Bendera Australia (pexels.com/Hugo Heimendinger)
Dalam sesi tanya jawab, Burke menyampaikan komitmennya untuk mengutamakan jalur legislatif dalam merombak aturan migrasi. Ia juga mengisyaratkan penggunaan instrumen hukum lain apabila dukungan dari parlemen tak diperoleh.
“Sejak masa Hawke dan Howard, banyak dari sistem imigrasi kita telah didorong oleh permintaan, dan kecepatan pemrosesan adalah salah satu dari sedikit hal, bersama dengan tingkat perencanaan, yang saat ini tersedia. Semakin banyak alat yang tersedia, semakin baik kita dapat menargetkan sistem,” kata Burke kepada Question Time today , dikutip ABC.
Ia menambahkan bahwa bentuk hasil terbaik yang ada adalah opsi legislatif jika mampu diselesaikan, sedangkan tanpa opsi tersebut pemerintah masih memiliki lebih banyak tuas untuk membuat pengumuman resmi.
Pemerintah turut mempertimbangkan penghapusan hak kerja melalui visa bridging bagi migran yang permohonan perlindungannya telah ditolak. Setiap bulan, rata-rata terdapat 1.580 klaim perlindungan dalam negeri. Mayoritas permohonan ini diajukan oleh pemegang visa mahasiswa atau pengunjung dari China, India, dan Malaysia.
Sekitar 90 persen klaim tersebut berakhir dengan penolakan oleh kementerian. Kendati demikian, pemohon masih dapat menetap dan bekerja hingga delapan tahun melalui proses banding di Tribunal Peninjauan Administratif hingga Pengadilan Federal. Rencana pengetatan bagi pembuat liburan kerja asal Inggris akhirnya dibatalkan Perdana Menteri untuk menjaga Perjanjian Perdagangan Bebas kedua negara, meski pemrosesan visa dari luar negeri tetap mengalami penundaan signifikan akibat Arahan Menteri 119.