Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perang di Yaman: 135 Ribu Warga Taiz Mengungsi dalam 2 Bulan

3 min read
Perang di Yaman: 135 Ribu Warga Taiz Mengungsi dalam 2 Bulan
ilustrasi bendera Yaman (Aerra Carnicom, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Sebanyak 135.587 warga, termasuk 52.979 anak, mengungsi dari Taiz antara 10 Agustus hingga 15 Oktober di tengah eskalasi militer dan pengepungan.
  • Pemerintah mendokumentasikan 494 pelanggaran terhadap sipil, dengan 79 orang tewas, 206 terluka, serta kerusakan rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, jalan, dan jembatan.
  • Krisis mengancam layanan kesehatan: 120 fasilitas berhenti beroperasi, sementara perawatan lebih dari 186.000 anak balita dan hampir 23.000 perempuan hamil terganggu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Lebih dari 135 ribu orang dilaporkan mengungsi di Provinsi Taiz, barat daya Yaman, dalam rentang waktu sekitar dua bulan di tengah periode eskalasi militer dan pengepungan wilayah. Berdasarkan data pemerintah Yaman, puluhan warga sipil juga tercatat tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka di kawasan tersebut.

Menteri Urusan Sosial dan Tenaga Kerja Yaman, Mukhtar Omar Saleh Al-Yafei, memaparkan data tersebut dalam konferensi pers pemerintah di ibu kota sementara, Aden, pada Rabu (28/10/2026). Menurut laporan kantor berita Yaman, SABA, data tersebut mencakup periode eskalasi militer dan pengepungan yang dituduhkan pemerintah dilakukan oleh kelompok Houthi di sebagian wilayah provinsi tersebut.

  1. 1. Puluhan korban jiwa dan puluhan bangunan rusak di Taiz

    Taiz, Yaman
    Taiz, Yaman (Rod Waddington, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

    Al-Yafei mengungkapkan bahwa pemantauan lapangan mencatat pengungsian 19.600 keluarga yang terdiri dari 135.587 orang. Dari total jumlah pengungsi tersebut, sebanyak 52.979 orang di antaranya merupakan anak-anak. Data resmi ini mencakup periode pemantauan sejak 10 Agustus hingga 15 Oktober.

    Dilansir Anadolu Agency, kementerian mendokumentasikan 494 pelanggaran terhadap warga sipil selama periode yang sama, mencakup 79 korban tewas dan 206 orang luka-luka. Kerusakan fisik menimpa 56 bangunan tempat tinggal, 12 fasilitas pendidikan, delapan fasilitas kesehatan, 10 jalan dan jembatan, serta properti dan fasilitas publik lainnya. Al-Yafei menyerukan respons kemanusiaan yang lebih luas guna mengatasi kekurangan pendanaan dan kesenjangan layanan penting.

  2. 2. Ratusan fasilitas kesehatan berhenti beroperasi akibat krisis

    ilustrasi rumah sakit
    ilustrasi rumah sakit (pexels.com/Pixabay)

    Gubernur Taiz, Nabil Shamsan, menyatakan bahwa lebih dari 1,3 juta orang bermukim di enam distrik yang terdampak aksi pengepungan. Serangan artileri yang berlangsung di kawasan tersebut juga telah merusak atau menghancurkan sekitar 676 rumah warga.

    Shamsan memperingatkan bahwa operasional pelayanan di 12 rumah sakit dan 18 pusat kesehatan kini berada di bawah ancaman. Di distrik-distrik yang dikuasai Houthi, sebanyak 120 fasilitas kesehatan berhenti beroperasi sepenuhnya dan 66 unit lainnya hanya berfungsi sebagian.

    Kondisi berhentinya operasional medis tersebut mengganggu perawatan bagi lebih dari 186.000 anak di bawah usia lima tahun. Gangguan layanan kesehatan ini juga berdampak langsung pada pemenuhan perawatan bagi hampir 23.000 perempuan hamil di wilayah terdampak.

  3. 3. Eskalasi militer berkepanjangan melanda wilayah Yaman

    Pasukan Houthi
    Pasukan Houthi (Henry Ridgwell, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Taiz merupakan provinsi dengan penduduk terbanyak di Yaman yang wilayahnya terbelah kekuasaannya antara pasukan pemerintah dan kelompok Houthi. Pasukan pemerintah mengendalikan Kota Taiz yang berstatus ibu kota provinsi serta beberapa bagian wilayah lainnya.

    Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), eskalasi militer antara kedua pihak kembali berlanjut sejak Juli, khususnya di Taiz dan Lahj, yang telah menewaskan dan melukai ribuan orang. Yaman sendiri dilanda perang berkepanjangan sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada September 2014. Koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi kemudian melakukan intervensi militer pada Maret 2015 untuk menyokong pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More