Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Survei: Elektabilitas Prabowo Unggul Tipis dari Dedi Mulyadi
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat melakukan panen raya padi di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, pada Senin (7/4). (dok. Perum BULOG)
  • Survei IPO menempatkan Prabowo Subianto di posisi teratas dengan elektabilitas 23,4 persen, diikuti Dedi Mulyadi 21,7 persen.
  • AHY memperoleh 4,5 persen dan berada di atas Gibran Rakabuming Raka yang mendapat 3,9 persen dalam simulasi top of mind.
  • Sebanyak 17 persen responden belum menentukan pilihan atau merahasiakan jawaban, sementara survei melibatkan 1.200 responden.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
27 Juli-3 Agustus 2026

IPO melakukan survei terhadap 1.200 responden dengan metode multistage random sampling. Dalam simulasi top of mind, Prabowo memperoleh 23,4 persen dan Dedi Mulyadi 21,7 persen.

Sabtu (8/8/2026)

Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah menyampaikan keterangan mengenai hasil simulasi terbuka.

saat ini

Prabowo masih menjabat sebagai presiden.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Survei IPO mengukur elektabilitas tokoh untuk Pilpres 2029 melalui simulasi top of mind.
  • Who?
    Prabowo Subianto, Dedi Mulyadi, AHY, Gibran Rakabuming Raka, serta 1.200 responden survei IPO.
  • Where?
    per saat ini masih belum diketahui.
  • When?
    Survei dilakukan pada 27 Juli-3 Agustus 2026. Dedi Kurnia Syah menyampaikan keterangan pada Sabtu (8/8/2026).
  • Why?
    Responden diminta menyebutkan tokoh yang pertama kali muncul dalam ingatan mereka sebagai calon presiden.
  • How?
    IPO memakai simulasi terbuka tanpa daftar nama dan metode multistage random sampling, dengan tingkat kepercayaan 95 persen serta margin of error sekitar 2,9 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Prabowo Subianto mendapat angka paling besar dalam survei IPO. Dedi Mulyadi ada dekat di belakangnya. Orang-orang diminta menyebut nama calon yang pertama mereka ingat tanpa melihat daftar nama. AHY juga punya angka lebih besar dari Gibran. Masih ada 17 persen orang yang belum memilih atau tidak mau bilang jawabannya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Simulasi terbuka memberi ruang bagi responden untuk menyebut tokoh yang pertama muncul dalam ingatan mereka tanpa daftar nama. Penggunaan 1.200 responden, metode multistage random sampling, tingkat kepercayaan 95 persen, dan margin of error sekitar 2,9 persen menunjukkan survei ini menyertakan keterangan mengenai cara pengambilan datanya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Persaingan menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menunjukkan peta yang menarik. Presiden Prabowo Subianto masih menjadi tokoh dengan elektabilitas tertinggi, tetapi keunggulannya atas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terbilang tipis.

Temuan tersebut berdasarkan survei nasional Indonesia Political Opinion (IPO) yang dilakukan pada 27 Juli-3 Agustus 2026. Dalam simulasi top of mind, Prabowo memperoleh elektabilitas 23,4 persen, sementara Dedi Mulyadi menyusul dengan 21,7 persen.

Selisih hanya 1,7 persen ini menunjukkan persaingan elektoral masih terbuka. Bahkan, dalam simulasi tanpa daftar nama tersebut, Dedi Mulyadi mampu menempel ketat Prabowo yang saat ini masih menjabat sebagai presiden.

1. Prabowo masih teratas, tapi Dedi Mulyadi membuntuti

Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto didampingi Tokoh Jawa Barat Dedi Mulyadi di Koramil 0912/Lembang, Bandung, Jawa Barat (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, mengatakan simulasi dilakukan secara terbuka. Responden tidak diberikan daftar nama calon, melainkan diminta menyebutkan tokoh yang pertama kali muncul dalam ingatan mereka.

"Dalam simulasi terbuka, di mana responden bebas menjawab tanpa intervensi, nama Presiden Prabowo Subianto masih berada di posisi teratas, meskipun memang tidak signifikan meninggalkan nama-nama yang lain," kata Dedi dalam keterangannya, Sabtu (8/8/2026).

Menurutnya, posisi Prabowo tidak terlepas dari statusnya sebagai kepala negara yang membuat tingkat keteringatan publik terhadap namanya masih tinggi. Namun, kemunculan Dedi Mulyadi dengan elektabilitas 21,7 persen menjadi sinyal adanya figur alternatif yang mulai mendapat perhatian luas.

"Ingatan publik semacam ini perlu dijaga, tentu dengan kebijakan yang dekat dengan kebutuhan publik, jika semua program Presiden diterima dan mendapat penilaian baik, akan menjadi lebih bagi Presiden Prabowo untuk kembali memenangi kontestasi di periode keduanya," ujar Dedi.

2. AHY ungguli Gibran dalam simulasi top of mind

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) beri pembekalan Tim Ekspedisi Patriot 2026 yang Kementerian Transmigrasi di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (29/7/2026)/ dok Kementras

Di bawah Prabowo dan Dedi Mulyadi, Anies Baswedan berada di posisi ketiga dengan elektabilitas 11,5 persen. Menariknya, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berada di posisi keempat dengan 4,5 persen.

AHY tercatat unggul atas Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang memperoleh 3,9 persen. Sementara itu, Ganjar Pranowo berada tidak jauh di bawah AHY dengan 4,1 persen.

Sejumlah nama lainnya memperoleh dukungan di bawah 3 persen. Mereka yakni Sherly Tjoanda 2,1 persen, Mahfud MD 1,7 persen, Purbaya Yudhi Sadewa 1,5 persen, Muhaimin Iskandar 1,2 persen, dan Zulkifli Hasan 1 persen. Tokoh lainnya memperoleh elektabilitas di bawah 1 persen.

Hasil ini menarik karena AHY dan Gibran sama-sama merupakan bagian dari pemerintahan Prabowo. Namun, dalam pertanyaan terbuka mengenai tokoh yang muncul pertama kali dalam ingatan responden sebagai calon presiden, AHY justru berada di atas Gibran.

3. Sebanyak 17 persen belum memilih, peta Pilpres masih cair

Ilustrasi survei. (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

IPO juga menemukan terdapat 17 persen responden yang belum menentukan pilihan atau memilih merahasiakan jawabannya. Besarnya kelompok tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat peta persaingan menuju Pilpres 2029 masih dinilai dinamis.

Dedi menilai posisi Prabowo sebagai pemuncak elektabilitas belum sepenuhnya aman. Keberlanjutan dukungan publik terhadap Prabowo akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menghadirkan kebijakan yang manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Dengan selisih Prabowo dan Dedi Mulyadi yang hanya 1,7 persen serta masih besarnya kelompok yang belum menentukan pilihan, perubahan persepsi publik berpotensi mengubah konfigurasi elektoral dalam beberapa tahun ke depan.

Survei IPO dilakukan terhadap 1.200 responden pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026. Responden dipilih menggunakan metode multistage random sampling. Survei memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error sekitar sekitar 2,9 persen.

Editorial Team

Related Article