Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Sebab Kekalahan Partai Republik di Pemilu Sela AS 2026

4 min read
5 Sebab Kekalahan Partai Republik di Pemilu Sela AS 2026
potret logo Partai Republik, Amerika Serikat (unsplash.com/Kelly Sikkema)
  • Partai Republik kalah telak dalam pemilu sela AS 2026, meraih 139 kursi parlemen dan 44 kursi senat, sementara Demokrat memperoleh 237 kursi parlemen serta 54 kursi senat.
  • Perang AS-Iran yang dimulai Trump disebut memicu ketegangan berkepanjangan, hambatan pasokan minyak, kenaikan harga bahan bakar, dan biaya hidup yang menurunkan popularitas Trump serta Partai Republik.
  • Kritik Demokrat terhadap sejumlah kebijakan Trump, hilangnya kepercayaan pendukung Republik, serta menurunnya dukungan warga Hispanik dan kulit hitam turut mendorong kekalahan tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sempat dijagokan menang, Partai Republik justru harus rela menelan pil pahit di pemilihan umum (pemilu) sela Amerika Serikat (AS) yang digelar pada Selasa (3/11/2026) lalu. Partai pendukung Presiden Donald Trump itu kalah telak dari Partai Demokrat sehingga gagal menguasai parlemen dan senat AS.

Di pemilu kemarin, Partai Republik hanya berhasil memperoleh 139 kursi parlemen dan 44 kursi senat, sedangkan Partai Demokrat berhasil meraih 237 kursi parlemen dan 54 kursi senat. Kekalahan ini tentu menjadi pukulan telak bagi Partai Republik dan bagi Trump secara khusus. Lantas, apa saja penyebab kekalahan mereka? Simak ulasannya di bawah ini. 

  1. 1. Perang AS dan Iran

    Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
    ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

    Tidak bisa dipungkiri, keputusan Trump untuk memulai perang dengan Iran pada 28 Februari lalu telah memberi dampak buruk terhadap elektabilitas Partai Republik. Sebab, banyak warga AS yang menganggap keputusan tersebut salah besar dan malah merugikan AS. Apalagi, hingga saat ini, ketegangan antara Washington dan Teheran belum juga usai akibat perang tersebut.

    Dalam pernyataannya pada Rabu (4/11/2026) lalu, Trump juga mengakui bahwa kekalahan Partai Republik disebabkan oleh perang dengan Iran. Namun, Trump tetap menganggap keputusan itu sudah tepat. Sebab, tujuan AS menyerang Iran saat itu adalah untuk melindungi dunia dari ancaman program senjata nuklir mereka. Meski demikian, Trump berjanji tidak akan memulai perang baru dengan negara mayoritas Islam Syiah tersebut.

  2. 2. Kenaikan biaya hidup di AS

    Uang dalam jumlah banyak.
    ilustrasi biaya hidup (pexels.com/John Guccione)

    Sama seperti negara-negara lainnya, biaya hidup di AS kini juga sedang mengalami kenaikan. Kenaikan biaya hidup ini dipicu oleh keputusan Trump untuk berperang dengan Iran. Perang ini membuat Iran menutup Selat Hormuz sehingga pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global, termasuk ke AS, jadi terhambat. Hal ini lantas membuat harga bahan bakar di Negeri Paman Sam naik drastis sehingga harga bahan pokok dan biaya hidup juga ikut meningkat.

    Masalah ini akhirnya membuat banyak warga AS jengkel terhadap Trump. Warga AS yang semula mendukungnya kini jadi berpaling. Sebab, mereka menganggap Trumplah yang menjadi biang kerok kenaikan biaya hidup di AS karena sudah memulai perang dengan Iran. Asumsi ini lantas membuat popularitas Trump dan Partai Republik anjlok sehingga kalah di pemilu kemarin.

  3. 3. Kritik dari Partai Demokrat

    Partai Demokrat Amerika Serikat.
    potret logo Partai Demokrat Amerika Serikat (unsplash.com/Kelly Sikkema)

    Sejak menjabat lagi sebagai Presiden AS pada Januari 2025, Trump memang kerap membuat kebijakan yang dinilai sembrono. Beberapa di antaranya seperti perang dengan Iran, peningkatan tarif impor terhadap negara mitra, pembubaran organisasi internasional, perubahan nama-nama tempat secara sepihak, hingga pemotongan dana subsidi asuransi kesehatan.

    Semua kebijakan tadi sering menuai kritik dari Partai Demokrat. Mereka menganggap Trump telah menggunakan kekuasaannya untuk membuat kebijakan-kebijakan tidak populer yang hanya sesuai selera pribadi saja. Perang dengan Iran menjadi kebijakan yang paling banyak dikritik. Semua kritik tadi akhirnya didengar dan dibenarkan oleh rakyat AS. Sebab, rakyat Negeri Paman rupanya juga banyak yang senada dengan kritikan Partai Demokrat sehingga mereka enggan mencoblos Partai Republik di pemilu kemarin.

  4. 4. Runtuhnya kepercayaan pendukung Partai Republik

    Para pendukung Donald Trump.
    potret para pendukung Donald Trump (pexels.com/Michael Anthony)

    Kebijakan sembrono Trump dan kritik dari Partai Demokrat tadi akhirnya membuat kepercayaan masyarakat AS terhadap Partai Republik runtuh. Sebab, mereka kecewa karena Trump dan partainya malah melakukan kebijakan yang merugikan AS, terutama kebijakan perang dengan Iran yang membuat biaya hidup naik.

    Kekecewaan ini lantas membuat para pemilih Partai Republik beralih mendukung Partai Demokrat. Hal inilah yang membuat jumlah suara Partai Republik anjlok di pemilu sela kemarin.

  5. 5. Runtuhnya kepercayaan warga Hispanik dan kulit hitam

    Warga kulit hitam Amerika Serikat.
    potret warga kulit hitam Amerika Serikat (pexels.com/Polina Tankilevitch)

    Suara dari warga Hispanik dan kulit hitam sangat berperan penting bagi Partai Republik dan Trump di kancah perpolitikan AS. Bahkan, kemenangan Trump dalam pemilu AS pada 2024 silam juga banyak ditopang oleh suara mereka.

    Sayangnya, dukungan warga Hispanik dan kulit hitam kini menurun drastis. Hal ini terjadi karena kebijakan Trump yang dinilai rasis dan mendiskriminasi mereka. Salah satu kebijakan Trump yang mengarah pada tindakan diskriminasi adalah penangkapan besar-besaran imigran dari Amerika Latin oleh badan imigrasi AS (ICE) beberapa bulan lalu.

  6. 6. Anggota Partai Republik ikut mengecam Trump

    Donald Trump sedang melakukan panggilan telepon.
    potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (x.com/realDonaldTrump)

    Kekalahan ini membuat sejumlah anggota Partai Republik ikut mengecam Trump. Banyak dari mereka yang akhirnya ikut menyalahkan Trump akibat kekalahan tersebut.

    "Itu hanyalah serangkaian kesalahan. Jelas, di berbagai negara bagian, orang-orang tidak menyukai kebijakan Presiden (Trump)," kata Gregg Peppin, seorang ahli strategi Partai Republik di Minnesota, seperti dilansir BBC.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More