Waspada Ancaman Perang, Inggris Minta Warga Siapkan Stok Darurat

Pemerintah Inggris memperingatkan potensi ancaman militer pada 2030 dan meminta masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai keadaan darurat.
Kampanye Be Ready menganjurkan warga menyiapkan kebutuhan pokok untuk 72 jam secara bertahap, termasuk air, makanan tahan lama, uang tunai, dan alat komunikasi.
Program tersebut bukan respons terhadap peringatan intelijen tertentu dan melibatkan lebih dari 500 organisasi untuk memperkuat ketahanan masyarakat.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Inggris memperingatkan negara-negara yang dianggap sebagai lawan berpotensi memiliki kemampuan militer untuk menyerang pada 2030. Inggris dan sekutu NATO pun disebut memiliki waktu sedikit lebih dari 1.000 hari untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan tersebut.
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting menegaskan, pemerintah perlu memastikan negaranya siap menghadapi ancaman keamanan yang terus berkembang. Ia juga menyoroti risiko serangan siber, kejahatan terorganisasi, dan perubahan iklim yang dapat mengganggu infrastruktur penting.
“Untuk mencegah kemungkinan terburuk, kita harus mempersiapkan diri menghadapinya. Prioritas utama saya adalah memastikan negara ini siap untuk berperang dan menang,” tulis Streeting dalam artikel yang dimuat The Telegraph.
Peringatan tersebut muncul di tengah langkah pemerintah Inggris memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi keadaan darurat. Melalui kampanye Be Ready, warga diimbau menyiapkan persediaan kebutuhan pokok yang cukup untuk bertahan setidaknya selama tiga hari atau 72 jam.
1. Inggris minta warga siapkan stok darurat

ilustrasi supermarket (Pexels.com/freestocks.org) Dikutip dari Anadolu pada Rabu (28/10/2026), Kampanye Be Ready diluncurkan Cabinet Office pada 22 Oktober untuk membantu masyarakat menghadapi gangguan layanan penting, seperti listrik, air bersih, telepon, dan internet. Gangguan tersebut dapat terjadi akibat cuaca ekstrem, termasuk badai dan hujan lebat, maupun serangan siber.
Pemerintah menyarankan setiap orang menyiapkan tiga liter air minum per hari serta makanan tahan lama yang bisa dikonsumsi tanpa perlu dimasak. Warga juga dianjurkan menyediakan uang tunai, senter, baterai cadangan, pengisi daya portabel, dan radio.
Namun, masyarakat tidak diminta membeli seluruh perlengkapan tersebut sekaligus. Pemerintah menyarankan warga membangun persediaan secara bertahap dengan menambahkan sejumlah kebutuhan ketika berbelanja sehari-hari.
Menteri Keamanan Inggris Dan Jarvis mengatakan, langkah sederhana untuk mempersiapkan diri dapat mengurangi tekanan terhadap layanan darurat. Dengan begitu, petugas bisa memprioritaskan masyarakat yang paling membutuhkan bantuan ketika krisis terjadi.
2. Kampanye kesiapsiagaan bukan respons peringatan intelijen

ilustrasi Norwich, Inggris, Eropa (pexels.com/Manousos Kampanellis) Pemerintah Inggris menyatakan kampanye Be Ready bertujuan memperkuat ketahanan masyarakat, bukan sebagai respons terhadap peringatan intelijen tertentu. Program ini menjadi tahap pertama dari kampanye tiga tahun untuk meningkatkan kesiapsiagaan rumah tangga menghadapi berbagai keadaan darurat.
Pemerintah juga bekerja sama dengan lebih dari 500 organisasi, mulai dari badan amal hingga perusahaan, untuk menyebarkan informasi kesiapsiagaan. Kampanye tersebut turut menyasar kelompok yang berpotensi lebih rentan, seperti keluarga dengan anak kecil, lansia, dan masyarakat dengan kondisi tempat tinggal yang tidak stabil.
Selain itu, pemerintah mendorong warga yang memenuhi syarat untuk mendaftar ke Priority Services Register. Layanan ini membantu perusahaan listrik, gas, dan air mengidentifikasi pelanggan yang mungkin memerlukan dukungan tambahan ketika terjadi keadaan darurat.
Direktur Ketahanan Inggris British Red Cross, Laura Scott, mengatakan masyarakat dapat melakukan langkah sederhana untuk membantu diri sendiri sekaligus orang-orang di sekitarnya.
“Kita tidak bisa mengendalikan kapan keadaan darurat terjadi, tetapi kita semua dapat mengambil beberapa langkah sederhana untuk bersiap. Dengan begitu, ketika keadaan darurat terjadi, kita siap membantu teman, keluarga, dan tetangga,” kata Scott.
3. Inggris ikuti panduat kesiapsiagaan negara Eropa

ilustrasi wilayah negara Inggris (unsplash.com/Neil Mewes) Imbauan menyiapkan kebutuhan untuk bertahan selama 72 jam bukan hanya diterapkan Inggris. Pemerintah menyebut Prancis, Irlandia, dan Belanda juga menggunakan panduan serupa untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi gangguan layanan penting.
Pada Maret 2025, Komisi Eropa turut mengeluarkan panduan agar warga Uni Eropa menyiapkan perlengkapan darurat untuk kebutuhan selama tiga hari. Persediaan tersebut mencakup makanan, air, uang tunai, dan pengisi daya portabel.
Pemerintah Inggris menyatakan telah mempelajari pengalaman negara lain dalam membangun ketahanan masyarakat. Panduan kesiapsiagaan juga telah tersedia sejak Mei 2024, sementara kampanye Be Ready memperbarui penyampaian informasi dan memperluas jangkauannya.
Perdana Menteri Andy Burnham turut mendorong pendekatan yang lebih proaktif dalam menghadapi keadaan darurat, termasuk kebakaran hutan. Ia mengatakan pemerintah telah menyiapkan rencana respons baru terhadap kebakaran hutan yang mencakup pengerahan pesawat militer.
Burnham menegaskan, imbauan tersebut bukan untuk membuat masyarakat panik, melainkan mendorong mereka mengambil langkah masuk akal agar memiliki persediaan yang cukup ketika menghadapi situasi sulit.





















