Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sebaran Debu Vulkanik di Indonesia Hari Ini, Gunung Semeru ke Tenggara
ilustrasi asap dan debu vulkanik di pegunungan (unsplash.com/Evgeny Smirnov)
  • BMKG mendeteksi debu vulkanik Gunung Dukono bergerak ke utara melintasi sebagian Halmahera Utara dan perairan barat daya Morotai, sementara debu Gunung Semeru mengarah tenggara ke Lumajang, Jember, serta perairannya.
  • Sebaran debu dari Gunung Ibu dan Lewotolo tidak terdeteksi pada citra pukul 07.00 WIB, tetapi BMKG menegaskan kondisi tertutup awan membuat keberadaan abu belum dapat dipastikan.
  • Debu vulkanik berisiko mengganggu kesehatan dan transportasi. BMKG meminta warga di area berpotensi terdampak tetap waspada, mengikuti sumber resmi serta arahan BMKG, PVMBG/Badan Geologi, dan pemerintah setempat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
17 September 2026

BMKG menganalisis citra RGB Himawari-9 pada pukul 07.00 WIB. Debu vulkanik Gunung Dukono teramati menuju utara dan Gunung Semeru menuju tenggara, sementara dari Gunung Ibu dan Gunung Lewotobi tidak terdeteksi. BMKG juga memprakirakan kondisi cuaca di sekitar gunung-gunung tersebut sepanjang hari.

dini hari 18 September

Gunung Ibu diprakirakan berkabut dengan angin dari timur. Wilayah Gunung Lewotolo diprakirakan cerah berawan dengan angin dari tenggara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BMKG mengidentifikasi sebaran debu vulkanik Gunung Dukono ke utara dan Gunung Semeru ke tenggara. Sebaran dari Gunung Ibu dan Gunung Lewotolo tidak terdeteksi pada analisis citra satelit.
  • Who?
    BMKG melakukan analisis dan mengeluarkan imbauan bagi masyarakat; gunung yang dipantau meliputi Dukono, Semeru, Ibu, dan Lewotolo.
  • Where?
    Sebaran Dukono mencakup sebagian Halmahera Utara dan perairan barat daya Morotai. Sebaran Semeru mencakup sebagian Lumajang, Jember, serta perairan Lumajang dan Jember.
  • When?
    Analisis dilakukan menggunakan citra RGB Himawari-9 pukul 07.00 WIB, Kamis, 17 September 2026.
  • Why?
    Pemantauan dilakukan karena debu vulkanik dapat memengaruhi kesehatan, jarak pandang, keselamatan berkendara, mesin transportasi, serta operasional transportasi darat, laut, dan udara.
  • How?
    BMKG menganalisis citra satelit dan memprakirakan cuaca. Masyarakat diminta tetap waspada, mengikuti informasi resmi serta arahan BMKG, PVMBG/Badan Geologi, dan pemerintah setempat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Debu dari Gunung Dukono bergerak ke utara. Debu dari Gunung Semeru bergerak ke tenggara. Debu Gunung Ibu dan Lewotolo belum terlihat karena ada awan. BMKG bilang orang di dekat tempat itu jangan panik, tapi hati-hati. Debu bisa bikin mata perih, batuk, dan perjalanan jadi susah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pemantauan satelit dan prakiraan cuaca BMKG memberi masyarakat gambaran awal mengenai arah sebaran debu serta wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan. Penyampaian imbauan untuk tetap tenang, memakai informasi terverifikasi, dan mengikuti arahan lembaga resmi juga mendukung respons yang lebih terukur di tengah kondisi gunung api yang sebagian tertutup awan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi sebaran debu vulkanik dari sejumlah gunung api di Indonesia berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9 pada pukul 07.00 WIB, Kamis (17/9/2026).

Sebaran debu vulkanik saat ini teridentifikasi dari Gunung Dukono, Gunung Semeru, Gunung Lewotolo, dan Gunung Ibu. BMKG juga memberikan perkiraan cuaca serta imbauan bagi masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak.

