ilustrasi driver ojek online (unsplash.com/Afif Ramdhasuma)
Tepat di hari ini, 2 tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran memimpin Indonesia, demo bergolak di jalanan Bundaran HI. Isu krisis ekonomi menghantam bursa saham dan berbagai sektor lainnya.
Hal tersebut disoroti oleh sosok driver yang duduk di samping Fiky, yaitu Abay. Pengemudi ojek online lulusan Strata 1 yang menekuni bidang informasi dan teknologi. Kini usianya menginjak 30 tahun.
"Ini kan lagi ekonomi lagi krisis nih, ya kan? Kita kalau cek IHSG juga buruk," kata Abay.
Dengan kondisi yang seperti ini, mereka tak memiliki waktu untuk berfilsafat tentang kebijakan negara atau menilik angka-angka statistik CSIS yang menyebut puluhan persen rakyatnya dilanda stres. Stres bagi mereka bukan istilah psikologis yang rumit, stres adalah ketika petang menjelang namun aplikasi di gawainya bungkam seribu bahasa, sementara kehidupan terus berjalan dan kebutuhan menyambung hidup terus bertambah.
Hal ini memunculkan rasa keputusasaan mereka untuk berharap dari pemerintah.
"Jujur aja ya biasa aja. Sama aja. Karena siapa pun pemerintahnya, nggak bikin lo kaya. Yang bikin lo kaya diri lo sendiri.Jadi nggak ada perubahan signifikan buat ekonomi kita, balik lagi ke diri kita," ujar Abay.
"Kalau saya sih nggak pernah mau apa ya, mau belain si A, mau belain si B. Sekarang kita pikir diri kita sendiri aja, buat diri kita sendiri aja udah mumet, belum lagi mikirin yang lain," Fiky turut menimpali.
Di tengah tengah hawa panas Jakarta yang pengap dan memeras keringat, ketiganya kembali menyulut rokok. Mereka menghirupnya dalam-dalam, menghembuskannya ke udara lepas, lalu kembali bertukar pikiran.
Abay menilai, pemerintah perlu mengevaluasi kinerja dan memperbaiki kebijakan khususnya dalam sektor ekonomi.
"Ekonomi masyarakat, lapangan pekerjaan sektor itu. Sekarang nyari lapangan pekerjaan susah," ujar Abay.
Fiky membandingkan kondisi pendapatan ojol saat ini dengan masa lalu.
"Kalau sekarang harganya kacau. Makanya di jaman 2017 deh ya, terakhir itu jarak 0 sampai 3 kilometer itu Rp15.000. Lumayan, kalau sekarang Rp10.200 bersihnya segitu. Dulu argonya masih tinggi, beda sama sekarang," ungkap Fiky.
Meski demikian, ia menerangkan, pendapatan harian sangat bergantung pada kondisi akun masing-masing aplikasi pengemudi.
"Kalau akunnya lagi enak ya enak aja, kalau akunnya lagi ga baik-baik saja ya sulit," ucapnya seraya menyeka keringat.