Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Korsel Ubah Alamat Email Diplomat Usai Peretasan Data 10 Ribu Personel

Korsel Ubah Alamat Email Diplomat Usai Peretasan Data 10 Ribu Personel
Ilustrasi bendera Korea Selatan. (unsplash.com/Daniel Bernard)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Korea Selatan (Korsel) berencana mengganti seluruh alamat email diplomatnya, setelah kebocoran data besar yang terjadi akibat peretasan sistem pelatihan daring milik Akademi Diplomatik Nasional Korea (KNDA). Langkah ini diambil untuk mencegah penyalahgunaan data dalam serangan siber lanjutan, terutama phishing yang menargetkan pejabat diplomatik.

Menurut sumber yang mengetahui persoalan tersebut, kementerian tengah menyusun jadwal dan mekanisme penggantian alamat email seluruh diplomat. Otoritas menilai langkah tersebut penting, guna menjaga keamanan, komunikasi resmi dengan mitra internasional dan meminimalkan risiko penyalahgunaan identitas, dilansir Korea Herald pada Kamis (23/7/2026).

1. Serangan siber yang meretas hampir seluruh data diplomat Korsel di dalam dan luar negeri

Potret kota Seoul di Korea Selatan. (pexels.com/Gije Cho)
Potret kota Seoul di Korea Selatan. (pexels.com/Gije Cho)

Investigasi menunjukkan pelaku berhasil menyusup ke server KNDA sejak April tahun lalu dan mempertahankan akses selama hampir 10 bulan tanpa terdeteksi. Kemenlu mengakui bahwa mereka tidak menyadari adanya pembobolan tersebut sejak awal. Aktivitas mencurigakan baru diketahui pada Februari setelah diberi tahu oleh Badan Intelijen Nasional Korsel.

Peretasan diduga membocorkan sekitar 10 ribu catatan data yang mencakup nama, ID pengguna, alamat email, jabatan, afiliasi, serta kata sandi terenkripsi. Sebagian besar data tersebut diyakini berkaitan dengan hampir seluruh diplomat aktif Korsel, termasuk personel yang bertugas di luar negeri.

2. Kejahatan siber tersebut mirip dengan pola peretas Korea Utara

Ilustrasi bendera Korea Utara. (unsplash.com/Micha Brändli)
Ilustrasi bendera Korea Utara. (unsplash.com/Micha Brändli)

Kemenlu menyatakan para pelaku memanfaatkan kerentanan zero-day, yakni celah keamanan yang sebelumnya tidak diketahui oleh pembuat perangkat lunak server maupun industri keamanan siber. Setelah memperoleh akses awal, pelaku disebut menggunakan hak akses yang sah sehingga aktivitas mereka sulit dideteksi.

Korea JoongAng Daily melaporkan, meski belum ada bukti yang mengaitkan serangan tersebut dengan pihak tertentu, sejumlah analis keamanan siber menilai metode yang digunakan menyerupai taktik kelompok peretas yang didukung negara, termasuk yang sebelumnya dikaitkan dengan Korea Utara (Korut). Kelompok-kelompok yang beroperasi di bawah Biro Intelijen Umum Korut, termasuk Lazarus, Kimsuky, dan Andariel, telah berulang kali menargetkan lembaga publik dan sistem keuangan Korsel melalui kerentanan rantai pasokan.

Namun, pemerintah menegaskan investigasi teknis masih berlangsung dan belum menyimpulkan pelaku di balik serangan. Sehingga, pihaknya belum menutup kemungkinan adanya keterlibatan aktor negara lain.

3. Akibat peretasan, sistem pelatihan daring KNDA belum beroperasi hingga kini

Ilustrasi pencurian data. (unsplash.com/Boitumelo)
Ilustrasi pencurian data. (unsplash.com/Boitumelo)

Akibat insiden tersebut, Kemenlu Korsel telah menutup platform daring KNDA sejak Februari dan hingga kini sistem tersebut belum kembali beroperasi. Selama penyelidikan berlangsung, pelatihan diplomat dialihkan ke sesi tatap muka atau platform pemerintah lainnya.

"Seluruh pegawai telah diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap email dari pengirim yang tidak dikenal. Kementerian juga mengimbau penggunaan kata sandi yang berbeda untuk setiap akun, serta penggantian kata sandi secara berkala untuk mengurangi risiko keamanan," kata Park Il, juru bicara Kemenlu Korsel.

Terkait penundaan pengumuman kepada publik yang baru dilakukan lima bulan kemudian, Park menjelaskan bahwa hal itu disebabkan oleh kompleksitas teknis kasus, serta sensitivitas masalah diplomatik dan keamanan. Disebutkan, pemerintah saat ini masih melakukan analisis mendalam dan berkoordinasi erat dengan lembaga penegak hukum terkait.

Kasus ini dipandang sebagai salah satu insiden keamanan siber paling serius yang pernah menimpa Kemenlu Korsel. Selain berpotensi mengekspos identitas personel diplomatik dan pejabat pemerintah, kebocoran tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan komunikasi diplomatik dan perlindungan informasi yang berkaitan dengan kepentingan nasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More