Kim Jong Un Buka Fasilitas Hiburan dan Belanja bagi Warga Korut

- Korea Utara membuka fasilitas hiburan dan pusat belanja modern, sambil mempertahankan kendali ketat negara; impor alat rekreasi dari China serta pembayaran digital di kota-kota turut meningkat.
- Pariwisata domestik diperluas lewat resor Wonsan Kalma, hotel mewah dan arena ski di Samjiyon, serta mal modern di Pyongyang yang menjual barang impor dan makanan mewah.
- Pengamat menilai fasilitas ini menyerap tabungan kelas menengah ke kas negara, meski pembelot mengatakan layanan mewah tersebut sulit dijangkau pekerja biasa di tengah sanksi internasional.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Korea Utara mulai membuka berbagai fasilitas hiburan dan pusat perbelanjaan modern bagi warganya. Kebijakan ini merupakan langkah konkret pemerintah untuk menyediakan ruang rekreasi yang memadai bagi masyarakat perkotaan.
Transformasi tersebut secara perlahan mengubah citra Korea Utara yang selama ini dikenal sangat kaku dan tertutup. Langkah strategis ini dirancang guna memenuhi kebutuhan hiburan publik tanpa sedikit pun mengurangi kendali ketat negara atas warganya.
1. Impor peralatan rekreasi asal China melonjak drastis
Data Bea Cukai China mencatat adanya lonjakan pengiriman barang rekreasi ke Korea Utara dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Impor alat pijat melonjak hingga 40 kali lipat, sementara pengadaan treadmill naik sebesar 600 persen. Tak hanya itu, sejak awal 2025, Korea Utara juga tercatat mengimpor berbagai perlengkapan wahana bermain, termasuk tiga ton komponen bumper car.
Gaya hidup modern ini turut didukung oleh perluasan sistem pembayaran digital via ponsel pintar di kawasan perkotaan. Alhasil, transaksi belanja barang-barang impor kini dapat berlangsung jauh lebih cepat dan praktis.
"Pembayaran melalui aplikasi seluler kini digunakan oleh masyarakat di mana-mana untuk membeli barang apa pun," ungkap pendiri Young Pioneer Tours, Rowan Beard.
2. Pembangunan resor wisata dan pusat perbelanjaan mewah
Korea Utara terus memperluas sektor pariwisata domestiknya melalui pembukaan resor pantai Wonsan Kalma pada pertengahan 2025 lalu. Pemerintah juga telah membangun lima hotel mewah di kawasan Samjiyon yang dilengkapi dengan fasilitas arena ski. Lebih dari 300 ribu wisatawan lokal tercatat mendatangi resor pantai tersebut sepanjang paruh kedua tahun 2025.
Sementara itu di ibu kota Pyongyang, pemerintah mendirikan pusat perbelanjaan modern yang menjajakan perhiasan, kopi, hingga berbagai makanan mewah. Fasilitas-fasilitas rekreasi ini dilaporkan selalu dipadati oleh pengunjung, terutama saat musim panas tiba.
"Seorang warga lokal memberi tahu saya bahwa saat membawa keluarganya berlibur ke sana, mereka terpaksa harus berbagi kamar karena seluruh kamar lainnya sudah habis dipesan," ujar Rowan Beard, dikutip dari The Japan Times.
3. Strategi negara menyerap modal masyarakat ke kas pemerintahan
Para pengamat menilai bahwa pembukaan fasilitas hiburan ini merupakan strategi cerdik pemerintah untuk menyerap dana masyarakat masuk ke kas negara. Langkah ekonomi ini secara khusus menyasar sekitar delapan juta warga kelas menengah yang diyakini memiliki tabungan pribadi. Pengalihan pola belanja masyarakat ini diklaim berhasil menekan inflasi bahan pangan pokok dan mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 3,5 persen.
Meski demikian, kalangan pembelot menyebutkan bahwa deretan fasilitas mewah tersebut masih sangat sulit dijangkau oleh kelas pekerja biasa. Kebijakan pendorong konsumsi ini dinilai sekadar menjadi solusi sementara bagi pemerintah untuk menjaga kepuasan publik di tengah gempuran sanksi internasional.
"Strategi ini pada dasarnya berupaya menarik produksi, distribusi, dan modal dari pasar bebas untuk masuk kembali ke dalam ruang ekonomi resmi negara," jelas peneliti Hyundai Research Institute, Kang Seong-hyeon.





















