Dari Istana hingga Cendana, Cara Soeharto Mengatur Pemerintahan

- Soeharto dikenal disiplin dan terstruktur, menerapkan prinsip kepemimpinan militer dalam menjalankan pemerintahan serta menuntaskan setiap pekerjaan tanpa penundaan.
- Ia mengatur lokasi penerimaan tamu berdasarkan tingkat kepentingan, dari Istana Negara hingga kediamannya di Cendana demi efisiensi dan kelancaran aktivitas kenegaraan.
- Cendana menjadi tempat pengambilan keputusan penting, termasuk pertemuan Soeharto dan B.J. Habibie menjelang berakhirnya masa kekuasaan Orde Baru pada Mei 1998.
Jakarta, IDN Times - Presiden ke-2 RI Soeharto memiliki disiplin kerja yang sangat tinggi. Latar belakang militernya telah membentuk Soeharto sebagai sosok pemimpin yang terstruktur dan sistematis.
Soeharto memiliki pola kerja teratur. Prinsip-prinsip kepemimpinan ABRI "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani" menjadi pegangan dasar saat memimpin Indonesia selama tiga dekade lebih.
Dalam otobiografi berjudul Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, digambarkan bahwa Soeharto merupakan sosok presiden yang tidak pernah mau menunda pekerjaan.
"Tak mau saya menunda-nundanya dengan alasan 'saya capek, nanti saja' dan sebagainya. Sebab, kalau tidak saya selesaikan cepat, berarti memberi contoh kurang baik kepada bawahan," kata Soeharto dalam buku tersebut seperti dilansir IDN Times, Sabtu (27/6/2026).
Sikap disiplin tersebut tercermin dari pola kerja yang teratur, pengaturan jadwal yang ketat, serta kebiasaannya memimpin rapat dan menerima tamu sesuai agenda yang telah ditetapkan.
"Prinsip kerja saya: harus segera selesai, segera tuntas. Apakah itu laporan menteri, dari eselon satu, dari masyarakat atau pun dari tamu-tamu negara," kata dia.
1. Cara Soeharto memimpin rapat dan terima tamu

Dalam catatan tersebut, Soeharto juga memiliki pola teratur dalam urusan memimpin rapat hingga menerima tamu, baik menteri, tokoh politik hingga tamu kenegaraan. Lokasi penerimaan tamu disesuaikan dengan tingkat kepentingan dan kedudukan tamu yang datang.
Tamu negara diterima Soeharto di Istana Negara, penyerahan surat kepercayaan duta besar dilakukan di Istana Merdeka, sedangkan pertemuan yang bersifat nasional atau kegiatan sehari-hari umumnya berlangsung di Bina Graha. Untuk tamu dalam jumlah kecil, Soeharto memilih menerima mereka di kediamannya, di Cendana.
"Apakah saya bekerja di rumah, di Istana atau di Bina Graha itu disesuaikan dengan tamu dan kedudukan tamu yang saya terima. Saya menierima credential di Istana Merdeka. Menerima tamu negara harus di Istana Negara. Kalau sifatnya nasional atau sehari-hari, saya menerimanya di Bina Graha, sedangkan yang sedikit jumlahnya saya terima di rumah," kata dia.
2. Alasan Presiden Soeharto bekerja dari rumah

Alasan Soeharto bekerja atau menerima tamu dari rumah sederhana saja. Menurut dia, bergerak dari kediaman ke Istana atau ke Bina Graha memerlukan energi dan biaya yang tidak kecil. Pengawalan Kepala Negara dari rumah di Jalan Cendana ke Istana atau ke Bina Graha memerlukan pengeluaran yang cukup berarti.
Selain itu, pengawalan presiden yang ketat juga bisa mengganggu lalu lintas karena iring-iringan presiden yang cukup panjang. Ia merasa tidak ingin merepotkan rakyatnya hanya karena menerima tamu yang jumlahnya juga hanya satu atau dua orang saja. Kendati demikian, baik bekerja dari Istana, Bina Graha, atau Cendana, sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan, Soeharto tetap bersedia bekerja 24 jam.
"Jadi, bukan karena saya malas, melainkan karena efisiensi. Dan saya mengambil prinsip, di mana pun` saya harus bisa mėľaksanakan tugas saya, Ya, di Istana, ya di Bina Graha, ataupun di rumah. Saya harus bersedia bekerja 24 jam," kata dia.
Menurut arsip foto ANRI, Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad pernah diterima Soeharto di kediamannya, di Cendana, Jakarta, pada 8 Oktober 1985 untuk membahas proyek mobil Proton.
3. Cendan jadi saksi bisu keputusan penting kerusuhan 1998

Dalam catatan lain juga digambarkan, Cendana sebagai lokasi strategis bagi Soeharto untuk mengambil keputusan-keputusan penting termasuk detik-detik runtuhnya rezim orde baru.
Presiden ke-3 RI B.J Habibie dalam buku "Detik-Detik yang menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi" menceritakan saat ia akan menghadap Soeharto di Cendana.
Pada 20 Mei 1998 sore, Habibie merancang materi untuk dilaporkan langsung kepada Soeharto di kediamannya di Cendana pada malam harinya.
"Saya sedang mempersiapkan materi untuk dilaporkan kepada Presiden sesuai rencana di rumah pribadi Cendana, pukul 19.30 pada tanggal 20 Mei 1998. Bahan masukan saya peroleh dari Sekretariat Koordinator Harian Keluarga Besar Golkar," tulis Habibie dalam buku tersebut.
Di tengah situasi yang genting itu, Soeharto menjamu Habibie dengan secangkir teh. Pertemuan itu sedianya menindaklanjuti unjuk rasa besar-besaran yang meminta Soeharto mundur sebagai Presiden Republik Indonesia.
"Pak Harto menyampaikan bahwa ia sudah dengar dari Tutut, tetapi belum membaca suratnya. Kemudian Pak Harto mengulurkan tangannya untuk saya jabat, sebagai isyarat bahwa ia menghendaki diakhirinya pertemuan tersebut," tulisnya.














