Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Prima Kritis Ada Upaya Lemahkan Stabilitas di Tengah Gejolak Global
Jajaran Partai Rakyat Adil Makmur (Prima) di Kantor DPP Prima, Jakarta Pusat (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Achmad Herwandi menilai narasi pesimistis di dalam negeri dapat melemahkan stabilitas nasional dan ekonomi, karena persepsi publik berpengaruh langsung terhadap investasi serta kepercayaan pasar.
  • Ia menyebut ekonomi Indonesia masih menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan pendapatan negara dan kebijakan menjaga harga BBM bersubsidi, termasuk langkah strategis menuju kemandirian energi melalui program B50.
  • Achmad menegaskan pentingnya menjaga persatuan nasional di tengah ketidakpastian global, menyerukan kritik yang konstruktif berbasis data agar stabilitas politik dan ekonomi tetap terjaga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Bendahara Umum DPP Partai Prima, Achmad Herwandi, menyoroti munculnya narasi pesimistis di dalam negeri di tengah situasi global yang penuh tekanan. Ia menilai, kondisi dunia yang tidak pasti seharusnya direspons dengan penguatan persatuan nasional, bukan justru memperkeruh keadaan dengan narasi negatif.

Menurutnya, dunia saat ini tengah menghadapi berbagai tekanan serius, mulai dari konflik geopolitik hingga ketegangan di jalur energi strategis. Situasi tersebut membuat stabilitas energi, pangan, dan keuangan menjadi faktor krusial bagi banyak negara.

1. Narasi negatif dinilai melemahkan stabilitas

Ilustrasi media sosial yang digunakan anak muda. (IDN Times/Aditya Pratama)

Achmad menyayangkan munculnya narasi yang menggambarkan Indonesia seolah berada di ambang krisis. Padahal, di tengah tekanan global, banyak negara justru memperkuat konsolidasi internal mereka.

“Dalam situasi global yang penuh tekanan seperti ini, negara-negara besar justru memperkuat konsolidasi internal mereka. Namun sangat disayangkan, di dalam negeri justru muncul narasi-narasi yang menggambarkan Indonesia seolah berada di ambang krisis, bahkan disertai wacana politik ekstrem yang berpotensi mengganggu stabilitas nasional,” ujar Achmad.

Ia menegaskan, narasi krisis yang tidak berbasis data berisiko besar terhadap kondisi ekonomi nasional. Dalam ekonomi modern, persepsi publik memiliki pengaruh langsung terhadap investasi dan konsumsi.

“Persepsi adalah realitas dalam ekonomi. Jika kita terus menyebarkan ketakutan tanpa dasar, maka kita sendiri yang merusak fondasi ekonomi nasional,” tegasnya.

2. Kondisi ekonomi Indonesia dinilai relatif positif

Penampakan situasi SPBU Ratu Dibalau, Bandar Lampung, Selasa (31/3/2026) malam. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Di sisi lain, Achmad menyebut sejumlah indikator menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia yang relatif positif. Hingga akhir Maret 2026, pendapatan negara tercatat tumbuh signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, kebijakan pemerintah dalam menjaga harga BBM bersubsidi agar tidak naik hingga akhir tahun dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Ini bukan hanya kebijakan ekonomi, tetapi juga bentuk keberpihakan negara kepada rakyat. Pemerintah hadir untuk memastikan masyarakat tidak menanggung beban global sendirian,” ujarnya.

Ia juga menyoroti arah kebijakan energi nasional, termasuk percepatan hilirisasi dan penguatan bahan bakar nabati berbasis sawit. Implementasi mandatori B50 yang direncanakan mulai berlaku pada 1 Juli 2026 disebut sebagai langkah penting menuju kemandirian energi.

“Langkah menuju B50 bukan sekadar kebijakan teknis, tetapi strategi besar untuk mengurangi ketergantungan impor energi, memperkuat industri dalam negeri, dan menciptakan nilai tambah nasional,” jelasnya.

3. Persatuan dinilai spbujadi kunci hadapi ketidakpastian

ilustrasi data ekonomi (IDN Times/Sukma Shakti)

Lebih lanjut, Achmad menekankan bahwa seluruh capaian tersebut hanya dapat terwujud jika stabilitas nasional tetap terjaga. Ia mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah berbagai tantangan global.

“Kunci utama kita hari ini adalah persatuan. Tidak ada negara yang bisa kuat jika terpecah di dalam. Tidak ada ekonomi yang bisa tumbuh jika politiknya tidak stabil,” katanya.

Ia juga menilai kritik tetap penting dalam demokrasi, namun harus disampaikan secara konstruktif dan berbasis data.

“Kita butuh kritik yang membangun, bukan narasi yang meruntuhkan. Di tengah ketidakpastian global, yang kita perlukan adalah konsolidasi nasional, bukan konfrontasi,” tegasnya.

Achmad pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap menjaga optimisme dan kepercayaan terhadap arah kebijakan negara di tengah tantangan global yang ada.

“Indonesia hari ini berada di persimpangan penting. Di satu sisi ada tantangan global, di sisi lain terbuka peluang besar. Pilihannya ada pada kita: terpecah oleh pesimisme, atau bersatu dalam optimisme. Karena pada akhirnya, kekuatan bangsa ditentukan oleh kemampuannya untuk tetap bersatu di tengah badai,” pungkasnya.

Editorial Team