“Sanksi ekonomi AS terhadap Iran yang menargetkan hak asasi manusia mendasar dari warga negara Iran merupakan terorisme ekonomi dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Siapa pun yang membuat sanksi tersebut pantas dituntut dan dihukum,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran yang dirilis pada Kamis (20/8/2026), seperti dikutip Anadolu Agency.
Iran Sebut Sanksi Ekonomi Terbaru AS sebagai Terorisme

- Iran mengecam sanksi ekonomi terbaru AS sebagai terorisme ekonomi dan kejahatan terhadap kemanusiaan karena dinilai menargetkan hak dasar seluruh warga Iran.
- Teheran menilai sanksi itu menunjukkan kegagalan AS menghadapi kekuatan militernya, serta menegaskan tidak akan tunduk dan akan melawan konfrontasi Washington.
- Trump meluncurkan Economic D-Day untuk mengancam negara atau entitas yang membantu Iran, melanjutkan kebijakan sanksi AS yang telah berlaku sejak 1979.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran mengecam sanksi ekonomi terbaru yang diberikan Amerika Serikat (AS) terhadapnya. Iran menyebut sanksi itu sebagai “Terorisme ekonomi”. Sebab, sanksi ini akan berdampak kepada seluruh warga Iran. Selain itu, Iran juga menyebut sanksi ekonomi terbaru ini sebagai upaya Negeri Paman Sam untuk melanjutkan konflik yang sudah berlangsung selama 73 tahun.
1. Iran sebut AS gagal memerangi mereka

ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art) Kemlu Iran menambahkan, sanksi ekonomi terbaru ini menjadi bentuk kegagalan AS dalam memerangi mereka. Sebab, Iran menganggap AS telah gagal menyerang kekuatan militer mereka. Inilah yang akhirnya membuat Washington kini menggeser strateginya dengan menyerang kekuatan ekonomi Teheran.
Meski begitu, Kemlu Iran menegaskan pihaknya tidak akan menyerah dan tunduk terhadap sanksi dari AS. Iran mengatakan bahwa sanksi ekonomi yang diberikan AS tidak akan melemahkan, melumpuhkan, apalagi menghancurkan kekuatan mereka. Iran juga mengatakan akan terus melakukan perlawanan terhadap semua upaya konfrontasi yang dilakukan AS dan presidennya, Donald Trump, terhadap mereka.
2. Trump sebelumnya meluncurkan operasi Economic D-Day untuk melawan Iran

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Official White House Photo) Kecaman ini datang usai Trump meluncurkan operasi bertajuk Economic D-Day untuk melawan Iran pada Rabu (19/8/2026) kemarin. Melalui operasi ini, Washington akan melarang semua negara di dunia untuk melakukan kerja sama ekonomi dengan Teheran. Jika melanggar, maka sanksi berat akan diberikan. Namun, dalam pernyataannya, Trump tidak menjelaskan secara detail sanksi seperti apa yang akan diberikan ke para pelanggar.
Operasi Economic D-Day ini menjadi langkah baru Trump untuk menghancurkan ekonomi Iran agar mereka tidak bisa lagi melawan AS. Sebab, sebelumnya, Trump juga sudah meluncurkan operasi Economic Furry pada awal berperang dengan Iran. Tujuan operasi ini juga sama, yakni untuk menghancurkan ekonomi Iran.
“Hari ini, saya mengumumkan bahwa negara mana pun yang mengizinkan lembaga keuangan, bisnis, bandara, atau entitas pemerintahnya untuk memberikan bantuan apa pun kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat besar. Ini akan menjadi Hari H-Ekonomi dan kita membutuhkan semua sekutu kita untuk berdiri bersama AS untuk mengisolasi dan mengalahkan ancaman Iran,” tulis Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.
3. AS sudah memberi sanksi ekonomi terhadap Iran sejak 1979

potret eks Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter (commons.wikimedia.org/Ansel Adams) AS sendiri sudah memberikan sanksi ekonomi terhadap Iran sejak November 1979. Ketika itu, Negeri Paman Sam masih dipimpin oleh Presiden Jimmy Carter. Dilansir Atlantic Council, sanksi ini diberikan karena sejumlah mahasiswa Iran kala itu menyerang kantor Kedutaan Besar AS yang ada di Teheran. Selain itu, mereka juga menyandera beberapa diplomat AS yang bertugas di sana.
Sejak saat itu, AS mulai melarang Iran untuk melakukan kegiatan ekspor dan impor. Selain itu, Negeri Paman Sam juga mulai membekukan miliaran dolar AS aset Iran. Pembekuan aset tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Tujuan pemberlakukan semua sanksi ini hanya satu, yakni merusak kondisi ekonomi Iran.
Alih-alih melemah, Iran ternyata lebih kuat daripada yang dibayangkan AS. Meski disanksi oleh AS, perekonomian Iran tetap stabil. Berkat sanksi ini, Iran akhirnya juga bisa menjadi negara perkasa di Timur Tengah yang mandiri. Mereka bisa membuat senjata militer hingga memproduksi minyak sendiri.



















