Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Arab Saudi Disebut Mau Invasi Darat, Serang Houthi di Yaman

Arab Saudi Disebut Mau Invasi Darat, Serang Houthi di Yaman
potret bendera Arab Saudi (pexels.com/aboodi vesakaran)
Intinya Sih
  • Sumber anonim Yaman menyebut pasukan Arab Saudi di Yaman timur bergerak ke utara, diduga sebagai persiapan invasi darat untuk menyerang Houthi.
  • Arab Saudi membentuk koalisi 14 negara guna mengamankan pelayaran Selat Bab el-Mandeb dari ancaman Houthi, dengan klaim bersifat defensif dan mematuhi hukum internasional.
  • Ketegangan dipicu larangan dan serangan Houthi terhadap kapal Saudi; Riyadh lalu menggempur situs militer Houthi di Hodeidah bersama pasukan Yaman pada 24 Juli.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Arab Saudi dikabarkan sedang bersiap melakukan invasi darat untuk menyerang Houthi di Yaman. Kabar itu pertama kali disampaikan oleh sumber anonim dari Yaman kepada The Guardian pada Kamis (30/7/2026).

Menurut sumber tersebut, pasukan Arab Saudi yang ada di Yaman timur kini mulai bergerak ke Yaman utara. Langkah ini diduga merupakan persiapan Riyadh untuk menyerang Houthi lewat jalur darat. 

1. Arab Saudi mengumumkan koalisi untuk amankan pelayaran di Selat Bab el-Mandeb

Selat Bab el-Mandeb.
potret Selat Bab el-Mandeb (commons.wikimedia.org/NASA Johnson Space Center)

Kabar ini mencuat usai Arab Saudi mengumumkan koalisi militer dengan sejumlah negara untuk mengamankan pelayaran di Selat Bab el-Mandeb dari ancaman Houthi. Koalisi tersebut terdiri dari 14 negara, yakni Arab Saudi, Bahrain, Bangladesh, Djibouti, Mesir, Yordania, Kuwait, Nigeria, Pakistan, Qatar, Somalia, Sudan, Turki, dan Yaman. 

Arab Saudi juga sudah meminta sejumlah negara di Kawasan Eropa untuk bergabung dalam koalisi tersebut. Kendati demikian, ajakan tersebut belum mendapatkan respons dari negara-negara Eropa hingga saat ini. 

“Aliansi ini bersifat murni defensif, tidak menargetkan negara, aliansi, atau organisasi internasional mana pun, dan akan melakukan semua kegiatannya dengan sepenuhnya mematuhi hukum internasional sambil menghormati kedaulatan negara dan melindungi kebebasan navigasi,” bunyi pernyataan resmi Arab Saudi dilansir Anadolu Agency.

2. Ketegangan Arab Saudi dan Houthi berpotensi meningkat

Juru Bicara Houthi, Yahya Saree, sedang berpidato di atas mimbar.
Juru Bicara Houthi, Yahya Saree, sedang berpidato di atas mimbar. (commons.wikimedia.org/Wasfi Akab)

Jika Arab Saudi benar-benar menyerang Houthi, ketegangan keduanya berpotensi meningkat. Serangan Arab Saudi ke Houthi juga berpotensi menimbulkan perang baru di Kawasan Timur Tengah. 

Arab Saudi dan Houthi sendiri mulai terlibat konflik sejak pekan lalu. Konflik ini dipicu serangan Houthi ke kapal tanker minyak Arab Saudi yang berlayar di Selat Bab el-Mandeb pada 22 Juli. Houthi melakukan serangan itu sebagai balasan karena Arab Saudi merupakan sekutu Amerika Serikat (AS). Banyak pangkalan militer AS di sana yang selama ini digunakan untuk terus menyerang Iran.

Sebelum ini, Houthi telah melarang semua kapal dari Arab Saudi untuk berlayar di Selat Bab el-Mandeb. Larangan ini diterapkan pada 20 Juli. Meski sudah ada larangan, kapal-kapal Arab Saudi tetap ngotot melintas di selat tersebut sehingga serangan dari Houthi tidak bisa dielakkan. 

3. Arab Saudi membalas serangan Houthi terhadap kapalnya

Kapal terbakar di laut.
potret sebuah kapal yang terbakar di laut (unsplash.com/Nilantha Ilangamuwa)

Serangan Houthi tadi lantas dibalas oleh Arab Saudi pada 24 Juli. Kala itu, angkatan bersenjata Arab Saudi bekerja sama dengan Yaman untuk menggempur situs militer Houthi di Hodeidah. Menurut Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arab Saudi, situs militer yang mereka serang sering digunakan Houthi untuk mengganggu pelayaran di Selat Bab el-Mandeb.

Sebagai informasi, Hodeidah merupakan kota pelabuhan yang ada di Yaman. Kota ini dikontrol oleh Houthi dan sering dijadikan pusat penerimaan bantuan luar negeri untuk warga di Yaman utara. Sebab, wilayah tersebut kini sedang mengalami krisis kemanusiaan karena perang saudara berkepanjangan antara Houthi dan pasukan militer Yaman. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More