Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ribuan Korban PT DSI Apresiasi Bareskrim Usut Penipuan Rp2,5 Triliun
Penggeledahan PT Dana Syariah Indonesia (DSI) di SCBD Jakarta Selatan, 23 Januari 2026. (IDN Times/Irfan Fathurohman)
  • Ribuan korban PT Dana Syariah Indonesia melalui PDLSI mengapresiasi langkah Bareskrim Polri dalam mengusut dugaan fraud senilai Rp2,5 triliun yang merugikan sekitar 14.000 lender.
  • PDLSI menekankan pentingnya pemulihan hak-hak korban melalui pelacakan, penyitaan, dan pengembalian aset agar keadilan dapat terwujud sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
  • Bareskrim bersama PPATK dan OJK telah menyita aset lebih dari Rp300 miliar serta menetapkan lima tersangka dalam kasus ini untuk memaksimalkan proses asset recovery.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Oktober 2025

Bareskrim Polri memulai penyelidikan perkara dugaan penipuan PT Dana Syariah Indonesia dan mulai menyita aset senilai lebih dari Rp300 miliar.

9 Juni 2026

Berkas perkara dan tiga tersangka utama, yaitu TA, MY, dan ARL, beserta barang bukti diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum.

27 Juni 2026

Ketua PDLSI Achmad D Pitoyo menyampaikan apresiasi kepada Bareskrim Polri atas profesionalisme dalam menangani kasus PT DSI serta berharap pemulihan hak korban berjalan optimal.

kini

Proses hukum terhadap tersangka lain dan korporasi masih berlangsung dengan koordinasi antara Bareskrim dan Kejaksaan Agung RI.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Ribuan korban PT Dana Syariah Indonesia menyampaikan apresiasi kepada Bareskrim Polri atas penanganan dugaan penipuan senilai sekitar Rp2,5 triliun yang menimpa para lender.
  • Who?
    Korban tergabung dalam Paguyuban Lender Dana Syariah Indonesia (PDLSI) dipimpin Achmad D Pitoyo, serta penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri di bawah Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak.
  • Where?
    Kegiatan dan proses hukum berlangsung di Jakarta, dengan aset terkait tersebar di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Sumatera Utara.
  • When?
    Pernyataan apresiasi disampaikan pada Minggu, 27 Juni 2026. Penyelidikan kasus dimulai sejak Oktober 2025 dan berkas perkara sebagian telah diserahkan ke jaksa pada 9 Juni lalu.
  • Why?
    Apresiasi diberikan karena korban menilai Bareskrim menunjukkan profesionalisme dan komitmen dalam mengusut dugaan penipuan besar serta upaya pemulihan hak-hak korban melalui pelacakan dan penyitaan aset.
  • How?
    Bareskrim berkoordinasi dengan PPATK, OJK, Korlantas, dan BPN untuk menelusuri aset menggunakan metode follow the money. Sejauh ini telah disita aset senilai lebih dari Rp300 miliar dari berbagai bentuk kekayaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang kehilangan uang karena PT DSI diduga menipu. Uangnya besar sekali, katanya sampai triliunan rupiah. Polisi dari Bareskrim sedang kerja keras mencari uang itu lagi dan sudah tangkap beberapa orang. Orang-orang yang rugi bilang terima kasih ke polisi dan berharap uang mereka bisa kembali. Sekarang kasusnya masih diselidiki.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Apresiasi ribuan korban terhadap kinerja Bareskrim Polri mencerminkan tumbuhnya kepercayaan publik terhadap proses penegakan hukum yang profesional dan transparan. Upaya intensif penyidik dalam menelusuri serta menyita aset bernilai ratusan miliar rupiah menunjukkan komitmen nyata negara dalam memulihkan kerugian masyarakat dan menegakkan keadilan secara terukur dan berintegritas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ribuan korban yang tergabung dalam Paguyuban Lender Dana Syariah Indonesia (PDLSI) menyampaikan apresiasi terhadap proses penegakan hukum yang dilakukan Bareskrim Polri dalam penanganan perkara dugaan penipuan atau fraud PT Dana Syariah Indonesia (PT DSI).

Dalam perkara tersebut, sekitar 14 ribu lender disebut mengalami kerugian hingga kurang lebih Rp2,5 triliun.

Ketua PDLSI, Achmad D Pitoyo, mengatakan, pihaknya memahami penanganan perkara dengan jumlah korban yang besar dan tingkat kompleksitas tinggi membutuhkan waktu, ketelitian, serta kerja keras yang tidak sedikit.

“Kami menyampaikan apresiasi dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Bareskrim Polri, khususnya Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus, atas profesionalisme, dedikasi, serta kerja keras yang telah ditunjukkan dalam menangani dugaan tindak pidana fraud PT DSI,” ujar Achmad dalam keterangan tertulisnya, Minggu (27/6/2026).

