Cerita Menteri Iftitah Jadi Bagian Grup Pertama Pasukan TNI ke UNIFIL

- Iftitah Sulaiman pernah menjadi bagian dari kontingen pertama TNI yang dikirim ke Lebanon Selatan pada 2006 untuk misi perdamaian PBB UNIFIL, bersama AHY dan Ossy Dermawan.
- Perjalanan laut menuju Beirut sempat diwarnai ancaman pembajakan di perairan Somalia, namun kapal kargo U.S. Wilson berhasil melintas aman setelah penjagaan ketat oleh enam prajurit TNI.
- Tugas utama pasukan Indonesia di UNIFIL adalah menjaga perdamaian dan mengamankan area sensitif seperti makam sengketa di dekat Blue Line, sambil rutin melaporkan setiap eskalasi ke PBB.
Jakarta, IDN Times - Menteri Transmigrasi, Iftitah Sulaiman, mengaku pernah turut menjadi bagian dari kelompok pertama personel TNI yang dikirim untuk bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon Selatan. Saat itu, Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menginisiasi keterlibatan pasukan perdamaian asal Indonesia di misi UNIFIL.
Momen itu terjadi pada 4 November 2006 lalu. Iftitah bertugas sebagai kontingen UNIFIL bersama Ossy Dermawan dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Dia mengenang berangkat menuju Lebanon dengan menumpang kapal kargo dari Amerika Serikat (AS) bernama U.S. Wilson. Perjalanan memakan waktu selama 12 hari dan berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok. Iftitah mengaku tak melewati Selat Hormuz yang sekarang sedang jadi sorotan lantaran ditutup angkatan bersenjata Iran.
"Kami menuju ke Beirut melalui Terusan Suez. Total di kapal itu ada 24 awak kapal dan enam prajurit TNI," ujar Iftitah ketika berbincang di webinar Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) pada Kamis (9/4/2026) malam.
Di dalam kapal kargo berbendera Negeri Paman Sam itu, turut diangkut sejumlah alutsista untuk keperluan bertugas. Mulai dari tank, kendaraan pengangkut lapis baja VAB hingga logistik.
"Tugas kami mengawal dan memastikan agar seluruh pasukan tiba dengan selamat sampai di Pelabuhan Beirut. Ada juga tim advanced yang sudah tiba lebih dulu (di Lebanon) karena menggunakan pesawat udara," kata dia.
Berdasarkan data yang dia miliki, pada pemberangkatan tahun 2006, ada 853 personel yang dikirim ke UNIFIL. Sementara, total keseluruhan personel UNIFIL dari berbagai negara ketika itu mencapai 12.167 personel. Personel TNI bertugas selama 12 bulan.
1. Kapal sempat dapat ancaman pembajakan saat melewati perairan Somalia

Politikus Partai Demokrat itu mengatakan, perjalanan selama 12 hari melalui jalur laut itu diliputi ras waswas akan bertemu para perompak. Apalagi ketika melewati perairan Somalia yang terkenal sebagai perairan tengkorak.
"Kapten kapal ketika itu menyampaikan, ia dapat ancaman pembajakan pada pagi harinya. Sore hari kami laporkan ke Mabes TNI," kata dia.
Iftitah mengenang instruksi dari Mabes TNI ketika itu, yakni logistik UNIFIL harus dijaga hingga titik darah penghabisan. Dia mengatakan, para perompak di perairan Somalia menggunakan kapal-kapal kecil untuk berburu target. Meski begitu, kecepatan kapal-kapal kecil itu bisa melampaui kapal-kapal kargo.
Alhasil, sebelum mendekati perairan Somalia, Iftitah dan lima prajurit TNI lainnya bergiliran berjaga dan mengelilingi kapal.
"Mulai dari siang, malam hingga pagi. Terus bergantian selama 3 hari dan 2 malam," ujar dia.
Iftitah bersyukur kapal kargo Wilson berhasil melewati perairan Somalia dan tiba di Terusan Suez tanpa insiden apa pun.
"Mungkin karena kami kadang-kadang kan juga menunjukkan senjata kita. Tapi, mereka pasti kan punya teleskop atau teropong," kata dia.
2. Tugas personel UNIFIL untuk menjaga, bukan menciptakan perdamaian

Di forum itu, Iftitah juga menjelaskan tugas dari personel UNIFIL di Lebanon Selatan mengacu ke chapter 6 PBB yakni peacekeeping atau menjaga perdamaian. Tugas mereka bukan merujuk ke chapter 7, yaitumenciptakan perdamaian (peacemaking).
"Jadi, terjadi dulu kesepakatan, gencatan senjata, baru pasukan PBB masuk. Itulah yang disebut peacekeeping. Kalau peacemaking, pasukan PBB diturunkan saat kedua belah pihak sedang bertikai dan kami membuat perdamaian dengan penggunaan kekuatan bersenjata," kata dia.
Namun, di batalyon Indonesia di UNIFIL, dikenal istilah 'robust peacekeeping.' Pasukan Indonesia menggunakan istilah chapter 6.5.
"Jadi, in between chapter 6 dengan 7. Artinya, penggunaan senjata dibolehkan untuk membela diri untuk keadaan-keadaan tertentu. Karena situasi di sana kan sangat delicate. Seandainya pasukan PBB itu tidak dipersenjatai, maka bisa membahayakan para personel UNIFIL itu sendiri," ujar dia.
Bahkan, sebelum kontingen asal Indonesia tiba, empat personel military observer dari Eropa gugur. Salah satunya berasal dari Finlandia.
"Mereka gugur karena posnya kena missile Israel. Ketika itu Israel tidak ada penyesalan sama sekali atau permintaan maaf. Mereka cuma bilang missile itu salah sasaran," kata dia.
3. Tugas personel UNIFIL ketika itu menjaga makam

Iftitah juga menyebut tugas utama personel UNIFIL asal Indonesia salah satunya menjaga makam yang lokasinya dekat garis demarkasi dengan Israel (Blue Line). Makam itu menjadi sengketa antara Israel dengan Lebanon.
"Bagi Israel itu disebut makam Nabi Yusha, tapi bagi Lebanon itu adalah makam Syekh Abbad," kata dia.
Dia mengisahkan personel UNFIL dikerahkan di sana karena area makam tersebut banyak dikunjungi oleh para peziarah sehingga sering menimbulkan terjadinya gesekan.
"Makam itu diperebutkan karena menjadi titik ketinggian, di mana di dalam ilmu militer, siapa yang menguasai wilayah dataran tinggi maka bisa menguasai wilayah yang cukup luas," ujar dia.
Selain itu, personel UNIFIL juga rutin diminta untuk melaporkan bila terjadi eskalasi di antara Lebanon dan Israel. Salah satunya bila terjadi kontak tembak.
"Kami juga harus melaporkan setiap hari ke PBB kalau ada pelanggaran udara, insiden, pelanggaran Blue Line di antara kedua belah pihak. Di laporan kami juga harus mencantumkan bila ada pergerakan. Misalnya bila IDF bergerak, dari mana ke mana, jam berapa, berapa personel dan menggunakan kendaraan apa," ucap dia.

















