Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Australia Peringatkan Ancaman AI terhadap Infrastruktur Kritis
Bendera Australia (unsplash.com/Amber Weir)
  • ASD memperingatkan AI mempercepat serangan siber, termasuk pencarian celah sistem, mata-mata, perusakan data, dan pencurian dana oleh peretas serta pihak asing.
  • Serangan menargetkan pemerintah, infrastruktur vital, bisnis, dan publik; ASD menerbitkan lebih dari 4.400 peringatan, menangani 1.500 insiden, serta menerima 82.000 aduan siber.
  • Australia mengadopsi AI untuk mengotomatiskan pertahanan, sambil mendorong pembaruan perangkat, penggantian sistem lama, dan prioritas keamanan jaringan meski berpotensi mengganggu layanan daring.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan intelijen dan keamanan siber Australia, Australian Signals Directorate (ASD), memperingatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) memicu ancaman digital yang kian mengkhawatirkan. Dalam Laporan Ancaman Siber Tahunan 2025–2026 yang dirilis pada Selasa (27/10/2026), ASD menyoroti pemanfaatan AI oleh pihak asing untuk meretas jaringan komputer dan fasilitas vital.

Di sisi lain, ASD turut memanfaatkan teknologi AI guna menganalisis berbagai data keamanan dalam laporan tersebut. Namun, lembaga ini mengingatkan bahwa teknologi serupa juga telah mempermudah peretas dan pelaku kejahatan melancarkan serangan siber dalam skala yang jauh lebih luas.

1. Pemanfaatan teknologi AI dalam serangan siber

ASD menegaskan bahwa AI menjadi faktor utama yang mengubah peta ancaman siber karena kemampuannya menemukan celah keamanan sistem dalam waktu singkat. Keunggulan tersebut kerap disalahgunakan peretas untuk aksi mata-mata, perusakan data, hingga pencurian dana dengan kecepatan tinggi.

Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles, menyatakan bahwa pesatnya perkembangan AI tidak dapat dihindari sehingga menuntut kesiapsiagaan dari semua pihak.

"AI kini sudah hadir secara nyata di tengah kita dan dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk mencari kelemahan sistem. Kami mengimbau masyarakat segera memperbarui perangkat komputer dan memperkuat sistem keamanan digital masing-masing," ujar Marles, dilansir France 24.

2. Ancaman peretasan terhadap lembaga dan infrastruktur vital

Laporan ASD mengungkapkan bahwa serangan siber kini kian gencar menyasar lembaga pemerintah, pengelola infrastruktur penting, sektor bisnis, hingga masyarakat umum. Kelompok peretas yang terafiliasi dengan pemerintah asing dilaporkan berulang kali menargetkan sistem digital di Australia dan negara-negara sekutunya.

Meningkatnya ancaman siber tersebut terlihat dari tingginya beban kerja ASD, yang tercatat merilis lebih dari 4.400 peringatan bahaya (naik 80 persen) dan menangani 1.500 insiden keamanan (naik 20 persen). Selain itu, lembaga ini menerima 82.000 aduan kejahatan siber dari publik, atau rata-rata satu laporan setiap enam menit. Bukti nyata ancaman AI juga terlihat dalam skala global ketika sistem kecerdasan buatan mampu mendeteksi celah keamanan kritis pada bahasa pemrograman PHP secara otomatis sebelum sempat diperbaiki.

3. Penguatan sistem pertahanan siber berbasis otomatisasi

Menteri Keamanan Siber Tony Burke menegaskan bahwa perlindungan fasilitas vital dan peningkatan literasi keamanan masyarakat merupakan fondasi utama pertahanan negara. Dari sisi operasional, Direktur Jenderal ASD Abigail Bradshaw menjelaskan bahwa pihaknya telah mengadopsi model AI mutakhir guna mengotomatiskan respons pertahanan dari potensi ancaman.

"Kita membutuhkan perangkat AI untuk mengotomatiskan sistem pertahanan agar selalu selangkah lebih maju daripada para peretas," tegas Bradshaw.

Bradshaw juga mengimbau para pengelola jaringan untuk memprioritaskan keamanan sistem di atas kelancaran operasional harian. Masyarakat dan pelaku usaha diharapkan memaklumi potensi gangguan layanan daring berkala, yang dibutuhkan demi melakukan pembaruan keamanan mendesak serta mengganti sistem lama agar tidak mudah dibobol.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article