1. Korban hormati proses hukum

Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menyita aset PT Dana Syariah Indonesia (PT DSI). (Dok. Bareskrim)

Menurut Achmad, upaya penyidik dalam mengumpulkan alat bukti, menelusuri aset, dan mengungkap perkara tersebut merupakan bentuk pengabdian yang patut diapresiasi.

Dia menilai, langkah Bareskrim Polri menunjukkan komitmen dalam memberikan kepastian hukum, melindungi kepentingan masyarakat, serta menegakkan hukum terhadap kejahatan ekonomi yang merugikan banyak pihak.

“Kami menghormati proses hukum yang saat ini masih berjalan dan berharap seluruh tahapan penanganan dilaksanakan secara transparan, objektif, profesional, dan berkeadilan hingga memperoleh kekuatan hukum tetap. Kepercayaan publik terhadap penegakan hukum akan semakin kuat apabila proses tersebut berjalan sesuai prinsip due process of law,” ujar dia.

2. Korban minta pemulihan hak

Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menyita aset PT Dana Syariah Indonesia (PT DSI). (Dok. Bareskrim)

PDLSI juga berharap pemulihan hak-hak korban tetap menjadi perhatian penting dalam proses penegakan hukum, terutama melalui optimalisasi pelacakan, penyitaan, dan pengembalian aset sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Harapan kami, setiap korban dapat memperoleh pengembalian haknya secara maksimal berdasarkan ketentuan hukum dan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap,” kata Achmad.

Dia mengatakan, bagi para korban, dana yang ditempatkan bukan sekadar nilai finansial, melainkan hasil kerja keras, tabungan, dan ikhtiar yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. Para korban, kata dia, menempatkan dana dengan keyakinan untuk bertransaksi melalui skema yang diyakini sesuai prinsip syariah.

“Semoga keberhasilan pengungkapan perkara ini tidak hanya memberikan efek jera kepada para pelaku, tetapi juga menjadi momentum untuk menghadirkan keadilan yang nyata melalui pemulihan hak-hak para korban secara optimal sesuai hukum yang berlaku,” kata dia.

3. Bareskrim gandeng PPATK untuk optimalkan pemulihan aset

Dirtipidektus Bareskrim Polri, Brigjen Ade Safri Simanjuntak. (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Sementara itu, Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak, mengatakan, penyidik terus mengoptimalkan dan mengintensifkan penelusuran aset dalam perkara tersebut.

“Kami berkoordinasi dengan PPATK, OJK, serta lembaga dan instansi lainnya, termasuk Korlantas dan BPN, dalam rangka mengoptimalkan pemulihan kerugian para korban melalui asset recovery dalam perkara PT Dana Syariah Indonesia,” ujar Ade Safri.

Sejak proses penyelidikan yang dilakukan pada Oktober 2025, Dittipideksus Bareskrim Polri telah menyita aset dengan estimasi nilai lebih dari Rp300 miliar. Penelusuran dilakukan menggunakan pendekatan follow the money untuk mengejar jejak keuangan dan transaksi mencurigakan guna mengungkap aset yang diduga berkaitan dengan hasil kejahatan.

Aset yang telah disita meliputi aset bergerak, aset tidak bergerak, aset piutang, deposito, uang tunai, serta saldo rekening. Rinciannya antara lain 11 objek aset tidak bergerak berupa kantor, ruko, rumah tinggal, apartemen, tanah dan bangunan, serta kavling tanah kosong yang tersebar di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Sumatera Utara, dengan total nilai sekitar Rp143 miliar.

Selain itu, penyidik juga menyita 642 sertifikat hak atas tanah berupa SHM dan SHGB milik para borrower PT DSI dengan nilai hak tanggungan sekitar Rp153 miliar, 13 deposito milik PT DSI dan PT Multiguna Cipta Mandala dengan total nilai sekitar Rp18 miliar, uang tunai dan saldo rekening sekitar Rp7 miliar termasuk dana dalam mata uang asing sebesar USD 1.092, serta empat unit kendaraan bermotor dengan estimasi nilai sekitar Rp500 juta.

Dalam perkara ini, Bareskrim Polri telah menetapkan lima orang tersangka, yakni TA selaku Direktur Utama dan pemegang saham PT DSI, MY selaku mantan direktur dan pemegang saham PT DSI, ARL selaku komisaris dan pemegang saham PT DSI, AS selaku pendiri PT DSI, serta FH yang ditetapkan sebagai tersangka baru atas dugaan keterlibatan dalam perkara penipuan dan pencucian uang.

Berkas perkara dan tiga tersangka, yakni TA, MY, dan ARL, beserta barang bukti telah diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum pada 9 Juni lalu. Sementara itu, berkas perkara tersangka AS, tersangka FH, serta tersangka korporasi dalam mekanisme splitsing masih berjalan secara simultan.

“Koordinasi efektif terus dilakukan dengan JPU di Kejaksaan Agung RI untuk penyelesaian perkara,” ujar Ade Safri.

Editorial Team

Related Article