Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AS: Gaza Tak Boleh Dibangun Kembali Sebelum Hamas Lucuti Senjata
pemandangan Jalur Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)
  • Utusan AS Jared Kushner menyatakan rekonstruksi Gaza tidak akan diizinkan sebelum Hamas melucuti seluruh senjata; penolakan dapat memicu dukungan AS bagi operasi militer Israel.
  • AS memberi Hamas tenggat: proses penyerahan senjata diharapkan mulai dalam 30 hari, lalu pembersihan persenjataan dan penutupan terowongan diselesaikan dalam 60-90 hari.
  • Kushner dan Netanyahu membentuk kelompok kerja demiliterisasi serta penanganan sanitasi, air, dan kesehatan, sementara Hamas-Israel masih berselisih soal urutan pelucutan senjata dan penarikan pasukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Utusan khusus Amerika Serikat (AS), Jared Kushner, menegaskan bahwa Washington tidak akan mengizinkan pembangunan kembali Jalur Gaza sebelum Hamas melucuti seluruh senjatanya. Sikap ini disampaikan Kushner usai menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem pada Senin (17/8/2026).

Pertemuan tersebut membahas kelanjutan peta jalan perdamaian untuk mengakhiri konflik di kawasan tersebut. Kushner memperingatkan bahwa penolakan Hamas untuk menyerahkan senjata akan membuka jalan bagi operasi militer lanjutan dari pihak Israel.

1. Kushner beri batas waktu pelucutan senjata hingga 90 hari

Presiden AS Donald Trump dan menantunya Jared Kushner (The White House from Washington, DC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kushner menjelaskan bahwa komunitas internasional enggan mendanai rekonstruksi jika Gaza berisiko kembali dikuasai kelompok bersenjata. Ia menekankan bahwa dana bantuan tidak boleh disia-siakan untuk membangun wilayah yang sewaktu-waktu bisa hancur lagi akibat konflik.

"Tidak ada yang mau menaruh lebih banyak uang ke tempat ini jika nantinya hanya akan diambil alih lagi oleh kelompok teroris atau diledakkan kembali," kata Kushner, dilansir Fox News.

Kushner telah memberi tenggat waktu bagi Hamas untuk membuktikan komitmen pelucutan senjata tersebut di lapangan. Proses awal penyerahan senjata diharapkan mulai berjalan dalam 30 hari, disusul pembersihan sisa persenjataan serta penutupan terowongan dalam rentang 60 hingga 90 hari. Jika gagal, AS akan mendukung militer Israel untuk menuntaskan operasinya di Gaza.

2. Pertemuan di Yerusalem sepakati dua kelompok kerja

PM Israel Benjamin Netanyahu (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pertemuan Kushner dan Netanyahu berlangsung selama empat jam di Yerusalem. Kushner turut didampingi delegasi Dewan Perdamaian (BoP) bentukan AS, termasuk mantan PM Inggris Tony Blair dan mantan diplomat Bulgaria Nikolay Mladenov.

Kedua pihak menyepakati pembentukan dua kelompok kerja guna menindaklanjuti peta jalan perdamaian. Kelompok pertama difokuskan untuk menyusun mekanisme pelucutan senjata milisi dan demiliterisasi menyeluruh di Jalur Gaza.

Sementara itu, kelompok kedua ditugaskan untuk menangani masalah sanitasi, penyediaan air bersih, dan penanganan krisis kesehatan masyarakat. Langkah ini diperlukan untuk mencegah merebaknya wabah penyakit dan pencemaran air tanah yang dapat berdampak bagi warga Gaza dan Israel.

Selain berdialog dengan Netanyahu, Kushner juga menemui Presiden Israel Isaac Herzog. Presiden Herzog mengapresiasi inisiatif tersebut dan menegaskan bahwa jaminan keamanan bagi warga Israel tetap menjadi prioritas utama.

3. Hamas dan Israel beda pandangan soal urutan penarikan pasukan

Kepala Biro Politik Hamas Khalil al-Hayya (Khamenei.ir, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Resolusi konflik di Gaza masih terhambat perbedaan pandangan antara Israel dan Hamas. Israel menuntut penyerahan total persenjataan kepada pasukan stabilisasi internasional sebelum pihaknya menarik pasukan atau proyek rekonstruksi dimulai.

Sebaliknya, perwakilan Hamas menuntut agar Israel terlebih dahulu mematuhi kewajiban gencatan senjata dan melakukan penarikan pasukan secara bertahap. Delegasi Hamas yang bertemu tim AS di Mesir menegaskan tidak akan menerima perubahan sepihak atas 15 poin perdamaian yang telah disepakati.

Sikap keras Netanyahu juga dipengaruhi oleh situasi politik domestik menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober mendatang. Mengingat koalisi pemerintahannya tertinggal dalam jajak pendapat, Netanyahu enggan memberikan konsesi apa pun demi menjaga dukungan dari partai sayap kanan.

"Semua pihak sepakat pada tujuan akhir yaitu pelucutan total senjata dan kekuasaan Hamas, demiliterisasi penuh, dan setelah itu baru penarikan penuh Israel. Kini semua bergantung pada Hamas untuk membuktikan apakah mereka benar-benar berniat patuh," tutur pejabat Dewan Perdamaian, dilansir Ynet.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article