Israel Tangkap 45 Warga Palestina Termasuk Jurnalis di Tepi Barat

- Pasukan militer Israel menahan sedikitnya 45 warga Palestina, termasuk lima perempuan dan dua jurnalis, dalam operasi di Tepi Barat pada 4 November 2026.
- Penangkapan terutama terjadi di Nablus dan Hebron, juga Qalqilya, Tulkarm, dan Bethlehem; jurnalis Hazem Nasser kembali ditahan dua pekan setelah dibebaskan.
- Di Jenin, warga menghadapi interogasi lapangan, penggerebekan, intimidasi, kekerasan, dan perusakan properti; lebih dari 26.000 penahanan tercatat sejak Oktober 2023.
Jakarta, IDN Times - Pasukan militer Israel menahan sedikitnya 45 warga Palestina dalam operasi penyerbuan di berbagai wilayah Tepi Barat yang diduduki pada Rabu (4/11/2026). Kelompok yang ditahan tersebut mencakup lima perempuan serta dua orang jurnalis.
Lembaga tahanan Palestinian Prisoners' Society menyatakan penangkapan terhadap perempuan dan jurnalis, serta penahanan kembali mantan tahanan, menunjukkan pasukan Israel menyasar seluruh komponen masyarakat Palestina. Penahanan tersebut merupakan bagian dari kebijakan sistematis untuk memperluas cakupan target serta menjadikan penahanan sebagai alat persekusi dan tekanan.
1. Penahanan terpusat di Nablus dan Hebron

Hebron, Palestina (Oren Rozen, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Sebagian besar penangkapan warga berlangsung di wilayah Nablus dan Hebron. Kasus penangkapan lainnya dilaporkan terjadi di Qalqilya, Tulkarm, dan Bethlehem.
Salah satu orang yang ditahan dalam operasi tersebut adalah jurnalis bernama Hazem Nasser. Otoritas penahanan menangkap kembali Hazem Nasser hanya dua pekan setelah dia dibebaskan dari masa tahanan.
Lembaga pemerhati tahanan mencatat penargetan terhadap jurnalis melalui penangkapan dan pelecehan secara langsung menyerang kerja jurnalistik mereka. Tindakan ini berdampak langsung pada peran para jurnalis dalam melaporkan peristiwa dan mendokumentasikan pelanggaran yang terjadi di lapangan.
2. Interogasi lapangan di Jenin dan intimidasi keluarga

Israel Defense Forces (Israel Defense Forces, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons) Pasukan militer melancarkan operasi interogasi lapangan terhadap warga Palestina di wilayah Jenin. Pasukan tersebut menahan dan memeriksa sejumlah warga langsung di tempat kejadian sebelum kemudian melepaskan mereka.
Lembaga tahanan melaporkan pasukan militer secara rutin menggerebek rumah-rumah dan menahan warga selama berjam-jam untuk diperiksa. Serangan ini disertai intimidasi dan teror terhadap keluarga-keluarga penghuni sebelum banyak dari warga yang ditahan akhirnya dilepaskan.
Organisasi tersebut juga mencatat adanya kekerasan fisik, vandalisme, dan perusakan properti secara sengaja selama operasi berlangsung. Selain itu, para tahanan dilaporkan menghadapi kondisi yang keras selama proses penahanan dan interogasi.
3. Penahanan lebihi 26 ribu orang sejak perang Gaza

Serangan udara Israel di Jalur Gaza saat perang berlangsung. (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Eskalasi operasi penahanan ini berlangsung seiring berlanjutnya penggunaan penahanan sewenang-wenang dan penahanan administratif sebagai alat persekusi serta pembalasan kolektif. Lembaga tersebut menilai penahanan menjadi instrumen historis dari proyek permukiman untuk melemahkan keberadaan warga Palestina.
Sebagaimana dilansir Anadolu Agency, Palestinian Prisoners' Society mencatat lebih dari 26.000 penahanan telah terjadi di seluruh Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur. Jumlah penahanan tersebut dihimpun sejak Israel melancarkan perang genosida di Jalur Gaza pada Oktober 2023.















