Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS Jatuhkan Sanksi untuk Presiden Kuba dan Keluarganya
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel (Kremlin.ru, CC BY 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0>, via Wikimedia Commons)
  • Amerika Serikat menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, keluarganya, serta sejumlah pejabat dan entitas pemerintah Kuba untuk menekan kepemimpinan negara tersebut.
  • Pemerintah AS menuduh Kuba menyebarkan ideologi Marxis radikal dan mendukung jaringan kekerasan, sementara Presiden Trump menegaskan sanksi bukan untuk menjatuhkan rezim secara paksa.
  • Sanksi baru memperburuk krisis ekonomi dan energi di Kuba, memicu pemadaman listrik panjang serta kelangkaan kebutuhan pokok, yang kemudian dikecam keras oleh Diaz-Canel melalui media sosial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi ekonomi baru kepada Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel beserta keluarganya pada Kamis (4/6/2026). Kebijakan ini merupakan langkah terbaru pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk menekan kepemimpinan di negara kepulauan tersebut.

Sanksi tersebut akan membekukan properti dan rekening bank milik para individu maupun entitas terkait yang berada di wilayah AS. Selain itu, pihak asing yang menyediakan layanan atau bertransaksi dengan mereka juga terancam terkena sanksi serupa.

1. Daftar individu dan entitas Kuba yang disasar AS

mantan Presiden Kuba Raul Castro (Gobierno de Costa Rica, CC0, via Wikimedia Commons)

Departemen Keuangan AS tidak hanya menargetkan Diaz-Canel, tetapi juga istrinya, Lis Cuesta Peraza, dan anak tirinya, Manuel Anido Cuesta. Langkah ini diambil meski Cuesta Peraza sebenarnya tidak memegang gelar resmi sebagai ibu negara di pemerintahan Kuba.

Hukuman ini juga menyasar Alejandro Castro Espin, putra tunggal mantan Presiden Kuba Raul Castro. Putra Alejandro, Raul Alejandro Castro Calis, turut dimasukkan ke dalam daftar hitam oleh otoritas AS.

Selain individu, AS memberikan sanksi kepada Kementerian Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba (MINFAR) dan Institut Persahabatan dengan Rakyat Kuba (ICAP). Komite Pertahanan Revolusi (CDR) yang berada di bawah arahan Kementerian Dalam Negeri Kuba juga tidak luput dari hukuman ini.

Pemerintah AS turut menyasar entitas bisnis yang dianggap menghasilkan pendapatan bagi rezim yang berkuasa. Salah satunya adalah Minera la Victoria SA, sebuah perusahaan tambang emas patungan antara entitas pemerintah Kuba dan perusahaan asal Australia.

2. AS tuduh Kuba sebarkan ideologi Marxis radikal

sudut Kota Havana, Kuba (unsplash.com/JF Martin)

Otoritas AS berdalih bahwa sanksi ini bertujuan untuk meminta pertanggungjawaban pihak yang mendukung jaringan kekerasan rezim Kuba. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuduh pemerintah Kuba mengekspor revolusi Marxis radikal yang membahayakan keamanan AS.

"Kami menyasar jaringan yang memungkinkan dan mendanai operasi subversif serta radikal Kuba," ujar Rubio, dilansir The Guardian.

Presiden Trump menyatakan bahwa sanksi ini bukan untuk mempercepat keruntuhan Kuba secara paksa. Ia menilai Kuba saat ini sudah dalam kondisi hancur akibat kekurangan energi dan uang.

"Kami hanya ingin mereka menjadi negara yang dikelola dengan baik," kata Trump, dilansir CBS News.

3. Krisis Kuba semakin parah akibat blokade

ilustrasi unjuk rasa di Kuba. (unsplash.com/Ricardo IV Tamayo)

Sanksi terbaru dinilai akan memperparah kondisi ekonomi Kuba yang sudah terpuruk. Blokade bahan bakar yang diterapkan AS sejak Januari telah memicu krisis energi yang parah di seluruh negeri.

Akibat blokade tersebut, warga Kuba harus menghadapi pemadaman listrik yang bisa berlangsung hingga 22 jam setiap harinya. Mereka juga kesulitan untuk mendapatkan pasokan air bersih, makanan, dan obat-obatan.

Menanggapi tekanan ini, Diaz-Canel mengecam langkah pemerintahan Trump lewat media sosial. Ia menilai AS hanya berusaha memicu konflik dan memperkuat blokade yang menyengsarakan rakyat Kuba.

"Kuba akan melawan agresivitas dan kejahatan pemerintahan Amerika," tulis Diaz-Canel di platform X, dilansir CNA.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article