SBY: Pasukan Penjaga Perdamaian Kini Sudah Berada di Medan Pertempuran

- SBY mendukung langkah pemerintah meminta investigasi PBB atas insiden UNIFIL Lebanon yang menewaskan tiga prajurit TNI, menekankan pentingnya penjelasan jujur dan dapat dipercaya.
- SBY menyoroti pasukan penjaga perdamaian kini berada di zona perang akibat pergeseran garis konflik, dan mendesak PBB segera mengambil keputusan tegas demi keselamatan personel.
- SBY menghadiri upacara penghormatan tiga prajurit gugur, menyampaikan duka mendalam kepada keluarga, serta memberi semangat bagi 753 pasukan TNI yang masih bertugas di Lebanon.
Jakarta, IDN Times - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendukung langkah yang ditempuh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, untuk meminta penjelasan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) soal penyebab insiden yang terjadi di misi UNIFIL Lebanon pada pekan ini.
Tiga prajurit TNI gugur dalam dua insiden berbeda yang terjadi pada 29 Maret dan 30 April 2026. Mereka adalah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Fahrizal Rhomadhon.
"Indonesia berhak untuk itu (investigasi yang serius, jujur dan adil). PBB (utamanya UNIFIL) dengan penuh rasa tanggung jawab harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun terjadi. Akibatnya jatuh korban jiwa dan luka-luka dari peacekeeper dari Indonesia," cuit pria yang akrab disapa SBY itu, Minggu (5/4/2026).
Ia menyadari investigasi dalam situasi pertempuran yang dinamis tidak mudah. Tetapi investigasi itu, kata SBY, tetap dapat dilakukan dengan harapan hasilnya dapat dinalar dan masuk akal. Istilah yang dipakai SBY acceptable dan believeable narrative.
Ketiga jenazah prajurit TNI yang gugur tiba di Tanah Air pada Sabtu, 4 April 2026, dan dimakamkan di taman makam pahlawan di dua lokasi berbeda pada hari ini.
1. Pasukan penjaga perdamaian tak dilengkapi dengan senjata yang mumpuni

SBY memiliki pengalaman pribadi pernah ikut menjadi pasukan perdamaian PBB pada 1995-1996 di Bosnia. Ketika itu, kata dia, ia menjabat sebagai kepala pengamat militer PBB. Itu sebabnya ketika digelar upacara penghormatan penerimaan jenazah tiga prajurit TNI, SBY memakai baret biru khas PBB.
"Ketika itu pangkat saya brigadir jenderal. Investigasi terhadap pelanggaran gencatan senjata juga sering kami lakukan," katanya.
SBY menjelaskan kontingen Garuda XXIII/S yang sedang mengemban tugas di Lebanon memiliki tugas utama untuk menjaga perdamaian (peace keeping). Tugas mereka bukan menciptakan perdamaian atau peace making.
"Peacekeeper tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak pula diberikan mandat, untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran. Ini diatur di dalam chapter 6 piagam PBB. Mereka bukan menegakan chapter 7 yang punya misi 'to enforce the peace' dalam arti melaksanakan tugas yang lebih keras untuk sebuah peacemaking," tutur pria yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu.
2. Pasukan penjaga perdamaian kini sudah berada di medan pertempuran

SBY juga menggarisbawahi pasukan penjaga perdamaian bertugas di wilayah blue line atau blue zone. Area itu bukan merupakan area pertempuran atau war zone.
"Hakikatnya kontingen Indonesia bertugas di blue line yang memisahkan teritori Israel dengan teritori Lebanon. Sekarang ini, kenyataannya mereka yang semula berada di sekitar blue line kini sudah berada di war zone yang sehari-hari berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah," kata SBY.
Bahkan, kata SBY, realita di lapangannya Israel sudah maju 7 kilometer dari Blue Line. Keadaan tersebut sangat berbahaya bagi pasukan penjaga perdamaian karena setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung.
"Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York bisa segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini," tutur dia.
Dewan Keamanan PBB, kata SBY, harus segera bersidang dan dapat mengeluarkan resolusi yang tegas dan jelas.
3. SBY ikut berduka cita atas gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon

SBY sendiri pada Sabtu malam ikut upacara penghormatan tiga jenazah prajurit TNI yang gugur di misi UNIFIL. Hati SBY merasa tergetar ketika menyaksikan air mata yang jatuh di pipi keluarga yang ditinggalkan. Bahkan, salah satu istri prajurit yang gugur nyaris pingsan.
"Ketika saya ikut memberikan penghormatan kepada jenazah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Fahrizal Rhomadhon, hati saya ikut tergetar," katanya.
Ia pun memahami prajurit sudah disumpah untuk siap mengorbankan jiwa dan raga ketika negara memanggil. "Saya bisa mersakan duka yang mendalam dari keluarga mereka (istri, anak dan orang tua) yang turut hadir di Cengkareng, semalam," tutur dia.
Dalam catatannya, hingga 2026, Indonesia sudah 19 kali bertugas di Lebanon, dengan masa penugasan rata-rata satu tahun. Dalam pandangannya, misi UNIFIL jadi yang terlama yang diemban oleh pasukan perdamaian asal Indonesia.
Di penghujung catatannya, SBY menitipkan pesan kepada 753 pasukan TNI yang masih ada di Lebanon. Ia menitipkan pesan kepada para prajurit agar teta psemangat dalam mengemban tugas mulia.
"Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air," imbuhnya.

















