Jakarta, IDN Times - Terdakwa Roy Suryo menanyakan nama lurah hingga jumlah anaknya kepada Presiden ke-7 RI Joko "Jokowi" Widodo saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pertanyaan itu disampaikan dalam sidang kasus dugaan pencemaran nama baik terkait tuduhan ijazah palsu Jokowi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (5/11/2026).
Awalnya, Roy menanyakan apakah Jokowi masih mengingat nama lurah di tempatnya menjalani KKN.
"Pak Jokowi masih ingat nama lurah yang Bapak tinggali?" tanya Roy Suryo.
"Pak Lurah Jentu," jawab Jokowi.
Roy kemudian memastikan nama tersebut dan menanyakan jumlah anak Pak Jentu.
"Betul. Pak Lurah Jentu punya berapa anak, Bapak? Pasti ingat," kata Roy.
Namun, Jokowi mengaku tidak mengetahui jumlah anak Pak Jentu karena tidak mengurus keluarganya selama menjalani KKN.
"Saya KKN tidak ngurus anaknya lurah," jawab Jokowi.
Roy kemudian menanggapi jawaban Jokowi dengan menyinggung masa tinggal selama tiga bulan di lokasi KKN.
"Baik. Jadi nggak apa-apa. Padahal kalau tinggal di sana 3 bulan, pasti ketemu. Ingat nggak? Nggak-Nggak apa-apa kalau nggak ingat urusan anak. Ada salah satu putranya Pak Jentu ujar Roy.
Pertanyaan Roy belum selesai ketika Jaksa Penuntut Umum mengingatkan bahwa waktu pemeriksaan telah melewati lima menit.
"Mohon izin, Yang Mulia, waktunya sudah habis lewat 5 menit, Yang Mulia. Kami membantu mengingatkan, Yang Mulia," kata jaksa.
Roy kemudian menyampaikan masih ada satu pertanyaan terakhir.
"Siap. Baik, terakhir. Terakhir yang saya katakan, karena ini penting sekali, ya. Sekali lagi, Bapak. Ini penting," ujar Roy.
Hari ini, Pengadilan Jakarta Timur menggelar sidang perkara dugaan pencemaran nama baik terkait tuduhan ijazah palsu yang menjerat Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma. Pada sidang kedelapan ini, Presiden ketujuh RI, Joko "Jokowi" Widodo diagendakan hadir sebagai saksi.
Untuk mengamankan jalannya persidangan, sebanyak 6.770 personel gabungan TNI dan Polri dikerahkan. Kapolres Jakarta Timur Kombes Pol Alfian Nurrizal mengatakan, ribuan personel tersebut terdiri dari 1.200 personel TNI dan 5.570 personel Polri.
Polisi juga menyiapkan dua unit mobil water cannon atau AWC serta mobil penerangan untuk menyampaikan imbauan kepada massa agar menjaga ketertiban.