Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengurungkan niatnya untuk meningkatkan serangan ke Iran. Kabar tersebut disampaikan oleh seorang pejabat AS yang tidak disebut namanya kepada New York Times pada Sabtu (25/7/2026). Padahal, Trump pada Jumat (24/7/2026) lalu sudah berencana untuk meningkatkan serangan ke Teheran.
Stok Rudal Menipis, Trump Tak Jadi Tingkatkan Serangan ke Iran

Pejabat tersebut menjelaskan, Trump tidak jadi meningkatkan serangan ke Iran karena persediaan rudal pencegat drone milik pasukan AS yang ada di markas militer Timur Tengah sudah mulai menipis. Menurut pejabat itu, stok rudal pencegat AS telah berkurang drastis sejak perang dengan Iran kembali meletus pada 11 Juli lalu.
1. Kepala Staf Gabungan Militer AS sebut peningkatan serangan ke Iran memungkinkan

Kepala Staf Gabungan Militer AS, Dan Caine, mengatakan, peningkatan serangan ke Iran sebetulnya mungkin dilakukan. Pusat Komando (CENTCOM) militer AS yang bertugas di Timur Tengah juga sudah siap melakukan hal tersebut. Kendati demikian, jika serangan ditingkatkan, stok rudal pencegat milik CENTCOM kemungkinan bakal habis tidak tersisa.
Menurut Caine, jika stok rudal habis, AS tidak akan bisa menangkal serangan balasan dari Iran. Ini tentu akan menjadi bahaya bagi seluruh pasukan AS yang bertugas di Timur Tengah. Apalagi, tiga pasukan AS sudah ada yang tewas imbas serangan Iran di markas militer AS di Yordania beberapa waktu lalu.
2. Trump pilih jalur damai untuk akhiri perang dengan Iran

Direktur Bidang Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, mengatakan, Trump akan memilih jalur damai dengan cara negosiasi untuk menyudahi perang dengan Iran. Sebab, Trump menilai negosiasi merupakan cara paling efektif untuk meredam ketegangan kedua negara daripada agresi militer. Namun, menurut Cheung, Trump tetap membuka opsi militer untuk memerangi Iran.
“(Donald) Trump konsisten dalam mengatakan bahwa ia lebih menyukai solusi diplomatik. Namun, ia tetap mempertimbangkan semua opsi jika Iran terus melakukan aktivitas teroris di Selat Hormuz atau terhadap sekutu. Namun, akan lebih bijaksana bagi Iran untuk berupaya mencapai kesepakatan melalui negosiasi. Jika tidak, mereka tahu apa yang akan terjadi,” jelas Cheung, seperti dilansir Jerusalem Post.
3. AS sudah menghabiskan banyak biaya untuk perangi Iran

AS sendiri sudah menghabiskan banyak dana untuk memerangi Iran sejak 28 Februari lalu. Menurut Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam keterangannya pada 21 Juli, sejauh ini, Washington sudah menggelontorkan dana sebesar 37,5 miliar dolar AS atau Rp672 triliun hanya untuk berperang melawan Iran. Dana tersebut dipakai untuk memenuhi kebutuhan persenjatan militer AS agar bisa melawan pasukan Iran, terutama kebutuhan rudal.
Sejumlah anggota parlemen AS sebetulnya sudah mendesak Trump untuk menyudahi perang dengan AS. Sebab, jika perang terus berlanjut, anggaran bisa makin terkuras habis. Ini bisa menjadi bumerang bagi perekonomian AS. Terlebih, kondisi ekonomi di Negeri Paman Sam kini sebetulnya sudah terkontraksi karena perang dengan Iran. Harga minyak yang naik membuat harga bahan bakar ikut naik. Kondisi ini membuat harga barang pokok di AS juga melonjak.


















