Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Iran Siap Kembali ke Gencatan Senjata dengan AS, Tapi Ada Syaratnya

Iran Siap Kembali ke Gencatan Senjata dengan AS, Tapi Ada Syaratnya
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sedang diwawancara oleh khamenei.ir pada 2025. (commons.wikimedia.org/khamenei.ir)
  • Iran siap kembali ke kesepakatan gencatan senjata Juni 2026 jika AS memenuhi komitmennya.
  • Kesepakatan sebelumnya mencakup penghentian pertempuran, langkah di Selat Hormuz, pencabutan sanksi, dan pembahasan rekonstruksi.
  • Ketegangan Iran-AS kembali meningkat setelah baku tembak dan serangan AS terhadap dua peluncur Iran di Pulau Larak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah AS perlu memenuhi komitmen Juni lebih dulu?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, negaranya siap kembali pada kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS) yang dicapai pada Juni 2026. Namun, Teheran meminta Washington terlebih dahulu kembali memenuhi komitmennya dalam kesepakatan tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian saat menghadiri KTT Shanghai Cooperation Organisation (SCO) di Kirgizstan, Selasa (1/9/2026). Pernyataan tersebut muncul setelah Iran dan AS kembali terlibat baku tembak untuk pertama kalinya dalam sekitar satu bulan.

“Jika AS kembali pada komitmennya dalam memorandum of understanding, Republik Islam Iran akan segera melakukan hal yang sama,” kata Pezeshkian, dikutip dari Euronews.

Kesepakatan yang dicapai pada Juni tersebut sebelumnya membuka jalan bagi penghentian pertempuran dan pembicaraan lebih luas mengenai perdamaian antara kedua negara.

  1. 1. Iran minta AS kembali penuhi komitmennya

    Masoud Pezeshkian sedang tersenyum.
    potret Presiden Iran, Masoud Pezeshkian (media.mehrnews.com/Ayoub Ghaderi via commons.wikimedia.org/Ayoub Ghaderi)

    Kerangka kesepakatan Juni mengatur gencatan senjata segera dan membuka periode 60 hari untuk pembicaraan yang bertujuan mencapai kesepakatan perdamaian yang lebih luas. Dalam kesepakatan tersebut, Iran menyetujui sejumlah langkah terkait Selat Hormuz, termasuk membersihkan ranjau dan mengizinkan kapal melintas selama periode gencatan senjata.

    Sementara itu, AS berkomitmen mengakhiri blokade laut, mencabut sanksi, memberikan pengecualian terkait ekspor minyak Iran, serta mulai membahas paket rekonstruksi untuk Iran.

    Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama. Meski sempat terjadi jeda pertempuran, Iran dan AS kembali bertukar serangan pada akhir pekan lalu.

  2. 2. Pezeshkian tegaskan Iran tidak pernah cari perang

    Fatemeh Bahrami/Anadolu via Getty Images
    Presiden Iran Masoud Pezeshkian berbicara pada perayaan ulang tahun ke-47 Revolusi Islam 1979 di Teheran, Iran, 11 Februari 2026.

    Pezeshkian mengatakan, Iran tidak menginginkan perang. Ia juga mengeklaim negaranya memiliki rekam jejak dalam memenuhi komitmen dan perjanjian internasional.

    Pernyataan tersebut sejalan dengan sikap Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang sebelumnya juga meminta AS memenuhi komitmennya dalam kerangka kesepakatan Juni.

    “Lalu kita bisa keluar dari situasi ini,” kata Araghchi kepada televisi pemerintah Iran di sela-sela KTT SCO di Bishkek.

    Namun, upaya diplomatik tersebut menghadapi tantangan dari dalam Iran. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), salah satu kekuatan paling berpengaruh di Iran, disebut mendorong konsesi yang lebih besar dari AS.

    Di antaranya adalah tuntutan agar Iran memiliki kendali atas Selat Hormuz serta memperoleh kompensasi finansial atas dampak perang. Tuntutan tersebut berpotensi sulit diterima Washington.

  3. 3. Baku tembak Iran-AS kembali memanas

    ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel
    ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

    Pernyataan Pezeshkian disampaikan ketika ketegangan militer Iran dan AS kembali meningkat. Baku tembak antara kedua negara kembali terjadi setelah periode relatif tenang selama sekitar satu bulan.

    Pada Senin dini hari, AS menargetkan dua peluncur Iran di Pulau Larak, yang berada di dekat Selat Hormuz. Beberapa jam setelah serangan tersebut, Pezeshkian mengatakan Iran tidak mencari perang. Namun, ia menegaskan Teheran tidak akan tinggal diam jika menghadapi agresi.

    “Kami tidak mencari perang, tetapi tidak akan pernah tinggal diam menghadapi agresi dan akan memberikan respons tegas kepada para agresor,” ujar Pezeshkian.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More