Menlu AS ke Manila Pekan Depan, Bahas Iran Hingga Laut China Selatan

- Menlu AS Marco Rubio akan menghadiri Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN di Manila pada 22–24 Juli untuk membahas isu kawasan seperti Iran, Laut China Selatan, dan krisis Myanmar.
- Kunjungan ini menegaskan komitmen Washington memperkuat kerja sama dengan Asia Tenggara serta mendorong terciptanya Indo-Pasifik yang bebas, terbuka, dan stabil di tengah meningkatnya pengaruh China.
- Pertemuan juga akan menyoroti dampak konflik Iran terhadap jalur energi global, sengketa Laut China Selatan antara China dan negara ASEAN, serta desakan kemajuan damai atas krisis politik Myanmar.
Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio dijadwalkan menghadiri Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN di Manila, Filipina, pekan depan. Sejumlah isu kawasan dan global, mulai dari konflik Iran, sengketa Laut China Selatan, hingga krisis Myanmar diperkirakan menjadi agenda utama pembahasan.
Rubio akan berada di Manila pada 22-24 Juli untuk mengikuti rangkaian pertemuan para menteri luar negeri ASEAN. Kunjungan ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta persaingan strategis antara Amerika Serikat dan China di kawasan Indo-Pasifik.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan kehadiran Rubio merupakan bagian dari upaya Washington memperkuat kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara sekaligus mendukung kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.
Selain menghadiri forum ASEAN, Rubio juga dijadwalkan bertemu Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., yang saat ini memegang keketuaan bergilir ASEAN.
1. AS dorong Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka

Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott mengatakan kunjungan Rubio bertujuan memperkuat komitmen Amerika Serikat terhadap kawasan Indo-Pasifik. Menurutnya, Washington ingin mendorong terciptanya kawasan yang aman, stabil, dan sejahtera bagi seluruh negara.
“Kunjungan ini memajukan prioritas yang jelas bagi Amerika Serikat, yaitu Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka yang menghadirkan keselamatan, keamanan, dan kemakmuran bagi kawasan maupun rakyat Amerika,” kata Pigott, dikutip dari Channel News Asia, Minggu (19/7/2026).
Bagi Washington, strategi tersebut juga berkaitan dengan upaya menghadapi meningkatnya pengaruh China di kawasan.
Tahun lalu, Rubio juga menghadiri pertemuan serupa di Kuala Lumpur dan sempat bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi di sela-sela forum.
2. Konflik Iran diperkirakan jadi sorotan

Perang yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran diperkirakan menjadi salah satu isu utama dalam pertemuan ASEAN kali ini.
Negara-negara Asia, terutama yang bergantung pada impor energi, menghadapi tekanan akibat terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), sekitar 80 persen pengiriman hidrokarbon yang melewati Selat Hormuz ditujukan ke negara-negara Asia.
Situasi tersebut mendorong para pemimpin Asia Tenggara membahas kemungkinan pembentukan cadangan bahan bakar bersama dalam KTT ASEAN di Bangkok pada Mei lalu.
3. Laut China Selatan dan Myanmar masuk agenda

Selain konflik Iran, isu Laut China Selatan juga diperkirakan menjadi pembahasan dalam pertemuan Rubio dengan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr.
Perairan tersebut masih menjadi sengketa antara China dan sejumlah negara anggota ASEAN. Insiden antara kapal-kapal di wilayah itu juga masih kerap terjadi meski Mahkamah Arbitrase Internasional sebelumnya menyatakan klaim China tidak memiliki dasar hukum.
Di sisi lain, para menteri luar negeri ASEAN juga diperkirakan kembali membahas perkembangan situasi di Myanmar.
Sebelumnya, para menteri luar negeri ASEAN menyerukan agar pemerintah Myanmar menunjukkan kemajuan konkret dalam pelaksanaan Konsensus Lima Poin (5PC) yang menjadi kerangka utama ASEAN untuk mendorong penyelesaian damai konflik di negara tersebut. Myanmar sendiri masih dibatasi partisipasinya dalam forum-forum tingkat tinggi ASEAN sejak kudeta militer pada 2021.




















