Kepala Biro Politik Hamas Khalil al-Hayya (Khamenei.ir, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Resolusi konflik di Gaza masih terhambat perbedaan pandangan antara Israel dan Hamas. Israel menuntut penyerahan total persenjataan kepada pasukan stabilisasi internasional sebelum pihaknya menarik pasukan atau proyek rekonstruksi dimulai.
Sebaliknya, perwakilan Hamas menuntut agar Israel terlebih dahulu mematuhi kewajiban gencatan senjata dan melakukan penarikan pasukan secara bertahap. Delegasi Hamas yang bertemu tim AS di Mesir menegaskan tidak akan menerima perubahan sepihak atas 15 poin perdamaian yang telah disepakati.
Sikap keras Netanyahu juga dipengaruhi oleh situasi politik domestik menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober mendatang. Mengingat koalisi pemerintahannya tertinggal dalam jajak pendapat, Netanyahu enggan memberikan konsesi apa pun demi menjaga dukungan dari partai sayap kanan.
"Semua pihak sepakat pada tujuan akhir yaitu pelucutan total senjata dan kekuasaan Hamas, demiliterisasi penuh, dan setelah itu baru penarikan penuh Israel. Kini semua bergantung pada Hamas untuk membuktikan apakah mereka benar-benar berniat patuh," tutur pejabat Dewan Perdamaian, dilansir Ynet.