Pembangunan di Sungai Batang Kuranji untuk cegah banjir. (Dok. Tim Media Satgas PRR)
Selain di kawasan Gunung Marapi, upaya pengendalian banjir juga dilakukan di Sungai Batang Kuranji, tepatnya di kawasan Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Kota Padang.
Banjir bandang pada November 2025 menyebabkan kerusakan rumah warga sekaligus mengubah aliran sungai. Penanganan darurat dilakukan melalui pembangunan tanggul dan normalisasi sungai oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V.
Dampak penanganan darurat mulai dirasakan masyarakat. Saat hujan deras pada 8 Oktober 2026, aliran air di kawasan Batu Busuk tidak meluap ke permukiman warga.
Warga Sungai Batang, Andri Vibranta, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan setelah tanggul dan dinding penahan dibangun. Meski demikian, ia berharap penanganan permanen segera dilakukan karena tanggul yang tersedia masih bersifat darurat.
"Meski berstatus darurat, kenaikan air di aliran sungai sudah tidak lagi meluap ke permukiman masyarakat. Seperti saat hujan deras yang terjadi pada 8 Oktober 2026, di Batu Busuk aliran air masih aman terkendali," ujarnya.
Plt Kepala BWS Sumatera V Sumbar, Reski, mengatakan penanganan pengendalian banjir di Sumbar mencakup 43 titik terdampak. Setelah pekerjaan tanggap darurat, penanganan permanen direncanakan pada 25 titik aliran sungai, termasuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuranji di Batu Busuk.
Di lokasi tersebut, penanganan permanen mencakup normalisasi sungai sepanjang 2,4 kilometer dan pembangunan sabo dam. Pekerjaan dijadwalkan berlangsung mulai November 2026.
Menteri Pekerjaan Umum, Dodi Hanggodo, menjelaskan pengendalian banjir perlu dilakukan dari bagian hulu hingga hilir. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah terbentuknya tanggul alam dari material sedimen setelah banjir. Jika jebol saat hujan deras, kondisi tersebut dapat memicu kerusakan lebih besar.
"Kita perlu mewanti potensi bahaya hulu. Pascabanjir berulang akan terbentuk tanggul alam yang berbahaya jika terjadi hujan deras. Hujan deras di atas hulu, tanggul pecah biasanya membuat kerusakan yang lebih parah," kata Dodi.
Karena itu, Kementerian PU meminta balai sungai melakukan pemeriksaan melalui susur sungai dan merencanakan pembangunan cek dam di bagian hulu. Langkah tersebut bertujuan mengendalikan material yang terbawa aliran sehingga tidak seluruhnya turun ke kawasan hilir.
Selain penanganan di hulu, normalisasi sungai juga dilakukan untuk meningkatkan kapasitas aliran. Dalam pekerjaan di Batang Kuranji, pengangkatan material sedimen direncanakan mencapai 24.000 meter kubik.
Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pengendalian banjir serta sedimen di Batang Kuranji untuk periode 2026–2028 dianggarkan sebesar Rp249,56 miliar.
Melalui percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pascabencana, upaya pengendalian banjir di Sumbar diarahkan tidak hanya untuk memulihkan kondisi sungai, tetapi juga mengurangi risiko bencana berulang serta memberikan perlindungan lebih baik bagi masyarakat di kawasan terdampak.