Jakarta, IDN Times - Akademisi dari Universitas Bina Nusantara, Tia Mariatul Kibtiah, mendorong pemerintah segera menarik semua pasukan TNI yang masih tersisa di misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Rekomendasi itu diusulkan Tia merespons gugurnya tiga prajurit TNI dalam dua insiden terpisah, yakni pada 29 Maret dan 30 Maret 2026. Ia yakin dua insiden itu dipicu serangan militer Israel, bukan kelompok Hizbullah.
"Sekarang apa solusinya? Mau PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) diminta bertanggung jawab untuk peacekeeping kita? PBB saja tidak menunjukkan tanggung jawabnya ketika Israel menewaskan hampir 80 ribu penduduk Palestina," ujar Tia ketika dihubungi IDN Times melalui telepon, Minggu (5/4/2026).
"PBB itu lembaga ompong, karena mayoritas funding berasal dari Amerika Serikat. Di konflik lainnya mulai dari Sudan, Yaman, hingga Suriah. Ada peran PBB di situ? Apalagi urusan peacekeeping," lanjutnya.
Selain tiga prajurit yang gugur, saat ini masih ada delapan anggota TNI lainnya yang terluka. Menurut Tia, sangat disayangkan bila prajurit TNI mati sia-sia lantaran tak mendapatkan perlindungan maksimal dari PBB. Sebab, keberadaan mereka di Lebanon selatan untuk menjaga perdamaian bukan aktif ikut berperang.
"Mereka yang gugur itu anak-anak muda yang tangguh dan hebat. Di masa depan, mereka akan menjaga kita. Jadi, jangan sampai mati sia-sia," tutur dia.
