Jakarta, IDN Times - Kepala Dinas Penerangan Mabes TNI Angkatan Darat (AD), Brigjen TNI Donny Pramono kembali meminta publik untuk tidak terjebak polemik yang disampaikan lewat film 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita' karya sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Alih-alih fokus pada polemik yang ditunjukkan di dalam film dokumenter itu, Donny mengajak masyarakat untuk melihat dampak sosial dari keberadaan TNI di Papua.
Ia kemudian menyinggung program siniar Bobon Santoso yang mewawancarai Kepala Suku Muyu dari Distrik Kombut, Boven Digul, Papua Selatan yakni Emanuel Wopon atau akrab disapa Pak Manu. "Di dalam podcast itu, kepala suku mengatakan TNI betul-betul membantu masyarakat ketika ditugaskan di sana (Papua)," ujar Donny ketika memberi keterangan di Jakarta Pusat pada Jumat, 29 Mei 2026.
Bobon sendiri diketahui merupakan kader Partai Gerindra dan bergabung pada 2024 lalu lewat Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Denpasar. Ia diketahui kerap mendatangi Papua untuk menjalankan misi kemanusiaan bertajuk 'Kuali Merah Putih.'
Di forum itu, Donny menepis TNI antikritik lantaran ikut membubarkan nobar film Pesta Babi. TNI, kata Donny, menghormati kebebasan berekspresi dan kebebasan dalam berkarya.
"Tetapi, setiap produk informasi juga memiliki tanggung jawab moral agar tidak membangun stigma kebencian atau distorsi terhadap institusi negara," tutur dia.
