Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
70 Persen Pusat Online Scam di Kamboja Masih Aktif, Korban Disiksa
Bendera Kamboja (unsplash.com/aboodi vesakaran)
  • Amnesty International melaporkan lebih dari 70 persen pusat penipuan daring di Kamboja masih aktif meski operasi penertiban berlangsung, memicu desakan global untuk peningkatan transparansi hukum.
  • Laporan mengungkap korban berasal dari 16 negara mengalami kerja paksa, kekerasan fisik, dan seksual, namun banyak yang dikategorikan sebagai imigran gelap alih-alih korban perdagangan orang.
  • Pemerintah Kamboja membantah temuan Amnesty dan menegaskan telah mencabut izin 25 kasino, memproses 1.500 tersangka lintas negara, serta mendeportasi ribuan warga asing terkait pelanggaran imigrasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Organisasi hak asasi manusia Amnesty International melaporkan bahwa puluhan pusat penipuan daring (scam center) di Kamboja masih beroperasi. Laporan yang dirilis pada Senin (8/6/2026) ini menyoroti masih banyaknya sindikat kejahatan siber yang belum tersentuh penegakan hukum setempat.

Meski operasi penertiban telah berjalan selama beberapa bulan, sebagian besar jaringan tersebut diduga masih aktif. Kondisi ini memicu desakan dari komunitas internasional agar Kamboja memperkuat transparansi dan akuntabilitas penegakan hukum terkait dengan kasus kejahatan siber transnasional.

1. Baru 24 dari 86 lokasi penipuan yang ditindak

Berdasarkan laporan investigasi setebal 176 halaman, Pemerintah Kamboja baru menindak 24 dari total 86 lokasi penipuan yang berhasil diidentifikasi. Temuan ini menunjukkan lebih dari 70 persen pusat penipuan siber berskala global di wilayah tersebut masih beroperasi secara bebas.

Amnesty menduga terdapat kebocoran informasi sebelum penggerebekan yang melibatkan oknum aparat setempat. Hal ini memudahkan pengelola sindikat untuk memindahkan lokasi operasi beserta para pekerja mereka ke wilayah lain.

"Pemerintah Kamboja berupaya membangun citra terkait tindakan tegasnya terhadap kasus penipuan. Namun, di balik pemberitaan utama tentang penggerebekan, terdapat penyintas kerja paksa dan kekerasan yang minim mendapat perlindungan," kata Direktur Riset Regional Amnesty International, Montse Ferrer, dilansir Irish Legal News.

2. Mayoritas korban terjebak tindak pidana perdagangan orang

Dalam proses investigasi, peneliti mewawancarai 73 penyintas dari 16 negara yang pernah ditahan di kompleks penipuan tersebut. Para korban mengaku mengalami kerja paksa dan berbagai bentuk kekerasan fisik.

Laporan itu juga mencatat adanya kekerasan seksual, termasuk kesaksian dari enam perempuan selama masa penyekapan. Namun, Amnesty menyoroti langkah otoritas Kamboja yang kerap menggolongkan korban yang berhasil melarikan diri sebagai imigran gelap, bukan sebagai korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Perlakuan ini membuat para penyintas rentan menghadapi ancaman deportasi tanpa jalur hukum yang memadai. Beberapa korban bahkan harus mencari jalan keluar sendiri setelah ditinggalkan secara sepihak oleh pengelola sindikat.

"Saya telah berada di dalam kompleks selama 12 bulan dan mengkhawatirkan keselamatan saya. Namun, suatu hari beberapa dari kami bangun dan menyadari bahwa pengelola kompleks serta penjaga keamanan telah pergi," ungkap Mehi, salah satu korban selamat.

3. Bantahan dan klaim tindakan tegas Pemerintah Kamboja

Pemerintah Kamboja menolak temuan yang dirilis oleh Amnesty International. Otoritas setempat menyatakan bahwa penertiban pusat penipuan daring memiliki tantangan tersendiri karena sifat jaringannya yang lintas negara dan mudah beradaptasi.

Sebagai bukti penindakan, Pemerintah Kamboja telah mencabut izin operasional 25 kasino yang diduga terlibat aktivitas penipuan. Selain itu, aparat penegak hukum telah memproses sekitar 1.500 tersangka yang berasal dari 19 negara.

Pemerintah juga memaparkan data deportasi terhadap hampir 19 ribu warga negara asing (WNA) yang melanggar ketentuan imigrasi, sementara 290 ribu WNA lainnya tercatat meninggalkan Kamboja secara sukarela.

"Laporan tersebut mengabaikan skala operasi penegakan hukum nasional yang sedang berlangsung, yang mencakup operasi polisi terkoordinasi, penangkapan, penyitaan aset, dan pembongkaran kompleks kriminal di beberapa provinsi," kata Menteri Senior Urusan Penipuan Daring Kamboja, Chhay Sinarith.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article