Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
China Peringatkan Medan Perang Baru Usai AS Akui Keberadaan Senjata Orbitnya
ilustrasi pemandangan Bumi dari luar angkasa (pexels.com/SpaceX)
  • China mendesak AS menghentikan perluasan kemampuan militer dan persiapan perang di ruang angkasa setelah Washington mengakui memiliki senjata pengendali orbit Bumi.
  • Space Force menyatakan senjata tersebut melindungi Joint Force dari musuh, sambil menilai China dan Rusia mengembangkan kemampuan ruang angkasa serta kontra-ruang angkasa.
  • Rusia menyerukan demiliterisasi orbit secara internasional, sementara aturan senjata ruang angkasa dinilai masih kosong dan isu ini kemungkinan dibahas dalam pertemuan perlucutan senjata PBB November.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Kementerian Luar Negeri China menentang langkah Amerika Serikat (AS) yang mengakui keberadaan senjata di orbit Bumi. Juru bicara kementerian China, Guo Jiakun, menyampaikan permintaan agar Washington menghentikan pengembangan kemampuan militer serta persiapan perang di ruang angkasa.

“Kami mendesak pihak AS untuk menghentikan perluasan kemampuan militernya dan persiapan perang di ruang angkasa luar,” kata Guo dalam jumpa pers, dikutip DW.

Rusia turut menyerukan agar orbit Bumi dijaga dari berbagai bentuk persenjataan demi mencegah eskalasi militer. Dilansir Bangkok Post, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan Moskow meyakini ruang angkasa harus bebas dari senjata apa pun dan mengandalkan konsolidasi internasional yang luas untuk mendorong demilitarisasi secara total.

1. AS mengonfirmasi senjata orbit bumi

ilustrasi orbit bumi (pexels.com/NASA)

Pernyataan Beijing dan Moskow disampaikan pada Selasa (15/6/2026) setelah AS untuk pertama kalinya mengakui keberadaan senjata negaranya di orbit Bumi. Juru bicara Angkatan Luar Angkasa AS (Space Force) menyebut bahwa Washington memiliki senjata pengendali ruang angkasa yang dapat melindungi Joint Force dari tindakan musuh, tanpa merinci jenis sistem maupun jumlah persenjataan tersebut.

Menteri Angkatan Udara AS, Troy Meink, turut mengonfirmasi keberadaan senjata itu saat berbicara dalam Konferensi Air, Space and Cyber. Space Force membenarkan penempatan tersebut dengan menyebut Rusia dan China sebagai dua pesaing geopolitik terbesar yang dianggap mengancam kepentingan AS di ruang angkasa.

2. Space Force menilai China mengembangkan kemampuan kontra-ruang angkasa

ilustrasi astronaut (pexels.com/Pixabay)

Space Force menilai China mengembangkan dan menjalankan kemampuan ruang angkasa serta kontra-ruang angkasa sebagai bagian dari upaya modernisasi militernya. Rusia, menurut penilaian yang sama, memandang ruang angkasa sebagai wilayah perang dan meyakini penguasaan domain tersebut bakal menjadi faktor penentu dalam konflik masa depan.

Pengendalian ruang angkasa mencakup seluruh misi untuk menghadapi dan menguasai domain tersebut melalui cara kinetik maupun nonkinetik, dengan tujuan memengaruhi kemampuan lawan dalam kepentingan ofensif ataupun defensif. Metode nonkinetik dapat berupa laser untuk membutakan satelit serta teknik elektromagnetik dan siber yang mengganggu hubungan data.

3. Song Zhongping menilai senjata orbit AS bukan kejutan

Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)

Mantan instruktur tentara China di Hong Kong sekaligus komentator militer independen, Song Zhongping, menyampaikan kepada Agence France-Presse (AFP) bahwa pengakuan AS bukan sesuatu yang mengejutkan karena kepemilikan senjata tersebut telah lama diketahui secara luas. Song memperingatkan Beijing tak akan tinggal diam terhadap stasiun ruang angkasa miliknya, sedangkan keputusan China menempatkan senjata di orbit sepenuhnya bergantung pada langkah AS.

Militerisasi ruang angkasa telah menjadi isu sejak Uni Soviet meluncurkan Sputnik pada 1957 hingga India mengumumkan penghancuran satelit di orbit rendah pada Maret 2019 setelah Rusia, China, dan AS memiliki kemampuan serupa. Pakar hukum ruang angkasa, Laetitia Cesari, melihat adanya kekosongan aturan karena Perjanjian Ruang Angkasa Luar 1967 tak mengatur kategori senjata ruang angkasa selain senjata pemusnah massal dan nuklir.

Isu aturan persenjataan tersebut kemungkinan bakal dibahas dalam pertemuan perlucutan senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada November mendatang. Hal ini mengemuka di tengah laporan The Wall Street Journal mengenai dugaan pasokan citra satelit China kepada Iran yang telah dibantah tegas oleh Beijing.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article