EEF menjadi semakin strategis seiring perubahan orientasi ekonomi Rusia setelah perang Ukraina pecah pada 2022. Hubungan ekonomi Moskow dengan banyak negara Barat mengalami pembatasan, sehingga Rusia semakin mengandalkan hubungan dengan China, India, Asia Tenggara, dan negara-negara non-Barat lainnya.
Dalam kondisi tersebut, Timur Jauh memiliki nilai strategis karena menjadi jalur yang menghubungkan Rusia dengan pasar Asia. Barang, energi, dan berbagai komoditas Rusia dapat diarahkan menuju negara-negara di kawasan tersebut melalui jalur perdagangan dan infrastruktur yang dikembangkan di bagian timur negara itu.
China menjadi salah satu mitra ekonomi terpenting bagi Rusia dalam perubahan orientasi tersebut. India dan negara-negara Asia Tenggara juga semakin penting bagi Moskow sebagai tujuan perdagangan, investasi, dan kerja sama ekonomi.
Karena itu, agenda EEF tahun ini banyak membahas konektivitas transportasi dan logistik. Pengembangan koridor baru serta infrastruktur menjadi penting untuk memperlancar pergerakan barang dari Rusia menuju pasar Asia maupun sebaliknya.
Energi dan sumber daya alam juga menjadi agenda utama. Timur Jauh menyimpan cadangan minyak, gas, batu bara, kayu, mineral, dan sumber daya perikanan yang besar sehingga pengembangannya berpotensi memberikan keuntungan ekonomi bagi Rusia sekaligus menarik investor asing.
Namun, Rusia menghadapi tantangan lain selain menarik modal. Pemerintah juga perlu membuat kawasan tersebut lebih menarik sebagai tempat tinggal dan bekerja. Karena itu, isu sumber daya manusia, pariwisata, budaya, ekonomi kreatif, digitalisasi, dan kecerdasan buatan turut masuk dalam pembahasan EEF.
Tahun ini, penyelenggara memperkirakan sekitar 380 kesepakatan dengan nilai sekitar 6,5 triliun rubel atau sekitar US$75 miliar akan ditandatangani dalam berbagai sektor pembangunan.