Teheran dikabarkan sudah berupaya mengintervensi hasil pemilu Israel yang resmi dihelat pada Selasa (27/10/2026) lalu. Untuk selanjutnya, mereka akan berupaya mengintervensi pemilu sela AS yang akan digelar pada Selasa (3/11/2026) pekan depan.
Iran Dituding Berupaya Kacaukan Pemilu Israel dan AS

- The Telegraph, mengutip pejabat Iran anonim, melaporkan Teheran diduga berupaya mengintervensi pemilu Israel pada 27 Oktober 2026 dan pemilu sela AS pada 3 November 2026.
- Iran disebut akan memakai serangan siber untuk meretas sistem pemungutan suara AS serta merekrut agen rahasia, dengan tujuan mengacaukan kontestasi dan melemahkan Israel maupun AS.
- Pemerintah Iran mengecam pemilu Israel dan menanti hasil pemilu sela AS, sambil berharap kemenangan Partai Demokrat dapat melemahkan kekuatan Presiden Donald Trump di pemerintahan.
1. Iran akan meretas sistem pemungutan suara di pemilu AS

ilustrasi peretasan (pexels.com/Julio Lopez) Salah satu dari pejabat tadi menambahkan, Iran akan mengintervensi pemilu sela di AS dengan serangan siber. Caranya, Teheran akan meretas sistem pemungutan suara dalam pemilu tersebut. Langkah ini dilakukan untuk memengaruhi hasil perolehan suara. Pejabat lainnya mengatakan, Iran juga akan merekrut agen-agen rahasia dari AS untuk mengacaukan proses pemilu di sana.
Pejabat itu menjelaskan, semua tindakan ini tidak bertujuan untuk mendukung salah satu kandidat atau pihak, tetapi murni bertujuan untuk mengacaukan kontestasi politik di Israel dan AS. Sebab, Iran ingin memanfaatkan pemilu di Israel dan AS sebagai momen untuk melemahkan kekuatan kedua negara tersebut.
2. Iran mengecam pemilu Israel dan AS

potret Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei (commons.wikimedia.org/Foad Ashtari) Kabar ini muncul usai Pemerintah Iran mengecam gelaran pemilu di Israel dan AS. Belum lama ini, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan, pemilu di Israel hanya merupakan ajang untuk memilih “Pemimpin mana yang akan paling banyak membunuh”. Sebab, siapa pun yang menang di pemilu Israel akan tetap melakukan genosida di Palestina.
Selain itu, Baghaei juga mengatakan Iran saat ini sedang menunggu proses pemilu sela di AS yang akan dihelat pekan depan. Iran ingin mengetahui siapa partai yang akan memenangi pemilu tersebut. Apakah itu partai pendukung Presiden Donald Trump, Partai Republik atau partai oposisi AS, Partai Demokrat.
3. Iran berharap hasil pemilu sela AS akan melemahkan kekuatan Trump

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore) Iran sendiri berharap Partai Demokrat yang akan memenangi pemilu sela di AS pekan depan. Sebab, jika Partai Demokrat menang, mereka akan menguasai senat dan parlemen Negeri Paman Sam. Hal ini tentu akan melemahkan kekuatan Trump di pemerintahan. Sebab, anggota senat dan parlemen AS dari Partai Demokrat sebagai partai oposisi sering mengecam dan menghambat kebijakan Trump, terutama yang menyangkut perang dengan Iran yang sudah menghabiskan banyak biaya.
Kepada The Telegraph, sejumlah pengamat politik mengatakan bahwa Partai Demokrat punya peluang besar untuk memenangi pemilu sela di AS. Sebab, sudah banyak warga AS yang kini mengecam Trump karena sudah memulai perang dengan Iran. Akibat perang ini, harga bahan bakar di AS naik drastis sehingga harga bahan pokok juga ikut melonjak.






















