Menko Dudung: Bantuan Malaysia Tak Efektif Jika Asap Karhutla Masih Tebal

- Pemerintah belum merespons bantuan Malaysia karena asap karhutla menebal dan jarak pandang rendah, membuat 67 pesawat yang dikerahkan ke Kalimantan dan Sumatra Selatan sulit beroperasi.
- Bantuan helikopter Chinook Jepang pada September 2026 juga tidak optimal akibat syarat jarak pandang 5.000 meter, sehingga hanya dapat melakukan beberapa kali pemadaman.
- BNPB mencatat 11.202 hektare lahan terbakar di tiga provinsi Kalimantan dan mengerahkan 38.772 personel, sambil mengkaji bantuan asing agar efektif serta sesuai kebutuhan.
Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Dudung Abdurachman menjelaskan alasan hingga kini tawaran bantuan dari negara lain termasuk Malaysia belum juga direspons. Mantan Kepala Staf Presiden (KSP) itu menilai tawaran bantuan dikhawatirkan menjadi percuma lantaran asap karhutla masih tebal. Jarak pandang di sejumlah wilayah, kata dia, hingga kini masih tergolong rendah.
Dudung menyebut Negeri Jiran menawarkan bantuan berupa pesawat bomber, tiga helikopter dan 52 personel. "Nah, ini nanti sama saja kalau misalnya (bantuan) dari Malaysia datang. Pecuma juga, karena visibility-nya gak memungkinkan," ungkap Dudung di Kuningan, Jakarta Selatan pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu mengungkapkan 47 pesawat telah dikerahkan ke Kalimantan. Sementara, 20 pesawat lainnya dikerahkan ke Sumatra Selatan untuk mempercepat penanganan karhutla di provinsi tersebut. Hal ini sesuai dengan prioritas pemerintah bahwa Kalimantan Tengah dan Sumsel menjadi fokus utama untuk dipadamkan karena area yang terbakar tergolong tinggi.
"(67 pesawat di Kalimantan dan Sumatra) ini saja tidak bisa terbang karena memang visibility-nya di bawah 1.000," tutur dia.
1. Helikopter Chinook dari Jepang hanya bisa lakukan beberapa kali pemadaman

Helikopter Chinook milik militer Jepang yang berada di Kapal JS Kunisaki saat bersandar di Pelabuhan Kijing, Mempawah, Kalimantan Barat. (Dokumentasi Kementerian Pertahanan) Lebih lanjut, Dudung juga menyinggung bantuan dari pasukan bela diri Jepang yang sempat membantu pemadaman karhutla September 2026 lalu di Kalimantan. Menurut Dudung, helikopter Chinook dari Jepang tidak bisa optimal membantu lantaran jarak pandang berada di bawah 5.000 meter.
"Nah, Jepang kemarin kan hanya beberapa sortie karena minta visibility-nya 5.000. Kalau 5.000 mah terang dong," tutur dia.
2. 11.202 hektare lahan di Kalimantan terbakar

Seorang ibu dan anaknya yang mengenakan masker berkendara sepeda motor menembus kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan di wilayah Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Sabtu (10/10/2026). (AFP/Reina) Sementara, berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas lahan terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tiga provinsi di Kalimantan mencapai 11.202 hektare. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan penanganan karhutla masih berlangsung di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.
"Ketiga provinsi ini kami dapati sebesar luas yang terbakar adalah 11.202 hektare dan ini terus dilakukan penanganannya," ungkap Berton ketika memberikan keterangan pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Berdasarkan data BNPB, luas lahan terbakar di Kalimantan Tengah mencapai 7.938 hektar. Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat 1.974 hektar lahan terbakar dan Kalimantan Barat sekitar 1.290 hektar.
BNPB terus melakukan penanganan melalui satuan tugas (satgas) darat dan satgas udara. Upaya tersebut meliputi pemadaman, patroli, operasi pengeboman air (water bombing), serta operasi modifikasi cuaca (OMC).
Berton mengatakan, BNPB mengerahkan personel untuk memperkuat penanganan karhutla di tiga provinsi tersebut. Berdasarkan paparannya, personel satgas darat yang disiagakan mencapai 38.772 orang.
Rinciannya, sebanyak 16.387 personel berada di Kalimantan Tengah, 7.927 personel di Kalimantan Selatan, dan 14.458 personel di Kalimantan Barat.
3. Kepala BNPB masih kaji tawaran bantuan dari negara asing untuk karhutla

Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi saat memimpin rapat koordinasi terkait karhutla di Sumsel. (Dok. BNPB). Sementara, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal Kristomei Sianturi mengatakan pihaknya masih menganalisis tawaran bantuan dari sejumlah negara tetangga untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Kristomei mengatakan, tawaran itu mesti dikaji dengan matang agar bantuan yang diberikan efektif untuk menangani karhutla dan memang dibutuhkan oleh Indonesia.
"Sehingga nanti kalau memang kita tidak bisa dan alat itu tidak ada di kita, ya kita minta kepada mereka. Jadi bantuan itu biar maksimal, tepat guna, tepat sasaran," ungkap Kristomei di Istana Kepresidenan pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Kristomei mencontohkan, Singapura menawarkan bantuan berupa angkutan pesawat Hercules C-130 serta masker dan air minum. Namun, Pemerintah Indonesia sendiri juga sudah memiliki pesawat serupa sehingga tawaran itu masih dianalisis efektivitasnya.
"Kalau kita punya pesawat C-130 sendiri, ya kenapa harus punya dari orang luar. Kita lihat keefektifan yang ditaruh oleh mereka itu apa," kata jenderal bintang tiga itu.






















