Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Prabowo Kembali ke Indonesia Usai Hadiri KTT BRICS 2026 di India
Prabowo Kembali ke Indonesia Usai Hadiri BRICS 2026 di India (dok. Sekretariat Presiden)
  • Presiden Prabowo Subianto tiba di Jakarta pada 14 September 2026 setelah menghadiri KTT BRICS di India, disambut Wakil Presiden Gibran serta sejumlah pejabat negara.
  • Di forum BRICS, Prabowo mendorong anggota mengubah kerentanan menjadi peluang melalui ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan demi ekonomi yang lebih kuat, adil, serta bermanfaat bagi rakyat.
  • Prabowo menyoroti tantangan Indonesia sebagai negara kepulauan di Cincin Api, sekaligus potensi mineral kritis, energi, dan hutan BRICS untuk mendukung pembangunan hijau.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto kembali ke Indonesia usai menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026, di India pada sejak Sabtu (12/9/2026) hingga kemarin. Pesawat yang membawa Presiden Prabowo mendarat di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Senin (14/9/2026), pukul 00.08 WIB.

Kedatangan Prabowo disambut Wakil Presiden Gibran Rakabuming, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Muhammad Herindra.

1. Prabowo dorong BRICS satukan sumber daya

Prabowo saat menghadiri sesi terbatas bertema Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026) (Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Prabowo menekankan pentingnya negara-negara anggota BRICS mengubah berbagai kerentanan menjadi peluang dan kekuatan untuk membangun perekonomian yang lebih kuat, adil, dan mampu memberikan kemakmuran bagi rakyat.

Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menyampaikan ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan harus diarahkan pada satu tujuan bersama, yakni membangun perekonomian yang lebih kuat dan lebih adil serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Ketahanan kita harus memberikan manfaat bagi rakyat kita dan untuk memberikan manfaat bagi rakyat kita, kita harus mampu mengubah kerentanan kita menjadi peluang. Kelemahan kita menjadi kekuatan," ujar Prabowo, seperti dilansir Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden.

2. Indonesia hadapi berbagai tantangan tapi memiliki kekayaan

Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India. (Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Indonesia, ujar Prabowo, sangat memahami tantangan tersebut. Sebagai negara kepulauan yang berada di kawasan Cincin Api yang aktif, Indonesia menghadapi berbagai tantangan seperti kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan aktivitas gunung berapi. Di sisi lain, Prabowo menegaskan, Indonesia memiliki kekayaan daratan dan lautan yang dapat menjadi landasan bagi masa depan.

"Daratan dan lautan kita juga menyimpan banyak hal yang akan menjadi landasan bagi masa depan. Mineral kritis, tanah jarang, sumber daya terbarukan untuk teknologi bersih dan teknologi tinggi, serta hutan yang bernapas bagi dunia. Hal yang sama juga berlaku di seluruh BRICS," kata dia.

3. Negara anggota BRICS punya fondasi dalam membangun abad hijau

Presiden RI Prabowo Subianto bersama para pemimpin negara anggota BRICS menanam pohon banyan dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026) (Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Selain itu, Prabowo menilai negara-negara BRICS memiliki kekuatan besar karena secara bersama-sama menguasai porsi signifikan dari mineral kritis dan sumber daya energi dunia. Menurut Prabowo, potensi tersebut dapat menjadi fondasi penting dalam membangun abad hijau.

"Kita memiliki segala sesuatu yang menjadi landasan bagi abad hijau. Itulah sebabnya, ketika bencana melanda, kita harus melihatnya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar bencana. Kita harus melihat keterkaitan erat antara ketahanan terhadap perubahan iklim dan pembangunan nasional," ujar Prabowo.

Curated For You

Editorial Team

Related Article