Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tiga capres yang berlaga di pemilu 2024. (IDN Times/Aditya Pratama)

Jakarta, IDN Times - Memasuki penghujung tahun 2023, gelombang pengungsi Etnis Rohingya terus berdatangan ke Indonesia melalui. Sebagian besar pengungsi yang datang ke Indonesia melalui Aceh terdiri dari kelompok perempuan, laki-laki hingga anak-anak. Kedatangan mereka ke Indonesia menuai penolakan dari masyarakat Indonesia. 

Terbaru, ratusan mahasiswa mendatangi tempat penampungan sementara warga negara asing (WNA) diduga pengungsi Etnis Rohingya yang selama ini menempati ruang bawah tanah Gedung Balai Meuseuraya Aceh (BMA) di Kota Banda Aceh, Rabu (27/12/2023) lalu.

Mahasiswa dari sejumlah universitas di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar itu mengusir ratusan imigran tersebut usai melakukan aksi di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Aceh. Berdasarkan data UNHCR, sejak pertengahan November 2023 lalu sudah ada 1.543 orang Rohingya yang masuk ke Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyatakan, pemerintah masih terus mencari tempat penampungan sementara bagi pengungsi Etnis Rohingya yang masuk ke Tanah Air.

Ia mengakui, tidak mudah menemukan tempat penampungan untuk mereka. Sebab, beberapa tempat yang biasanya dijadikan lokasi penampungan sudah penuh. 

"Saat ini (pengungsi Rohingya) sudah ditampung sementara. Tapi, yang lebih sementara, sementaranya mungkin agak menengah ini masih dibicarakan. Dicari tempatnya, biaya dan sebagainya," ujar Mahfud di Ciawi, Bogor, Rabu (20/12/2023) lalu.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu menyatakan, berbagai tempat yang disediakan oleh pemerintah untuk menampung Etnis Rohingya di Indonesia sudah pernah lantaran mereka terus berdatangan ke tanah air.

"Tempat penampungan yang disediakan oleh pemerintah di berbagai tempat itu sudah penuh. Karena pengungsi Rohingya terus bertambah," sambungnya. 

Lantas bagaimana sikap politik ketiga calon presiden (capres) terkait gelombang pengungsi Rohingya yang saat ini memasuki Indonesia melalui Aceh?

1. Anies nilai perlu bangun tempat semi permanen

Capres nomor urut satu, Anies Baswedan usai menghadiri deklarasi dukungan Keluarga Besar HMI di sebuah hotel di kawasan Jakarta Selatan. (IDN Times/Amir Faisol)

Capres Nomor Urut 1, Anies Baswedan menuturkan, Indonesia memiliki peran di dalam menciptakan perdamaian dunia. Hal itu telah menjadi salah satu perintah konstitusi. 

Namun kata dia, pemerintah perlu menyediakan tempat khusus untuk kelompok Etnis Rohingya berdatangan ke Indonesia supaya mereka tidak mengganggu warga lokal. Anies memperkirakan, fenomena yang terjadi saat ini akan berulang. 

Oleh karena itu, Anies menilai pemerintah harus menyediakan tempat semi permanen yang disisipkan khusus bagi para pengungsi. Menurut dia, secara anggaran Indonesia mendukung untuk membangun hunian semi permanen. Hanya, apakah pemerintah memiliki kemauan atau tidak. 

"Sekarang, nampaknya ke depan kita harus menyiapkan tempat yang semi permanen, kenapa? karena sepertinya peristiwa seperti ini kelihatannya akan terus berulang terjadi. Ketika berulang terjadi kita harus siap antisipasi, secara anggaran memungkinkan, hanya ada kemauan atau tidak," ucapnya.

"Kalau saya, kita siapkan tempat khusus untuk itu sehingga mereka terlindungi tapi juga masyarakat tidak terganggu," kata dia.

2. Prabowo lebih mengutamakan kepentingan keamanan nasional

Calon Presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto, bersama Agus Harimurti Yudhoyono berkunjung ke Aceh demi peringatan 19 tahun tragedi tsunami (IDN Times / Irfan Faturrohman)

Sementara itu, Capres Nomor Urut 2 menilai, masalah pengungsi Rohingya merupakan masalah dunia yang menyangkut beberapa negara. 

Hal tersebut disampaikan Prabowo Subianto saat menghadiri acara Silaturahmi Ulama dan Tokoh Masyarakat Aceh Mengenang 19 Tahun Tsunami Aceh di Hotel Hermes, Banda Aceh, Selasa (26/12/2023).

“Kita harus mengutamakan kepentingan rakyat, rakyat kita sendiri, dan kepentingan nasional. Masih banyak rakyat kita yang hidupnya susah," kata dia.

Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prabowo Subianto itu mengatakan, permasalahan Rohingya perlu pendekatan integralistik dan berkoordinasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Walaupun bangsa Indonesia memiliki rasa solidaritas yang tinggi, Prabowo menilai, tidak adil kalau Indonesia harus menerima semua pengungsi karena hanya akan menjadi beban bagi negara ini.

"Jadi tidak begitu fair kalau kita harus menerima semua pengungsi itu menjadi beban kita, walaupun dari segi kemanusiaan kita juga punya rasa solidaritas ingin membantu dan sebagainya," ujar dia.

3. Ganjar dukungan apapun sikap pemerintah untuk Rohingya

Capres Ganjar Pranowo di Titik Nol Nusantara IKN (IDN Times/Eko Wahyu A.)

Capres Nomor Urut 3, Ganjar Pranowo menegaskan mendukung apa pun sikap pemerintah terkait pengungsi Rohingya. Dia yakin, keputusan apapun yang akan ditempuh pemerintah sudah pasti melalui proses penilaian yang matang.

Mantan Gubernur Jawa Tengah itu pun optimistis Mahfud MD selaku Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan yang sekaligus calon wakil presidennya, akan mampu menangani pengungsi Rohingya sesuai arahan Presiden Joko "Jokowi" Widodo.

“Ya, sedang dilakukan assessment (penilaian) kan ya. Saya kira itu cara paling netral sebelum kita memutuskan iya atau tidak,” ujarnya melansir ANTARA.

Kendati demikian, ia tetap berharap pemerintah secepatnya mengatasi pengungsi Rohingya yang masuk ke wilayah Indonesia melalui Kota Sabang, Aceh.

"Saya berharap agar pemerintah dapat segera menyelesaikan masalah ini (pengungsi Rohingya)," ujar dia.

Ganjar mengatakan situasi politik dunia hari ini begitu cepat mengalami perubahan. Ia pun menyinggung konflik yang terjadi di sejumlah negara seperti di Ukraina, Palestina, bahkan persaingan ekonomi antara China dan Amerika.

Posisi Indonesia, diyakini Ganjar, akan menjadi tidak mudah menghadapi tantangan geopolitik hari ini dan mendatang. Oleh karena itu, menurut dia, dibutuhkan pemikiran yang lebih kritis, lebih analitis untuk membaca perubahan-perubahan yang terjadi.

“Kita butuh lebih kritis, kita butuh lebih analitis karena sangatlah penting untuk membaca perubahan-perubahan lingkungan eksternal apalagi dunia yang saat ini berlangsung begitu cepat,” tutur dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article