Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Wakil Ketua BEM UI Tak Paksakan Demo di HI Demi Keselamatan Teman
Massa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) gelar demo di depan Gedung Plaza UOB, Jakarta Pusat, Senin (18/8/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Wakil Ketua BEM UI Fatimah Azzahra memprioritaskan keselamatan peserta aksi setelah rombongan tertahan di depan Menara UOB dan tidak diizinkan polisi menuju Bundaran HI.
  • Aksi bertema “Merebut Kembali Kemerdekaan” menjadi kali kedua BEM UI gagal mencapai Bundaran HI, setelah aksi serupa pada Juni juga menghadapi situasi yang sama.
  • Fatimah menyoroti perlakuan polisi terhadap sopir mobil komando serta menyampaikan delapan tuntutan, termasuk penghentian KKN, penurunan harga pokok, reforma agraria, dan penghentian represivitas TNI-Polri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Juni lalu

Aksi serupa BEM UI berakhir tanpa dapat berdemo di Bundaran HI.

18 Agustus 2026

BEM UI menggelar aksi bertema "Merebut Kembali Kemerdekaan" dan tertahan di depan Menara UOB hingga mendekati Maghrib. Fatimah Azzahra memprioritaskan keselamatan peserta serta menilai situasi tidak aman untuk memaksakan menuju Bundaran HI.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BEM UI menggelar aksi bertema “Merebut Kembali Kemerdekaan” dengan delapan tuntutan, tetapi massa tidak dapat mencapai Bundaran HI dan tertahan di depan Menara UOB.
  • Who?
    Mahasiswa BEM Universitas Indonesia, Wakil Ketua BEM UI Fatimah Azzahra, personel kepolisian bernama Yobi, serta sopir mobil komando terlibat dalam situasi aksi tersebut.
  • Where?
    Massa aksi berada di depan Menara UOB, kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Tujuan aksi mereka adalah Bundaran Hotel Indonesia di Jakarta Pusat.
  • When?
    Aksi berlangsung pada Selasa, 18 Agustus 2026. Hingga mendekati Maghrib, massa masih tertahan di depan Menara UOB.
  • Why?
    Fatimah menyatakan tidak memaksakan massa menuju Bundaran HI karena memprioritaskan keselamatan peserta apabila situasi dinilai tidak aman. Polisi tidak memberi kesempatan massa mendekati Bundaran HI.
  • How?
    Polisi menahan pergerakan massa menuju Bundaran HI. Fatimah menyebut personel bernama Yobi meminta sopir mobil komando berputar balik dengan bentakan, hingga sopir disebut mengalami syok.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Fatimah, wakil ketua BEM UI, dan teman-temannya ingin demo di Bundaran HI. Polisi tidak membiarkan mereka pergi ke sana, jadi mereka berhenti di dekat Menara UOB sampai hampir malam. Fatimah tidak mau memaksa karena ia takut teman-temannya terluka. Sekarang mereka melihat keadaan dulu dan memilih tetap aman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sikap Fatimah Azzahra menunjukkan bahwa penyampaian aspirasi tetap dapat berjalan beriringan dengan perhatian terhadap keselamatan peserta. Di tengah keterbatasan akses menuju Bundaran HI dan ketegangan di lapangan, ia memilih mempertimbangkan situasi serta mengutamakan teman-temannya agar tidak terluka, sambil tetap membawa sejumlah tuntutan publik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) Fatimah Azzahra tidak ngotot untuk berdemo di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.

Hingga mendekati Maghrib, mereka masih tertahan hingga di depan Menara UOB. Polisi tidak memberikan mereka kesempatan untuk mendekati Bundaran HI.

"Saya sebagai Wakil Ketua BEM UI, tentu saya sangat memprioritaskan keamanan dari teman-teman saya ya. Tentu saya tidak ingin mereka terluka. Mempelajari dari yang sudah-sudah, polisi sepertinya tidak bisa kita percaya untuk menjaga keamanan teman-teman kami," ujar Fatimah di area aksi di depan Menara UOB, Sudirman, Jakarta Pusat pada Selasa (18/8/2026).

Ini merupakan aksi mereka yang kedua dengan tema kali ini 'Merebut Kembali Kemerdekaan.' Aksi serupa yang digelar pada Juni lalu juga berakhir sama. Mereka tak bisa berdemo di Bundaran HI.

"Kami akan melihat situasinya seperti apa. Kalau terlihat sudah tidak aman, saya akan memprioritaskan keamanan teman-teman saya sih," kata mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK) itu.

Dia juga mengisahkan perdebatan antara dirinya dengan pihak kepolisian. Hal itu dipicu larangan bagi BEM UI menuju ke Bundearan HI. Bahkan, seorang personel kepolisian atas nama Yobi tiba-tiba meminta sopir mobil komando (mokom) agar putar balik.

"Pak Yobi ini tiba-tiba ngomong ke sopir kami, sopir mokom kami, untuk disuruh puter balik dengan dibentak-bentak sampai driver kami shock," kata dia.

Menurut Fatimah, sikap kepolisian itu menunjukkan cara Polri yang tidak menghargai orang lain. Apalagi, biaya untuk menyewa mobil komando tersebut berasal dari donasi masyarakat.

"Itu bukan (dana) mereka dan kewenangan mereka untuk menyuruh. Seharusnya kalau mereka menghornati kami ya bicara dengan kami sebagai orang yang punya gitu," kata dia.

Di dalam aksi kali ini ada 8 poin yang menjadi tuntutan mereka, yaitu:

1. Hentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri

2. Hentikan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)

3. Wujudkan reforma agraria sejati

4. Turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM

5. Evaluasi total PSN serta hentikan MBG dan KDMP

6. Hentikan pemusatan kekuasaan, pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), dan kembalikan otonomi daerah

7. Tetapkan status bencana nasional untuk daerah Sumatra dan Flores serta percepat pemulihan wilayah terdampak bencana

8. Hentikan represifitas dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil serta bubarkan YON TP

Curated For You

Editorial Team

Related Article