1. Sebaran debu vulkanik Gunung Dukono mengarah ke utara

ilustrasi erupsi gunung api (pexels.com/Jeffry Surianto)

Berdasarkan analisis citra satelit, sebaran debu vulkanik dari Gunung Dukono teramati bergerak ke arah utara. Sebaran vulkaniknya mencakup sebagian wilayah Kabupaten Halmahera Utara dan perairan barat daya Morotai.

Dalam prakiraan cuaca nya, BMKG mencatat wilayah Gunung Dukono diprediksi mengalami cuaca berawan hingga berawan tebal pada 17 September 2026. Angin diperkirakan bertiup dari timur laut pada pagi hingga siang hari, kemudian berubah dari barat daya pada malam hari.

2. Sebaran debu vulkanik Gunung Semeru mengarah ke tenggara

gambar Gunung Bromo dengan latar belakang Gunung Semeru yang sedang aktif (unsplash.com/Alessio Roversi)

Sebaran debu vulkanik dari Gunung Semeru teramati bergerak ke arah tenggara. BMKG mencatat, sebaran tersebut mencakup sebagian Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember, perairan Lumajang, dan perairan Jember.

Prakiraan cuaca menunjukkan kondisi berawan pada pagi hari dan anginnya diperkirakan bertiup dari barat daya. Sementara itu, pada siang hingga malam hari, kondisi di sekitar Gunung Semeru diprakirakan mengalami asap, serta angin yang bertiup dari timur laut.

3. Sebaran debu vulkanik Gunung Ibu dan Gunung Lewotolo tidak terdeteksi

Gunung Ibu di Halmahera Barat erupsi. (Dok. BNPB)

Sementara sebaran debu vulkanik dari Gunung Ibu dan Gunung Lewotobi tidak terdeteksi dalam analisis citra satelit BMKG pada pukul 07.00 WIB, 17 September 2026.

Perkiraan cuaca di sekitar Gunung Ibu pada 17 September menunjukkan kondisi berawan pada pagi dan siang hari, kemudian berawan tebal pada malam hari. Angin bertiup dari arah barat dan selatan pada siang hari, lalu tenggara pada malam hari.

Pada dini hari 18 September, kondisi cuaca Gunung Ibu diperkirakan kabut dengan angin dari arah timur.

Sementara itu, perkiraan cuaca BMKG menunjukkan wilayah Gunung Lewotolo berpotensi mengalami kondisi berawan hingga berawan tebal sepanjang hari pada 17 September 2026.

Namun pada dini hari 18 September, cuaca diperkirakan cerah berawan dengan angin dari arah tenggara.

4. Dampak debu vulkanik pada kesehatan dan transportasi

ilustrasi pakai masker untuk mencegah penyakit (IDN Times/NRF)

BMKG memaparkan, paparan debu vulkanik dapat berdampak terhadap kesehatan dan transportasi.

Dari sisi kesehatan, debu vulkanik dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit, batuk, gangguan pernapasan, dan dapat memperburuk keadaan masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.

Sementara pada aspek transportasi, debu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang, membuat jalan menjadi licin, mengganggu kenyamanan dan keselamatan berkendara, serta mengganggu fungsi mesin dan peralatan transportasi.

Selain itu, debu dapat mengganggu navigasi dan operasional transportasi darat, laut, maupun udara hingga menyebabkan keterlambatan, pengalihan rute, atau penghentian sementara perjalanan, hingga menimbulkan risiko kecelakaan jika konsentrasi abu cukup tebal.

5. Imbauan BMKG untuk masyarakat

Ilustrasi informasi/isu/viral. (IDN Times/ Agung Sedana)

BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap waspada. Terutama masyarakat di sekitar Kabupaten Halmahera Utara, perairan barat daya Morotai, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember, serta Perairan Jember.

Masyarakat diminta untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi, serta terus mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi.

Selain itu, masyarakat diharapkan selalu mengikuti arahan dari BMKG, PVMBG/Badan Geologi, serta pemerintah setempat.

Dalam informasinya, BMKG menekankan bahwa sebaran abu vulkanik ini belum dapat dipastikan karena wilayah gunung api tertutup awan. Debu vulkanik yang tidak terdeteksi analisis bukan berarti tidak ada debu vulkanik sama sekali.

Editorial Team

Related Article