Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AS Larang Impor Robot Humanoid China, Beijing Ancam Tindakan Balasan
Ilustrasi robot humanoid. (unsplash.com/Gabriele Malaspina)
  • FCC AS melarang impor robot humanoid, robot berkaki empat, dan inverter daya buatan China sejak 28 Juli 2026 demi keamanan nasional, perlindungan AI, serta rantai pasok strategis.
  • Pemerintahan Trump ingin mengurangi ketergantungan teknologi China dan mendorong produksi domestik; larangan menyasar model baru serta berpotensi memengaruhi Unitree, Sungrow, dan Huawei.
  • China mengecam kebijakan AS sebagai diskriminatif dan proteksionis, mendesak pencabutan pembatasan, serta mengancam tindakan balasan jika Washington tetap bertindak sepihak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) mengumumkan larangan impor robot humanoid, robot berkaki empat, dan inverter daya buatan China. Kebijakan yang diumumkan oleh Komisi Komunikasi Federal (FCC) pada 28 Juli 2026 itu merupakan bagian dari upaya Washington memperkuat keamanan nasional, sekaligus melindungi pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan rantai pasok teknologi strategis.

"Perangkat-perangkat tersebut berpotensi menciptakan kerentanan pada rantai pasok, membuka celah serangan siber, serta mengancam infrastruktur penting AS," kata FCC dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Asahi Shimbun.

Menurut FCC, robot canggih juga berisiko digunakan untuk mengumpulkan data sensitif, memata-matai warga AS, hingga dikendalikan dari jarak jauh oleh pihak asing.

1. Kebijakan pemerintahan Trump yang ingin mengurangi ketergantungan pada China

Presiden China Xi Jinping (kanan) mengadakan pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing, pada 14 Mei 2026. (x.com/SpoxCHN_MaoNing)

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump juga menilai pembatasan ini diperlukan, guna mengurangi ketergantungan terhadap teknologi China dan mendorong produksi industri strategis kembali ke dalam negeri. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperkuat daya saing industri AI Amerika Serikat.

Larangan ini diperkirakan akan berdampak pada sejumlah perusahaan teknologi China. Ini termasuk Unitree yang merupakan salah satu produsen robot humanoid terbesar di dunia. Selain robot, pembatasan juga menyasar inverter daya buatan China yang selama ini mendominasi pasar global melalui perusahaan seperti Sungrow dan Huawei. Untuk diketahui, inverter daya digunakan pada jaringan listrik, energi terbarukan, dan pusat data.

Pejabat AS beralasan bahwa dominasi China pada sektor teknologi strategis dapat menjadi ancaman jangka panjang. Washington juga ingin menghindari ketergantungan seperti yang terjadi pada pasokan mineral tanah jarang, yang selama ini memberi China pengaruh besar dalam rantai pasok teknologi global.

Larangan tersebut berlaku untuk model baru yang diimpor setelah aturan diterbitkan, sedangkan produk yang telah memperoleh izin sebelumnya tidak langsung terdampak. Pemerintah AS juga diperkirakan akan memberikan pengecualian bagi sejumlah pemasok non-China, seperti yang dilakukan pada pembatasan terhadap drone dan router asing.

2. China mengecam keras tindakan diskriminatif AS

Bendera Tiongkok. (Unsplash.com/Macau Photo Agency)

Merespons hal itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengecam kebijakan tersebut dan menuduh AS menyalahgunakan konsep keamanan nasional untuk menekan perusahaan-perusahaan China. Pihaknya juga berjanji akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan, guna membela kepentingan China.

"Proteksionisme tidak akan meningkatkan daya saing AS, itu hanya akan merugikan kepentingan bisnis dan konsumen Amerika," ujar Mao pada konferensi pers pada 29 Juli 2026.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan China (MOFCOM) mendesak AS untuk mencabut pembatasan tersebut dan menghentikan tindakan keliru mereka segera. MOFCOM menyebut langkah itu bersifat diskriminatif, mendistorsi pasar, dan merugikan kepentingan bisnis kedua negara.

"China akan dengan tegas membalas dan melindungi kepentingannya jika AS bersikeras bertindak sepihak terkait larangan impor robot dan inverter daya baru buatan China. FCC telah mengabaikan keberatan berulang kali dari China dan terus memperketat langkah-langkah pembatasannya," kata MOFCOM pada Kamis (30/7/2026), dikutip dari The Straits Times.

3. Ketegangan dagang AS-China meluas ke perebutan dominasi teknologi masa depan

Ilustrasi bendera Amerika Serikat (kiri) dan bendera China. (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Kebijakan terbaru ini menambah panjang daftar pembatasan teknologi antara dua negara. CNN melaporkan, ini bukan pertama kalinya FCC melarang teknologi asing, dengan fokus khusus pada bisnis China. Sebelumnya, Washington memberlakukan berbagai pembatasan terhadap perusahaan China di sektor telekomunikasi, semikonduktor, drone, hingga energi. Di sisi lain, AS menilai langkah tersebut diperlukan untuk menghadapi risiko pencurian data, spionase siber, dan gangguan terhadap infrastruktur vital.

Persaingan antara AS-China, kini semakin meluas dari perang dagang menjadi perebutan dominasi teknologi masa depan. Robot humanoid, AI, semikonduktor, dan infrastruktur energi dipandang sebagai sektor strategis yang akan menentukan keunggulan ekonomi maupun keamanan nasional dalam beberapa dekade mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article