jadi tadi harus ke bengkel dulu, ini baru aja narik dan baru dapet satu," katanya.

Jika mereka memilih pulang atau bermain ke luar wilayah, biaya operasional membengkak tanpa hasil yang pasti, sehingga mereka lebih memilih menetap dan mangkal di area sekitar Kalibata dan sekitarnya.  

Di meja tersebut, mereka juga sempat menyampaikan pendapatnya mengenai bantuan sosial (bansos) dari pemerintah dinilai kurang merata, di mana terkadang orang yang mampu justru mendapatkan bantuan, sementara yang benar-benar membutuhkan malah terlewat, sehingga sistem penyalurannya dinilai perlu dievaluasi.  

Curated For You

Editorial Team

Related Article