Jakarta, IDN Times - Menteri Transmigrasi, Iftitah Sulaiman mengisahkan kembali salah satu pengalaman berharga ketika ditugaskan sebagai prajurit TNI di misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNFIL) pada 2006 lalu. Ia mengatakan prajurit gugur dalam misi UNIFIL tak hanya menimpa kontingen asal Indonesia saja. Beberapa prajurit dari negara lain pun pernah mengalami pengalaman serupa.
"Pada saat saya bertugas di sana, ada risiko, ada korban. Ada satu prajurit dari Prancis yang terkena UXO (Unexploded Ordnance), ranjau yang tidak meledak pada saat diluncurkan pasukan Israel. Tetapi, saat diinjak oleh prajurit Prancis itu meledak. Nah, prajurit itu meninggal," ujar Iftitah ketika berbicara di webinar Indonesia and Strategic Defence Studies (ISDS) pada Kamis malam (8/4/2026).
Kisah lainnya ada enam prajurit UNIFIL asal Spanyol yang diberikan medali pada Minggu pagi karena keesokan harinya kembali ke negara asal. Nahas, ketika mereka melakukan patroli untuk kali terakhir terkena bom mobil. Alhasil, enam prajurit UNIFIL itu gugur.
"Jadi, bayangkan sudah tinggal pulang keesokan harinya tetapi sorenya tentara Spanyol itu meninggal," tutur dia.
Beragam insiden itu kemudian dicatat oleh pasukan UNIFIL untuk dicarikan cara taktis untuk mengatasinya. Selain itu, semua prajurit diberikan pelatihan untuk mengantisipasi bila terjadi beragam peristiwa.
"Ketika sudah tidak bisa dihentikan lagi kontak tembak antara dua pihak yang bertikai, tugas PBB sudah ditentukan harus ngapain. Karena rujukan mereka bergerak adalah chapter 6 PBB atau chapter 6,5 maka mereka harus berlindungi di dalam bunker untuk menunggu perintah dari PBB," katanya.
