kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)
Abdollahi merinci syarat pertama adalah penghentian perang di seluruh lini, khususnya di Lebanon dan Jalur Gaza, sembari menolak perundingan di bawah ancaman militer. Syarat kedua dan ketiga menuntut pencabutan seluruh sanksi, pelepasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Pada syarat keempat dan kelima, Teheran menuntut pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz melalui mekanisme baru pengganti kerangka keamanan pimpinan AS, serta jaminan bebas agresi militer di masa depan. Dilansir Anadolu Agency, Abdollahi menegaskan bahwa Iran menempatkan dirinya sebagai pihak yang berhak menagih ganti rugi, bukan pihak yang berutang dan telah muncul sebagai pusat kekuatan global keempat berkat kendali atas jalur energi vital tersebut.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan kesiapan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu dua hari jika Washington menerima tuntutan mereka. Tenggat waktu ini jauh lebih singkat dibandingkan proposal tujuh hari yang diajukan Teheran melalui mediasi Qatar pada September lalu.
"Kemungkinan penerapan rencana ini dalam dua hari merupakan indikasi lain dari pendekatan iktikad baik Iran. Kami telah menyatakan bahwa jika tuntutan Iran dipenuhi, pemulihan keamanan di Selat Hormuz dan kelanjutan proses perundingan dapat dilakukan dalam waktu singkat," ujar Baghaei, dilansir Euronews.