Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
UNIFIL Diserang, Haruskah Diam? Ini Pengalaman Nyata Menteri Iftitah
1.087 prajurit yang tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda Unifil TA 2024 ketika disambut di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur. (Dokumentasi Puspen TNI)
  • Iftitah Sulaiman mengenang pengalamannya sebagai prajurit TNI pertama di misi UNIFIL 2006 bersama AHY dan Ossy Darmawan, berangkat lewat Terusan Suez membawa alutsista menuju Beirut.
  • Ia menegaskan pasukan UNIFIL hanya boleh membela diri jika diserang langsung, tanpa melakukan serangan balik agar tidak memicu eskalasi konflik di wilayah Lebanon.
  • Iftitah mengungkap bunker tidak sepenuhnya aman dari serangan misil, meski tetap jadi perlindungan utama bagi prajurit saat kontak tembak antara Hizbullah dan Israel terjadi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Transmigrasi, Iftitah Sulaiman mengisahkan kembali salah satu pengalaman berharga ketika ditugaskan sebagai prajurit TNI di misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNFIL) pada 2006 lalu. Ia mengatakan prajurit gugur dalam misi UNIFIL tak hanya menimpa kontingen asal Indonesia saja. Beberapa prajurit dari negara lain pun pernah mengalami pengalaman serupa.

"Pada saat saya bertugas di sana, ada risiko, ada korban. Ada satu prajurit dari Prancis yang terkena UXO (Unexploded Ordnance), ranjau yang tidak meledak pada saat diluncurkan pasukan Israel. Tetapi, saat diinjak oleh prajurit Prancis itu meledak. Nah, prajurit itu meninggal," ujar Iftitah ketika berbicara di webinar Indonesia and Strategic Defence Studies (ISDS) pada Kamis malam (8/4/2026).

Kisah lainnya ada enam prajurit UNIFIL asal Spanyol yang diberikan medali pada Minggu pagi karena keesokan harinya kembali ke negara asal. Nahas, ketika mereka melakukan patroli untuk kali terakhir terkena bom mobil. Alhasil, enam prajurit UNIFIL itu gugur.

"Jadi, bayangkan sudah tinggal pulang keesokan harinya tetapi sorenya tentara Spanyol itu meninggal," tutur dia.

Beragam insiden itu kemudian dicatat oleh pasukan UNIFIL untuk dicarikan cara taktis untuk mengatasinya. Selain itu, semua prajurit diberikan pelatihan untuk mengantisipasi bila terjadi beragam peristiwa.

"Ketika sudah tidak bisa dihentikan lagi kontak tembak antara dua pihak yang bertikai, tugas PBB sudah ditentukan harus ngapain. Karena rujukan mereka bergerak adalah chapter 6 PBB atau chapter 6,5 maka mereka harus berlindungi di dalam bunker untuk menunggu perintah dari PBB," katanya.

1. Iftitah jadi grup pertama TNI yang dikirim untuk misi UNIFIL

Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara saat halalbihalal bersama ASN Kementerian Transmigrasi. (Dok. Kementrans).

Lebih lanjut, Iftitah mengisahkan ia menjadi bagian dari kelompok pertama prajurit TNI yang dikirim ke misi UNIFIL pada 2006 lalu. Inisiasi pengiriman prajurit TNI untuk ikut menjadi pasukan UNIFIL disampaikan oleh Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia berangkat ke Lebanon bersama dua prajurit TNI lainnya saat itu yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ossy Darmawan.

Ketika itu, mereka bertiga menuju ke Lebanon dengan menumpang kapal kargo berbendera Amerika Serikat (AS) bernama U.S Wilson. Perjalanan memakan waktu selama 12 hari dan berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok. Iftitah mengaku tak melewati Selat Hormuz yang sekarang sedang jadi sorotan lantaran ditutup angkatan bersenjata Iran.

"Kami menuju ke Beirut melalui Terusan Suez. Total di kapal itu ada 24 awak kapal dan enam prajurit TNI," kata pria yang juga merupakan politisi Partai Demokrat itu.

Di dalam kapal kargo berbendera Negeri Paman Sam itu, turut diangkut sejumlah alutsista untuk keperluan bertugas. Mulai dari tank, kendaraan pengangkut lapis baja VAB hingga logistik.

"Tugas kami mengawal dan memastikan agar seluruh pasukan tiba dengan selamat sampai di Pelabuhan Beirut. Ada juga tim advanced yang sudah tiba lebih dulu (di Lebanon) karena menggunakan pesawat udara," kata dia.

Berdasarkan data yang dia miliki, pada pemberangkatan tahun 2006, ada 853 personel yang dikirim ke UNIFIL. Sementara, total keseluruhan personel UNIFIL dari berbagai negara ketika itu mencapai 12.167 personel. Personel TNI bertugas selama 12 bulan.

2. Pasukan UNIFIL boleh menyerang untuk kepentingan membela diri

Wilayah yang menjadi area tugas personel UNIFIL di Lebanon Selatan. (Tangkapan layar YouTube ISDS)

Ketika IDN Times tanyakan apakah pasukan UNIFIL dibolehkan membalas seandainya diserang lebih dulu, Iftitah membenarkannya. Namun, dengan catatan bila pasukan UNIFIL diserang secara langsung oleh salah satu pihak yang berkonflik di sana.

"Jika salah satu pasukan yang bertikai menembak langsung kepada pasukan UNIFIL asal Indonesia maka kita boleh membela diri. Namun, bukan berarti menyerang balik," kata Iftitah.

"Kalau membela diri, maka posisinya tidak bergeser. Makna dari menyerang balik yakni membuat manuver," imbuhnya.

Ia mewanti-wanti bila pasukan UNIFIL asal Indonesia menyerang balik justru bisa memicu eskalasi serangan hingga meningkat.

3. Bersembunyi di dalam bunker tidak menjamin keamanan bagi pasukan UNIFIL

Prajurit TNI ketika bertugas di UNIFIL. (Dokumentasi TNI AD)

Di forum itu, Iftitah juga menyebut prosedur untuk bersembunyi di dalam bunker saat terjadi serangan tak menjamin 100 persen keamanan para prajurit. Ia mengisahkan sebelum ia tiba di Lebanon, sempat terjadi insiden.

"Pasukannya berada di dalam bunker. Ketika missile Israel jatuh tepat di pos pengamat militer, ada empat prajurit yang bersembunyi di dalam bunker meninggal," katanya.

"Meski tidak 100 persen aman, tetapi berada di sana relatif aman bila diserang dengan senjata tembakan langsung," sambungnya.

Yang membahayakan adalah senjata yang memiliki kemampuan serang lintas lengkung. Sementara, Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto memberikan arahan kepada ratusan prajurit TNI di Lebanon agar berlindungi di dalam bunker bila terjadi serangan di antara dua pihak yang bertikai yakni Hizullah dan Israel.

Editorial Team