ilustrasi peretas (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)
Mabna Institute pertama kali didirikan oleh Gholamreza Rafatnejad dan Ehsan Mohammadi pada sekitar 2013 untuk membantu lembaga riset Iran mengakses sumber ilmiah internasional secara ilegal. Perusahaan berbasis di Teheran tersebut mempekerjakan jaringan hacker-for-hire yang bertugas membobol sistem keamanan berbagai institusi ilmiah dunia. Dalam pelaksanaannya, mereka melancarkan aksi peretasan sistemik yang menyasar profesor, peneliti, hingga staf akademik.
Berdasarkan dokumen dakwaan Departemen Kehakiman AS, kelompok retas ini menyasar lebih dari 100 ribu akun akademisi di seluruh dunia. Mereka berhasil membobol sekitar 8.000 akun email profesor yang tersebar di 144 universitas AS dan 178 universitas asing yang berlokasi di 22 negara. Total data akademik dan hak kekayaan intelektual yang digondol mencapai setidaknya 31,5 terabita.
Kampanye peretasan yang berlangsung dari 2013 hingga Desember 2017 ini mencuri berbagai jurnal ilmiah, tesis, disertasi, serta buku elektronik dari beragam disiplin ilmu. Dokumen yang diambil mencakup bidang sains, teknologi, rekayasa, kedokteran, hingga ilmu sosial. Universitas-universitas di AS diperkirakan merugi hingga 3,4 miliar dolar AS atau setara Rp59,5 triliun yang telah dikeluarkan untuk membeli serta mengelola akses data tersebut.
Data hasil curian tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh pemerintah Iran, tetapi juga diperjualbelikan secara komersial kepada publik. Jaringan peretas menggunakan dua platform situs jejaring, yakni Megapaper.ir dan Gigapaper.ir, untuk memasarkan dokumen riset serta akses akun profesor kepada pelanggan lokal di Iran. Melalui layanan ilegal ini, pembeli dapat secara langsung menembus perpustakaan daring milik universitas asing tanpa izin resmi.